Cara Baca Qur-an

Gambar

Ust. Abdullah Amin (Kediri)

Edit oleh : himas EL hakim

Innal hamdalillah, nahmaduhu wanasta’inuhu, wanastaghfiruhu, wa na’udzubillahi min syururi anfusina, wa min sayyiati a’maalina, mayyahdihillah falaa mudhillalah, wa mayyudhlil falaa hadi ya lahu. Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad ‘abduhu wa rosuluhu,

 “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,”QS16 An-Nahl:44

Bismillahhirrohmanirrohim, telah kita sepakati bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang tiada pengingkaran baginya kecuali orang-orang yang ingkar karena pada hakekatnya seorang muslim tidak mungkin mengingkari Al Qur’an. Allah SWT berfirman :

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”QS29 Al Ankabut:49

Kewajiban setiap muslim adalah mempelajari Al Qur’an, Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”HR Bukhari.

Namun, dengan metode atau cara apa yang harus kita gunakan untuk memahami Al-Qur’an?apa kita gunakan logika manusia kita? Atau perkataan orang-orang mayoritas? Atau perkataan orang yang paling dekat dengan Al-Qur’an? Tentu kita sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir akan menjawab pilihan terakhir. Ya, melalui orang yang paling dekat dengan Al-Qur’an yakni Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan bahwasanya untuk memahami Al-Qur’an, kita juga memerlukan As-Sunnah sebagai penjelasnya. Makna Ad-Dzikro pada An-Nahl 44 adalah Al-Qur’an dan penjelasannya yang diulas sejelas-jelasnya agar tidak mengaburkan makna Al-Qur’an itu sendiri. Kedudukan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesungguhnya adalah sama, saling terkaitan. Bahkan Al-Qur’an lebih memerlukan As-Sunnah sebagai penjelasnya.

Ikhwah fillah rohimahullah, kita juga mengetahui bahwa Rasulullah SAW juga mewasiatkan pada kita dalam haji wada’ untuk memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sekali lagi ini menunjukkan pentingnya posisi As-Sunnah dalam agama ini. Bukan hanya Al-Qur’an saja! Tapi juga As-Sunnah yang harus dipegang karena berapa banyak amal-amal ibadah kita yang lebih dari separuh merupakan berasal dari As-Sunnah. Contohnya apakah di Al-Qur’an dijelaskan perihal jumlah roka’at sholat fardhu? Tata cara mandi jinabat secara lengkap? Tata urutan haji dengan jelas? Darimana asalnya? Ya dari As-Sunnah itu sendiri.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”QS08 Al-Anfaal :46

Lalu apa akibatnya jika kita hanya memahami Al-Qur’an tanpa As-Sunnah? Berikut adalah contohnya, Allah SWT berfirman :

“ Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.”QS 06 Al-An’am 145

Jika kita melihat hanya dari ayat diatas? Maka makanan-makanan yang diharamkan oleh Allah SWT hanya empat yakni bangkai, darah mengalir, babi dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Maka bagaimana dengan singa? Ular? Bahkan manusia? Jika hanya berpegang dengan ayat diatas(tanpa As-Sunnah) maka selain itu adalah HALAL, maka singa, ular, manusia dan semua yang tidak disebut adalah halal dimakan. Inilah pemahaman tanpa As-Sunnah. Tentu saja kita tahu bahwasanya Rasulullah SAW bersabda bahwasanya keledai jinak, binatang bertaring(binatang buas yang memakan/menangkap mangsanya dengan cara menerkam dengan taring/cakarnya) juga diharamkan untuk dimakan dimana disebutkan dalam hadits shohih. Maka, apa yang terjadi jika semua ayat-ayat suci Al-Qur’an tidak dipahami secara benar?

