-PENGANTAR UNTUK PARA PENUNTUT ILMU-

Segala puji hanya milik Allah ‘azza wa jalla, pemilik segala ilmu dan hidayah. Sholawat dan salam semoga tertuju pada Rasulullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib Al Hisyami Al Quraisy shallallaahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga, keturunan, para shahabat radhiyallaahu’anhum, dan yang mengikuti beliau dengan ihsan hingga hari kiamat.

Ÿ

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”[QS. al Israa’:36]

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam (As Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka. Amma ba’du.

Al Ilmu

Ketahuilah, sesungguhnya ilmu adalah pintu awal seorang muslim sebelum dia bertindak.

Rasulullah shallalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barang siapa beramal yang bukan dari urusan agama kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari no.2697 & Muslim no.1718(17))

Dan bagaimana kita mengetahui apakah amalan ini dari urusan agama islam atau tidak, tanpa belajar.

Rasulullah ‘alaihi shallatu wa sallam bersabda,

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”(Shahih: HR Ibnu Majah no. 224)

“Dan ilmu yang dimaksud di sini adalah Al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman generasi terbaik umat ini”. (Ad-Da’wah ilallah wa Akhlaq ad-Du’at, (hal. 25-26) oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullaah)

Sedangkan generasi terbaik umat ini yang dimaksud adalah seperti yang telah Rasulullah ‘alaihi shollatu wa sallam sabdakan,

Sebaik-baik manusia adalah kurunku, kemudian orang yang datang setelah mereka, kemudian orang yang datang setelah mereka”.(HR . Bukhari no. 3650 & Muslim no. 2535)

Imam fil Hadits al Bukhari rahimahullaah memberi bab pada kitab beliau “Bab ilmu sebelum berkata dan beramal.” Lalu beliau membacakan ayat,

Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan Yang Haq) selain Allah ….”[QS. Muhammad:19] Imam Bukhari rahimahullaah berkata, “Allah memulainya dengan ilmu.” (HR. Bukhari 1/26)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah berkata, “Ilmu syar’i adalah ilmu yang sangat terpuji, sungguh mulia bagi penuntutnya. Saya tidak mengingkari ilmu lain yang berfaedah, tetapi ilmu selain syar’i ini berfaedah apabila memiliki dua hal; pertama bila ilmu itumembantu ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah ‘alaihi shallatu wa sallam. Kedua, bila ilmu itu membela agama Allah dan berfaedah untuk kaum muslimin. Bahkan kadang kala ilmu ini wajib dipelajari apabila masuk di dalam firman-Nya

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”[QS. al Anfal:60]”(Kitabul Ilmi, hal. 12-14)

Maka yaa ikhwanii, apa yang kita tunggu? Manusia menuntut ilmu dunia (fisika, biologi, dll) rela hingga menghabiskan dana hingga ratusan juta rupiah dan hingga keluar angkasa. Namun sangat sayang mereka telah melupakan ilmu yang paling ushul dalam kehidupan setiap manusia dan (sebagian besar) membuangnya di balik punggungnya demi mengejar dunia yang fana dan hina.

Ilmu agama memiliki banyak faedah, mampu sebagai penolong bahkan sebagai penghambat seorang hamba, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan; tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia habiskan; dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.”(shahih: HR. ath Thabrani no. 1681)

Sedangkan berikut ini merupakan sebagian masalah-masalah yang dibutuhkan oleh para penuntut ilmu (syar’i) dalam mencari ilmu, semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Al Masa’il

Imam asy Syafi’i rahimahullaah berwasiat pada kita dalam sya’irnya:

“Saudaraku, engkau tidak akan mendapat ilmu, melainkan dengan enam perkara.

Kukabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas

Kecerdasan, kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan ustadz, dan waktunya yang lama.” (Diwaan Imam asy Syafi’i, hal. 378)

  1. Kecerdasan

Kecerdasan dibutuhkan dalam menuntut ilmu, terutama ilmu yang menyangkut urusan akhirat dan umat. Bukankah para ulama-ulama pendahulu kita sangat teliti dan dengan cerdas meriwayatkan setiap perkataan-perkataan terutama perkataan Rasulullah ‘alaihi shallatu wa sallam. Mereka meneliti hadits-hadits dengan secara cermat. Mereka menanyakan “dari mana engkau mendapat hadits ini?” kepada setiap periwayat dan dengan sebab itu mereka berkata”fulan tsiqah (terpercaya)”, “fulan dha’if”, “fulan kadzdzab”. Hal ini disebabkan mereka sangat memahami sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata yang tidak diklarifikasikannya, maka akan menjerumuskannya ke dalam Neraka lebih jauh daripada apa yang ada di antara timur dan barat.”(HR. Bukhari no.6477 & Muslim no. 2988(50))

