Semulia Akhlaqnya

Image

            Alhamdulillah, wa shalatu was salam ‘ala Rasulillah shalallahu alaihi wa salam wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man tabi ahum  bi ihsan ila yaumil qiyamah. amma ba’du

Saudaraku, menjadi seorang manusia tidak terlepas dari manusia yang lain. Pada dasarnya, manusia terlepas muslim tidaknya pasti menyukai dengan kelembutan dan keramahan sifat. Ingatkah kita dengan sifat agung yang hampir terlepas dari dada manusia Indonesia. Ya, keramahan, kesopanan, saling membantu dalam kebaikan merupakan contoh kecil akhlaq yang dimiliki Indonesian (sebutan untuk orang Indonesa) dahulu (dan seharusnya) hingga sekarang.

Sebaik apapun Indonesian, manusia terbaik tetaplah Nabi kita, Rasul terakhir dan penutup para Rasul. Muhammad bin Abdullah Al Hasyimi Al Qurasyi ‘alaihi shalatu wa salam, adalah nama beliau. Sebelum diutus menjadi Rasul, beliau masyhur dengan kemuliaan akhlaqnya, terlebih ketika satu persatu wahyu diturunkan hingga Islam telah disempurnakan, akhlaq beliau tetap tersohor dimana pun dan kapan pun.

Ingatkah kita tentang hadits yang berkisah tentang pertanyaan yang diajukan oleh Heraklius, kaisar Romawi kepada Abu Sufyan yang pada saat itu Abu Sufyan belum diberi Allah hidayah keislaman. Abu Sufyan, walaupun belum menerima ajaran keponakannya dia tetap menganggap keponakannya adalah manusia yang paling utama akhlaqnya diantara manusia yang pernah dikenal. Heraklius pun mengakui kebenaran dan kejujuran Abu Sufyan hingga Heraklius menyimpan surat ajakan keislaman Nabi dengan hati-hati dan bersedia membasuh kaki beliau ‘alaihi shalatu was salam jika ada dihadapannya. Allah berfirman;

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”Al Qalam-4

Wahai kaum muslimin, yang telah mengikrarkan janji setia kepada Allah dan RasulNya! tidak malukah kita atas kejujuran dan kelapangan hati Abu Sufyan, yang dimana Abu Sufyan belum menerima Islam saat itu.

Wahai kaum yang seharusnya menjadi sebaik-baik umat! Pantaskah kita campakkan nilai-nilai yang harusnya ada pada kita pertama kali yang malah digunakan oleh orang-orang yang belum menerima Islam sebagai akhlaq utamanya.

Malulah kita ketika kita membuang ajaran Nabi kita menuju ajaran manusia yang banyak kesalahannya walaupun mereka bersatu. Allah berfirman;

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” Al An’aam-116

Sesungguhnya telah jelas bahwa Allah dan RasulNya memerintahkan manusia (terutama kaum muslimin) untuk berakhlaq semulia mungkin. Salah satunya firman Allah azza wa jalla;

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Al Qashash-77

Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam pun memerintahkan umatnya agar berakhlaq mulia dan memberikan contoh yang terbaik. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda;

Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap yang lemah-lembut

dalam segala perkara.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, berkata;

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam itu adalah sebaik-baik manusia dalam hal budi pekertinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Pada ulasan-ulasan berikutnya, akan mengupas tentang akhlaq-akhlaq mulia yang harusnya (dan memang wajib) dijadikan acuan utama oleh anak Adam yang memeluk Islam. Akhlaq ini diambil dari kitab-kitab yang telah masyhur dan berkapabilitas tinggi, salah satunya adalah Riyadhus Shalihin karya Imam An Nawawi asy Syafi’i Rahimahullah. Penulis menuliskan secara berangsur-angsur (seperti halnya Al Qur’an) karena keterbatasan untuk memaparkan semua secara sekaligus dan agar dapat lebih mudah dipahami dan dihayati.

Sekian pengantar kemuliaan akhlaq dalam Islam yang semoga dapat membuka mata hati kita akan pentingnya akhlaq dalam urusan beragama. Semoga Allah tabaraka wa ta’ala memudahkan urusan kaum muslimin dalam segala hal kebaikan. Wallahu musta’an.

                                Tidaklah seorang anak Adam dikenal,

                                Dihari dimana tiada guna harta dan pangkat,

                                Kecuali di atas dua perkara,

                                Kebaikan dan keburukannya di dunia,

                                Dan tidaklah didalam keduanya, selain iman dan ingkar,

                                                Gelar apa yang terbaik,

                                                Dihadapan Pemegang nikmat surga,

                                                Selain panggilan penuh cinta,

                                                Wahai orang yang baik,

                                                Dan tiadalah kebaikan, selain keimanan,

                Dan gelar apa yang terburuk,

                Dihadapan Pemilik azab yang kekal,

                Selain seruan murka,

                Wahai orang yang buruk,

                Dan tiadalah keburukan, selain keingkaran.

Komentar Anda