Ramadhan dan Paradigma Pergerakan Islam

Segala puji bagi Allah serta sholawat dan salam semoga tercurah selalu pada Rasulullah ‘alaihi sholatu was salam, keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir dunia.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling spesial didalam Islam. Mulai dari keberkahannya, amalannya, hingga peristiwa yang menyertai didalamnya. Tercatat banyak peristiwa besar baik dalam perjalanan Islam maupun Indonesia.

Saudara pasti tahu kalau Al Qur’an diturunkan di bulan ramadhan, peperangan Badar dimenangkan di bulan ramadhan. Bahkan pembebasan Mekkah (fathul makkah) juga terjadi di bulan suci ini. Pasca itupun masih banyak peristiwa besar yang berpotongan dengan bulan seribu satu malam ini. Tercatat setidaknya perkembangan islam di Thaif, Yaman, Andalus, bahkan penundukan tentara Allah atas penjajah Mongol juga terjadi di bukan ramadhan.

Kegemilangan di masa lampau juga sedikit banyak menetes di masa sekarang. Kemenangan tentara Islam dinasti Ottoman atas Uni Soviet, perebutan garis di Bar Lev merupakan sekelumit momen yang tercatat bersinggungan dengan bulan puasa ini. Adapun dalam sejarah Indonesia ramadhan memiliki arti penting karena proklamasi kemerdekaan dan berdirinya negara baik secara de jure (hukum) maupun de facto (fakta) juga terjadi di bulan penuh ampunan ini.

Kemunculan momen besar di bulan ini tidak hanya sebagai kebetulan semata, namun lahir dari kesadaran kaum muslimin mengenai hakikat ibadah. Ibnu Taimiyyah Rahimahullah, seorang ulama besar menyatakan dalam bukunya bahwa ibadah setidaknya merupakan bentuk amalan yang mendatangkan kecintaan dan ridho Allah baik dari perkataan atau perbuatan, nampak maupun tidak nampak. Dari sinilah pemikiran pejuang islam memahami bahwa ibadah tidak sekedar sholat, puasa, mengaji dan tilawah. Namun ibadah memiliki makna yang luas yang kesemuanya bergantung pada niat dan cara dari perbuatan tersebut. Maka dengan mindset dan paradigma (cara pandang) ini mereka termotivasi untuk berbuat kebaikan yang monumental di bulan yang penuh rahmat ini.

Oleh sebab itu saudara, ramadhan bukan menjadi alasan untuk menghentikan pergerakan kebaikan, bukan menjadi alasan kendurnya semangat karena dahaga, bukan alasan bagi pemuda untuk berhenti berjuang. Namun keberkahan ramadhan juga menjadi bagian dari keberkahan kekuatan, keilmuan bahkan timing yang berkah yang menjadi stimulus bagi setiap pergerakan di seluruh permukaan bumi.

Maka sudah berapa banyak karya dan peristiwa berarti yang telah kita tulis pada bulan yang hampir meninggalkan kita ini? Atau minimal dimanakah diri kita selama ramadhan ini? Di atas garis kebaikan atau malah di belakang garis keburukan?

Komentar Anda