Namun sangat disayangkan, “kecerdasan” berubah menjadi “kritis” pada hari ini. Disebabkan ‘Aqidah dan pemahaman yang sesat (dan menyesatkan), para “ruwaibidhah (orang bodoh yang berbicara tentang masalah umat, shahih, Ibnu Majah,1887” yang menyamar menjadi “cendekiawan muslim” menakwil Al-Qur’anul adzim dan Hadits Nabi ‘alaihi shallatu wa sallam secara serampangan dan tidak bertanggung-jawab, wa na’udzubillaahi min dzalik.

  1. Kemauan keras

Semangat tidak hanya ditampakkan sekali dua kali, setiap waktu kita harus berusaha keras untuk bersemangat terutama dalam kebaikan. Allah berfirman.

…. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan….”[QS. al Baqarah:148]

Dan Rasulullah ‘alaihi shallatu wa sallam bersabda,

“…Barangsiapa yang berusaha (keras) mencari kebaikan maka ia akan memperoleh kebaikan,…” (Hasan: Ibnul Jauzi, al-‘Ilal Mutanaahiyah (I/85, no.93))

Imam an Nawawi rahimahullaah berkata, “Hendaknya seorang penuntut ilmu berkemauan keras untuk belajar.”(Syarah Muqaddimah al Majmu’, hal. 145)

Wahai! Lihatlah mereka para pendahulu kita yang shalih, “Diperkirakan bahwa jumlah orang yang hadir di majelis ilmu Ashim bin Ali sebanyak seratus enam puluh ribu orang.(Tarikh Baghdad, 12/248); diperkirakan bahwa jumlah orang yang menghadiri majelis ilmu Sulaiman bin Harb sebanyak empat puluh ribu orang. (al Jarh wa Ta’dil, 4/108); diperkirakan bahwa jumlah yang hadir di majelis ilmu Imam Bukhori sebanyak dua puluh ribu orang lebih. (al Jami’li Akhlaq Rawi. 2/53)”.(Dinukil dari Qashashun wa Nawadir li Aimmatil Hadits, hal. 70-72 oleh Dr. Ali bin Abdillah ash Shoyyah)

  1. Bersungguh-sungguh

Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah ‘alaihi shallatu wa sallam,

“….Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu….”(HR. Muslim no.2664)

Perhatikanlah kisah berikut ini, “As Sam’ani menceritakan bahwa Imam al Baihaqi pernah tertimpa penyakit di tangannya, sehingga jari-jemarinya dipotong semua, hanya tinggal pergelangan tangan saja. Sekalipun demikian, beliau tidak berhenti dari menulis, beliau mengambil pena dengan pergelangan tangannya dan meletakkan kertas ditanah seraya memeganginya dengan kakinya. Lalu menulis dengan tulisan yang indah dan jelas. Demikianlah hari-harinya, sehingga setiap hari dia dapat menulis dengan tangannya kurang lebih sepuluh lembar. “Sungguh, ini adalah pemandangan sangat menakjubkan yang pernah saya lihat darinya,” kata as Sam’ani.” (at Tahbir fil Mu’jam Kabir, 1/213)

  1. Bekal yang cukup

Sama halnya dengan mempelajari ilmu dunia, menuntut ilmu syar’i pasti memerlukan pengorbanan baik secara material maupun yang non-material, contohnya uang bensin, pena, buku dan sebagainya. Namun bedanya, apa yang kita korbankan tidaklah sia-sia apabila kita mengikhlaskan pengorbanan ini demi Allah. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan dari apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no.1, 54, 2529 & Muslim no. 1907)

Maka ikhwanii fid Din, percayalah Allah subhanahu wa ta’ala pasti membalas pengorbanan kita di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman,

….apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”[QS. al Anfaal:60]

  1. Bimbingan ustadz

Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memerintahkan untuk bertanya kepada mereka (ahli ilmu) dan merujuk kepada pendapat-pendapat mereka. Allah juga menjadikannya sebagaimana layaknya persaksian dari mereka. Allah berfirman,

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui,”[QS. An Nahl:43]

Sehingga makna ahli dzikir adalah ahli ilmu yang memahami wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi.” (al ‘Ilmu, fadhlulu wa syarafuhu, hal. 24)

Malik bin Anas rahimahullaah berkata, “…,mencatat ilmu dari ahlinya.”(hasan: riwayat Ibnul ‘Abdil Barr, Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/245 no. 275 & I/322 no. 418)

Pentingnya bimbingan dari yang ahli, merupakan salah satu kunci selamat atau tidaknya pemahaman kita karena pemikiran kita yang lemah dan bodoh sangat mudah dipengaruhi oleh kepengalaman guru (yang baik atau buruk). Maka mencari guru yang terpercaya dan cukup ahli menjadi salah satu kunci membuka pemahaman kita.