Perlu diketahui, wahyu Allah tidak hanya meliputi Al-Qur’an saja, As-Sunnah juga merupakan wahyu Allah yang tidak dicantumkan di Al-Qur’an. Ingatkah kita dengan perkataan Aisyah ra. Ketika ditanya perihal akhlak Rasulullah SAW yang dijawab “Akhlak beliau adalah al-Qur’an”. Apa ini artinya? Artinya adalah Rasulullah SAW merupakan praktek dari Al-Qur’an dimana setiap nafas beliau tidak lepas dari yangh diwahyukan oleh Allah SWT dan beliau tidak berkehendak sesuka hawa nafsunya. Allah SWT berfirman :

“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” QS 53 An-Najm 3-4

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”QS Al-Maidah 92

 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata”. QS Al-Ahzab 36

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” QS Al Hasyr 7

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” An-Nisa 80

Maka ini merupakan hujjah bahwa apa yang dilarang oleh Rasulullah SAW juga dilarang oleh Allah SWT, apa yang dihalalkan oleh Rasulullah SAW juga mendapat persetujuan dari Allah SWT karena beliau adalah Wali Allah di muka bumi ini, beliau diamanahi oleh Allah untuk menerangkan, menjelaskan, memberi contoh tentang Al-Qur’an yang pastinya mendapat izin dari Allah SWT. Maka, telah jelas juga bahwa siapa yang mendurhakai Rasulullah SAW juga mendurhakai Allah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” QS Al-Hujuroot 01

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh“. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.”QS An-Nuur 51-52

“Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.” QS Ali-Imron 132

            Ikhwah Fillah rohimahullah, inilah metode yang haq, metode yang lurus, metode yang telah bertahan selama lima belas abad, metode yang diridhoi oleh Allah dan Rosul-Nya. Ketaatan kita pada Allah dan Rasul-Nya akan selalu menunjukkan jalan yang terang, jalan yang jelas, jalan yang Furqon. Lalu bagaimana agar kita lebih memahami lebih jelas lagi? Tentu saja kita mengambil pemahaman dari yang terdekat dengan Rosulullah SAW, para Shohabat Rodiyallahu Anhum. Karena jasa merekalah Islam dapat tersebar, dapat terjaga kesuciannya, dapat terwarisi ilmunya. Bukan dari pemahaman orang-orang yang lahir lima belas abad setelah turunnya wahyu. Atau orang yang baru faham agama apalagi dari orang yang tidak menyandarkan pemahamannya dengan Qoolallah, Qoolarosul, dan Qoolasahabah. Jika dikatakan bertentangan, maka kitalah yang harus disalahkan karena dua pedoman ini bertahan lama sedangkan otak kita hidup berapa lama? Jika dikatakan dalam As-Sunnah ada pengecualian oleh Al-Qur’an, maka ayat Al-Qur’an mana yang berbunyi “Taatilah Allah dan taatilah perkataan Rosul-Nya kecuali…..”. ini disebabkan karena Rasulullah SAW adalah manusia yang selalu terjaga ( makhsum ), bila ada yang salah, Allah langsung menegur beliau. Inilah kesucian Rasulullah SAW.

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari ( kesalahan ) dirimu sendiri. Kami mengutusmu(Muhammad) menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi”             QSAn-Nisa 79

                Maka, telah jelas, Saudaraku seiman bahwasanya untuk memahami Al-Qur’an hanya ada satu jalan, satu cara yakni dengan memahami As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat agar kita tidak terjerumus pada kebimbangan karena berapa banyak muslim yang murtad karena tidak paham dengan agamanya, berapa banyak yang tersesat karena mengambil pemahaman bukan dari As-Sunnah melainkan dari kaum kuffar ( hermeneutika ). Tetapi dilain sisi, berapa banyak kaum kuffar, musuh Islam yang meneliti Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang niat awalnya untuk mencari kelemahannya malah menjadi seorang muslim dan baik keislamannya. Sungguh telah jelas mana yang benar dan mana yang bathil. Inilah metode Ahlus-Sunnah Wal-jama’ah, satu-satunya golongan yang selamat dari api neraka dari 73 golongan dalam memahami Al-Qur’an, dengan berpegang teguh dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pemahaman Sahabat ra. Wallahu a’lam

Allahumma inni as aluka ilman nafi’a, wa rizqon toyyiba, wa amalan mutaqobbalan, Allahuma arinal haqqoh haqqon, war-zuqnat-tiba’aah, wa arinal bathila bathilan, war-zuqnat-tinaabah, Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaha illa Anta astaghfiruuka wa atubu ilaika.

Komentar Anda