The World Can be Fullfilled With Lazy People, but Not for The Heaven

Segala puji bagi Allah, kita memujinya dan memohon hanya kepadaNya serta memohon ampunanNya dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberiNya hidayah, maka tiada yg dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang tersesat maka tiada yg dapat memberinya hidayah.

Judul artikel diatas jika di-bahasa-kan (maaf jika grammarnya ada kesalahan) “DUNIA DAPAT DIPENUHI ORANG MALAS, NAMUN TIDAK DI SURGA” merupakan salah satu dari ribuan upaya dari penulis untuk menghilangkan rasa malas pada diri penulis sendiri khususnya dan pada pembaca pada umumnya. Berikut insya Allah ta’ala akan tersajikan beberapa poin-poin yang insya Allah akan memberikan stimulus agar kita giat dalam menghadapi kehidupan di dunia, terutama bagi mereka yang menginginkan surga, semoga Allah  mengumpulkan kita disana.

Dalam urusan dunia, orang malas pasti tidak akan sukses. Kesuksesan yang didapat orang malas dapat dipastikan datang dari arah yang illegal. Malas belajar, ngejoki. Malas kerja, maling. Malas nikah, zina. Ini masih perkara dunia saudara, bagaimana dengan perkara akhiratnya jika tetap malas.

KEMALASAN, SIFAT DASAR MANUSIA

Semakin bergulir masa, semakin canggih teknologi, dan semakin praktis urusan-urusan di dunia. Konsekuensi yang pasti dari pernyataan di atas adalah semakin praktis urusan, semakin berubah pula pola pikiran manusia. Dengan semakin mudahnya dan praktis urusan, cara yang paling singkat dan mudah (instan) pastilah sangat disukai oleh manusia. Inilah sifat dasar dari bani adam, menginginkan kemudahan.

Allah telah mengetahui bahwa tipikal manusia menghendaki yang mudah, firmanNya:

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (Al Baqoroh:185)

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al Mulk : 15)

Dan Rasulullah  shollallahu ‘alaihi was sallam pun menegaskan melalui hadits yang berbunyi,

“Permudahlah dan jangan mempersulit” (HR Bukhori)

Maka, agama Islam adalah mudah dan telah dimudahkan oleh Allah. Konsekuensinya adalah Islam yang mudah ini TIDAK PERLU penambahan atau pengurangan syariat karena sifatnya yang telah sempurna, firman Allah :

“…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu…” (Al Maidah : 3)

Oleh sebab itu, penambahan/pengurangan juga berdampak pada sifat Islam yang mudah. Kemudahan din Islam jelas tidak lagi mudah sebab perubahan itu, hal inilah yakni ketidak mudahan/kesulitan yang memunculkan sifat malas dalam hati kita. Atau dengan kata lain, bid’ah (perkara yang ditambahkan dalam urusan agama) dan meremehkan syariat akan memberikan “oksigen” pada api kemalasan.

Jika kesesatan itu ditambahkan dengan pola pikir manusia yang “pinginnya cepet” maka akan banyak sekali kebodohan lucu yang muncul. Apakah masuk akal, menghapuskan dosa-dosa dengan MEMBAYAR sejumlah uang kepada ustadznya sebagaimana dilakukan salah satu kelompok sesat. Bagaimana dengan orang yang miskin? Bukankah ini bentuk ketidak adilan? Afa laa ta’qiluun?

Adapun meremehkan syariat juga menimbulkan sifat malas. Meremehkan amalan-amalan yang sunnah lambat laun akan berdampak pada amalan-amalan fardhu. “ah, sholat dhuha kan sunnah hukumnya”, kata tersebut sering terdengar di telinga kita dari lisan seseorang yang menganggap enteng meninggalkan perkara sunnah, terutama yang sebelumnya sering ia laksanakan.

Lambat laun, jika tidak di obati bisa jadi (wa iyyadzubillah) dia meremehkan perkara fardhu dan keluarlah perkataan seperti “tidur dulu ah, biar dapet uzur sholat ashar di rumah”,”duh panas banget, badan gue sakit pula (disakit-sakitkan) gak kuat puasa romadhon nih, batal ah, kan udzur sakit” dan perkataan bathil lainnya. Rasa malas menjalankan ibadah inilah yang diawali dengan meremehkan perkara yang dianggapnya kecil.

Berapa banyak kerusakan,

Disebabkan oleh percikan kecil dari api,

Tidak tahukah bahwa gunung besar,

Terbentuk dari kerikil yang kecil,

            Dan bukankah kefuturan,

            Diawali dengan kemalasan.

Maksiat, pun sama halnya sebagai bentuk penyelisihan syariat. Segala bentuk dosa, kecil atau besar, tersembunyi atau terang-terangan, merupakan bentuk ketidak-taatan terhadap Rosulullah .