Namun, tetap kita dilarang untuk taqlid (kepatuhan buta) kepada manusia, hatta imam mahzab. Syaikh al Albani rahimahullaah berkata, “Mereka (Para Imam Mahzab) mewajibkan para pengikutnya untuk meninggalkan pendapat-pendapat mereka apabila bertentangan dengan hadits Nabi ’alaihi shallatu wa sallam.” (Shifatu Shalaatin Nabiy shallallaahu ‘alaihi wa sallam, hal. 50 oleh Syaikh al Albani rahimahullaah)

  1. Waktunya yang lama

Pahamilah, bahwa suatu hal (jika ingin) terbentuk secara baik pasti memerlukan proses, memerlukan waktu yang bervariasi. Ada sebuah pepatah berbunyi “Apa yang cepat datang, cepat pula perginya.”.

Imam ‘Abdullah bin Mubarak rahimahullaah berkata, “Aku mempelajari adab selama 30 (tiga puluh) tahun kemudian aku menuntut ilmu selama 20 (dua puluh) tahun.” (Min Hadyis Salaf fii Thalabil ‘Ilmi, hal. 23)

Bukankah Al Qur’an diturunkan berangsur-angsur selama 23 tahun kepada Nabi ‘alaihi shallatu wa sallam? Mengapa kita tidak mau sabar?

Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama Salaf berkata,’Siapa yang tidak sabar terhadap kehinaan dalam belajar, maka sisa umurnya ada pada kebutaan dan kebodohan. Dan siapa yang sabar terhadap hal itu, maka urusannya akan menjangkau kemuliaan dunia dan akhirat.’” (Tadzkiratus Saami’, hal. 140)

Ibnu Mas’ud radhiyallaahu’anhu mengatakan, “Sungguh, aku mengetahui bahwa seseorang lupa terhadap ilmu yang pernah diketahuinya dengan sebab dosa yang dilakukannya,” (diriwayatkan Ibnul Mubarak dalam az Zuhd, no. 74 & Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmu wa Fadhlihi (I/675, no. 1195))

Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah menjelaskan dalam kitabnya, ad Daa’ wad Dawaa’ bahwa seseorang tidak mendapatkan ilmu disebabkan dosa dan maksiat yang dilakukannya.

PENUTUP

Sebagai penutup, penulis kembali mengingatkan diri sendiri dan pembaca untuk selalu bersemangat dan istiqamah dalam berilmu dan beramal serta berdakwah (jika telah pantas) karena tidaklah ilmu dikatakan bermanfaat selain diikuti amal sebagai bukti baiknya ilmu tersebut.

Syaikh Ibnul Utsaimin rahimahullaah mengatakan, “Amal pada hakikatnya adalah buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, ia telah menyerupai orang Nashrani. Dan barangsiapa mengetahui ilmu namun tidak mengamalkannya, ia telah menyerupai orang Yahudi.” (Syarah Tsalaatsatil Ushuul, hal.22)

Demikianlah penulis berharap semoga coretan ini dapat bermanfaat di sisi Rabbul ‘Alaamin Allah ‘azza wa jalla, baik bagi penulis maupun pembaca. Wallahu a’lam.Semoga kita termasuk dalam sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya”(shahih: HR. Ahmad, I/306; Bukhari, no.71; Muslim, no. 1037)

Shalawat dan salam semoga terlimpah pada Rasulullah ‘alaihi shallatu wa sallam, keluarganya, para shahabatnya radhiyallaahu’anhum, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari Akhir.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (shahih: HR. Ahmad, VI/322)

“Mahasuci Engkau, Ya Allah, aku memujimu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertobat kepada-Mu.”

Surabaya, 14 Sya’ban 1431 H

_______________________                                                                                  Hakim bin Ahmad

MARAAJI’ (daftar pustaka)

–          Al Qur’an & terjemahannya, Syaamil Qur’an.

–          Adab & Akhlak Penuntut Ilmu, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. I,Pustaka At Taqwa, th. 1431 H.

–          Majalah Al Furqon, edisi 01 th. ke-10,th. 1431 H.

–          Buku Materi Dauroh Tauhid II, Forum Studi Islam Masjid Muhajirin, Malang, th. 1431 H.

Komentar Anda