Semakin Habis Semakin Semangat

Segala pujian hanya kepada Allah Yang Maha Terpuji. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah ‘alaihi sholatu was sallam beserta keluarganya, sahabatnya dan pengikut setianya hingga matahari terbit dari barat.

Saudara, tak terasa Ramadhan semakin meninggalkan langkahnya tinggal belasan hari lagi. Semakin habis, semakin maju shof jama’ah di masjid. Semakin habis, semakin timpang amalan dan semangat membara di awal Ramadhan. Itulah hati manusia yang berbolak balik. Ibarat keimanan yang fluktuaktif, semangat juga memiliki fluktuatifitas tinggi. Hal ini semakin tinggi ketika dihadapkan dengan rutinitas yang monoton.

Oleh sebab itu, dalam menjaga semangat terdapat obat – obat yang cukup mujarab jika dilaksanakan dengan keikhlasan. Diantara obat – obat tersebut ialah :

  • Memahami Keagungan Bulan Ramadhan

Terlampau banyak nash – nash Qur’an dan Sunnah yang menerangkan keutamaan bulan ini. Mulai dari keutamaan ganjaran amalan, keutamaan momentum, keutamaan berkah hingga pengampunan menyeluruh telah menghiasi bulan ini. Maka dengan mengingatnya diharapkan semangat berbuat kebaikan dapat didorong lagi.

  • Memahami Cepat Berlalunya Ramadhan

Perbandingan 1:12 menunjukkan sedikitnya waktu yang tersedia guna mendapat keutamaannya. Jika melihat sikap pembeli dalam memanfaatkan waktu diskon dan obral maka semangat konsumen pahala dapat dimotivasi untuk terus berbuat amal salih di bulan mulia ini.

  • Mencari Sahabat yang Salih

Sahabat ibarat pakaian yang digunakan dalam perjalanan ke gunung. Jika ia memilki struktur bagus, niscaya kedinginan tidak akan merasuk ke dalam tulang dan perjalanan menjadi lebih mudah dicapai. Berbeda halnya jika pakaian tersebut jelek dengan penuh lubang dan tidak terawat. Hasilnya adalah kesehatan yang terganggu akibat serangan kuman dan dinginnya suhu sedangkan pakaian tersebut tidak memberikan apa – apa kecuali menjadi penghambat menuju puncak.

  • Mengambil Pelajaran dari Perjalanan Pendahulu yang Salih

Pesan untuk tidak melupakan sejarah yang terverifikasi merupakan nasihat yang bagus untuk menjaga maupun mendongkrak semangat beribadah di Ramadhan. Ketika melihat para pendahulu seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sallam dalam memaksimalkan kebaikan di Ramadhan hingga pengkhataman istimewa oleh Imam Syafi’i Rahimahullah merupakan sekelumit stimulus bagi antibodi yang bernama semangat.

  • Berdoa dan Memohon Konsistenitas kepada Allah

Merupakan ibadah terindah dan teragung serta senjata utama seorang muslim. Selama ini manusia menggunakan Media Sosial semacam facebook & Twitter untuk mengungkapkan kegalauannya dan mencari inspirasi dan mootivasi. Namun banyak yang melalaikan bahkan melupakan Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Baik yang siap menampung dan mengabulkan segala kegalauan dan harapan hambaNya. Maka bertepatan dengan momentum agung melalui dikabulkannya doa orang yang berpuasa dan momen lainnya, memohon semangat dan berlindung dari kemalasan merupakan strategi dan harapan jitu guna memaksimalkan sisa waktu yang ada.

 

“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah” (HR. Muslim)

Saudaraku, setiap manusia (termasuk penulis) akan selalu memiliki kelemahan hingga tanah menyumpal mulutnya. Maka semarakkan semangat menebar kebaikan dengan saling mengingatkan akan kebaikan terlebih menyadarkan sesama akan berlalunya Ramadhan yang berkah.

Semoga Allah memudahkan ibadah kita di bulan ini dan mempertemukan kita dengan Ramadhan berikutnya. Dan terakhir dari penulis, sesungguhnya jalan kebaikan adalah jalan yang terjal dan berliku maka berlelah – lelahlah saudaraku.

“Tahukah kamu Apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan atau memberi Makan pada hari kelaparan, anak yatim yang ada hubungan kerabat atau kepada orang miskin yang sangat fakir dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” Al Balad : 12-17

Wallahul musta’an

(diambil dari Kajian 14 Ramadhan 1433 bersama Ust. Abdurrahman Hadi, Lc Hafidzahullah)

Komentar Anda