Sebab itu saudaraku, pengamalan surat Al Ashr –yakni saling menasehati akan kebenaran- mutlak diperlukan untuk mengikis rasa malas pada diri sendiri maupun ikhwah yang lain. Saling mengingatkan, memberi pengajaran sesuai kemampuan dibutuhkan generasi Islam saat ini agar rasa futur (bosan) dapat direduksi.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi was sallam bersabda,

“Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya (sesama muslim) segala sesuatu yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dan semua orang terutama diri kita, pasti menginginkan kebaikan, maka ingatkanlah sesuai kemampuan kita, kebaikan-kebaikan yang kita cintai agar saudara kita mendapatkan apa yang kita dapatkan sebagai tanda bukti keimanan dalam hati.

ISLAM MEMBENCI KEMALASAN

Rasa malas, yang memiliki kerusakan yang banyak, jelas tidak didukung dalam diinul Islam. Rasulullah shollallahu ‘alaihi was sallam memerintahkan umatnya melalui sabdanya,

“bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.” (HR Muslim)

Bahkan dalam bermunajat kepada Allah pun, beliau banyak memohon perlindungan dari rasa malas.

Sangat jelas dalam Islam, kemalasan yang dapat memunculkan kefuturan, kebid’ahan bahkan kekufuran sangat penting untuk dihindari dan segera diobati jika telah terindikasi. Dan mendatangi majelis ilmu merupakan salah satu jurus jitu yang ampuh untuk mengatasi kemalasan.

MAJELIS ILMU SEBAGAI SOLUSI PENGHILANG KEMALASAN

Bertemu dengan saudara-saudara kita, memperbarui dan mengulang ilmu insyaAllah dapat mengikis kemalasan dalam hati dan jasad. Bukankah kemalasan lebih mudah datang menghampiri ketika kita dalam keadaan sendiri.

Ikan dilaut lebih mudah dicabik elang,

Jika ia menyendiri dan terpisah dari kelompoknya.

Maka dari itu, jika ada saudara kita yang biasanya hadir di majelis ilmu tiba-tiba tidak tampak, carilah ia dan tanyakan keadaannya. Dengan cara seperti itu, ia akan merasa diperhatikan dan eksistensinya ada oleh sahabatnya. Minimal ia merasa sungkan jika tidak datang dalam majelis ilmu yang biasa ia hadiri. Pendekatan personal ini perlu dilakukan agar tetap menjaga ukhuwah islamiyyah di tubuh kaum muslimin. Berapa banyak hadits yang menceritakan tentang besarnya perhatian Rasulullah terhadap sahabatnya, bahkan tukang sapu. Sunnah inilah yang mulai hilang dan asing yang salah satunya disebabkan mudahnya akses hubungan antar personal yang berimplikasi menurunnya direct social communication yang padahal jika ditelisik, memiliki dampak kedekatan relasi yang jauh lebih besar dibandingkan “hubungan jarak jauh” yang merebak saat ini.

Selain itu, melalui majelis ilmu kebarokahannya akan sangat terasa dalam sanubari “calon/mantan pemalas”. Dengan izin Allah, hatinya yang malas akan tersindir dengan cukup melihat saudaranya yang lain disampingnya. Melihat wajah yang penuh semangat, walaupun peluh keringat mengguyur wajah, “hati yang malas” akan merasa termotivasi dan tersindir jika ia tetap malas. Hal inilah yang membuat para ulama sebagai pewaris para nabi, motivasi dan harapan mengejar ilmu menjadi sebab diangkatnya derajat mereka oleh Allah .

Maka saudaraku dijalan Allah, surga Allah akan dipenuhi oleh mereka yang bersemangat, berkorban, berikhtiar dan sungguh-sungguh dalam diinul Islam yang sesuai dengan Al Qur’an was Sunnah ‘ala fahmis Shahabah, yang menyingsingkan lengan mereka untuk mempelajari ilmu, yang kelak dengan izin Allah akan menghilangkan kebodohan dalam diri mereka dan dalam diri umat. Yang sibuk dengan amalan bermanfaat, yang kelak menghilangkan kelemasan dalam diri dan orang lain. Yang terus bangkit dari jatuhnya dan berupaya tidak terjatuh, di lubang yang sama. Mau surga? Jangan malas.

Wallahu ta’ala a’lam.

Sesuap nasi tidak akan masuk dalam mulut,

Tanpa tangan yang menyuapinya,

Ilmu tidak akan datang pada diri,

Yang tidak melangkah pada majelis,

Dan tidaklah amalan dipahami,

Tanpa ilmu yang melandasi.

Komentar Anda