Dibalik Propaganda Media Terhadap Muslim Indonesia : analisis kritis kasus pemasangan foto Dr. M. Arifin Badri

“Siapa yang menguasai media, maka akan menguasai dunia” Adolf Hitler

Ungkapan pemimpin Nazi diatas seakan–akan menjadi kenyataan meskipun berasal dari lisan seorang diktator non–muslim. Media cenderung menjadi penyebar ideologi, mengarahkan pemikiran serta infiltrator gaya hidup dibanding sarana pendidikan dan shading informasi. Oleh sebab itu propaganda di media massa merupakan hal yang menjadi rahasia umum dalam kehidupan saat ini.

Akhir – akhir ini umat Islam mulai digerahkan dengan isu – isu yang klasik. Diawali dengan penangkapan teroris di Solo kemudian berlanjut di dunia internasional melalui film kontroversial hingga pernyataan media mengenai rekrutmen teroris melalui rohis. Berita terbaru adalah pemasangan foto seorang ustadz salafi bernama Dr. M. Arifin Badri yang dikaitkan dengan jaringan teroris Noordin M. Top di salah satu televisi swasta.

Hal ini memang terlihat sebagai kesalahan teknis semata. Namun sebagai seorang muslim yang baik maka perlu diadakan analisis wacana kritis terkait dengan isu yang menerpa kaum muslim. Kebetulan atau tidak jika dilihat dengan seksama antara peristiwa satu dengan yang lain memiliki benang merah. Penulis akan memfokuskan pembahasan terhadap dua kasus terakhir, rohis dan ustadz salafi.

Momen yang sebentar lagi akan terangkat adalah pemilihan presiden pada 2014. Hal ini memang penting dipersiapkan meskipun masih dua tahun mendatang. Namun menimbang masyarakat Indonesia didominasi oleh rakyat beragama Islam, maka dibutuhkan bagi mereka yang hendak mencalonkan diri memetakan kekuatan dan pola pergerakan Islam di Indonesia.

Diawali dengan memetakan rohis yang diidentikkan dengan massa berhaluan PKS, HTI atau sejenis. Pemetaan ini tidak hanya melihat kuantitas semata namun juga melihat pola pergerakan suatu jama’ah. Hal yang sama dilakukan terhadap massa salafi melalui isu pemasangan foto tersebut.

Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa kejanggalan jika hal ini hanya diklasifikasikan kesalahan yang tidak mengandung unsur kesengajaan. Penulis disini akan membawa beberapa kejanggalan tersebut.

Sumber : www.google.co.id

Gambar diatas merupakan hasil searching dengan kata kunci “baderi hartono” yang tersangkut kasus terorisme. Secara jelas dan gamblang nama yang terpampang berbeda dengan nama ustadz salafi yang dipasang beberapa waktu yang lalu. Adapun dilaman bawah juga terdapat nama ustadz yang tidak jauh berbeda dengan nama ustadz salafi tersebut.

Ustadz diatas justru mengisi kegiatan di stasiun swasta yang bertaraf nasional. Mengapa yang dipasang adalah foto orang yang jelas bertitel doktor sedangkan Baderi Hartono jelas tidak memilikinya. Hal yang aneh lainnya adalah bagaimana hal ini bisa terjadi secara tidak sengaja padahal search engine bertaraf dunia saja telah membedakan antara “Baderi” dengan “Badri”.

Selain itu, jika ditinjau dengan kasus rohis media swasta yang terlibat cenderung lamban memberikan permohonan maaf. Hal yang berbeda dengan kasus ustadz salafi yang beritanya tercatat ditayangkan 24 September. Klarifikasi dan revisi langsung dilakukan sehari setelah itu atau pada 25 September.

Hal ini tidaklah aneh mengingat terdapat perbedaan dalam pola pergerakan dua haluan ini. Disalah satu sisi rohis diidentikkan dengan jiwa yang bersemangat, kritis terhadap pemerintah dan berapi – api dengan militansi tinggi. Dalam hal ini bisa jadi ada pihak yang ingin memastikan pola mereka.

Dilain sisi salafi dikenal dengan pergerakan yang lebih tenang, lebih condong pada pemerintahan dan berjiwa akademisi. Aspek inilah yang ingin dibuktikan juga oleh pihak tak terlihat. Dua hal inilah yang setidaknya menjadi kemungkinan yang mempengaruhi respon media massa tersebut dalam mengklarifikasi.

Adapun manfaat yang bisa saja diterima oleh calon pemegang tampuk kekuasaan setidaknya adalah bagaimana mereka membentuk grand design rencana politis mereka. Melalui tinjauan pola pergerakan Islam yang kontras ini gambaran awal dapat digunakan sebagai data penguat atau pendukung. Hal ini tidak hanya dilihat melalui aksi nyata namun juga bisa ditinjau dari respon di media jejaring sosial.

Media sosial kerap menjadi ajang untuk mengukur massa. Komentar – komentar dan pengikut bisa dijadikan gambaran suatu komunitas. Hal inilah yang setidaknya digunakan oleh salah satu peserta Pilgub DKI Jakarta, Jokowi – Basuki sebagai alat mereka untuk mencapai tujuan. Memaksimalkan media massa, media sosial maupun media yang menawarkan fasilitas gratis menjadi upaya pencitraan mereka. Hal inilah yang terlambat dilirik oleh calon lainnya sehingga berdasarka beberapa perhitungan cepat Jokowi dinyatakan menang.

Sebelum mengakhiri pembahasan, penulis memahami hal ini bisa menjadi suatu kontroversi baru maupun anggapan bahwa tulisan ini terlalu berlebihan dan reaktif. Akan tetapi esensi yang ingin diusung oleh penulis adalah hendaknya seluruh kaum muslimin bersatu padu dan tidak mudah terprovokasi oleh siapapun. Selain itu sebagaimana pesan Khalifah Islam Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang muslim adalah orang yang cerdik, tidak mudah ditipu maka sudah sewajarnya penyikapan terhadap sesuatu perlu diklarifikasi dan dilihat di sisi lain.

Solusi yang urgen dilaksanakan dalam permasalahan seperti ini adalah hendaknya tetap bersikap tegas, waspada dan kritis. Penyikapan isu secara kritis berdasarkan analisis logis diperlukan dalam menentukan tindakan. Segala tindak – tanduk media massa pasti memiliki kepentingan yang terselubung minimal kepentingan redaksi. Oleh sebab itu segala informasi perlu dcermati secara mendalam dan obyektif. Hal ini memang sangat penting guna memberikan pendidikan dan pembuktian ke-rahmatan lil ‘alamin-an penganut Islam di Indonesia. Semoga isu – isu dan momen tersebut bisa menjadi pembelajaran guna perkembangan Islam yang lurus dan moderat di Indonesia.

Komentar Anda