Universitas Muhammadiyah Malang : Kampus NKRI

 

Kalimat diatas penulis ambil dari salah satu judul Bestari (koran kampus) Universitas Muhammadiyah Malang. Kalimat tersebut disematkan oleh Mendikbudnas Prof. M. Nuh pada saat Pesmaba (Ospek) UMM. hal ini disebabkan beliau menilai akan lahir generasi – generasi penerus bangsa pada kampus yang berkedudukan di Kota Malang ini. Kampus putih adalah julukan yang dipakai pada universitas yang lahir pada 1968 ini. Penulis sendiri memang sering melintasi jalan didepan Kampus utamanya, namun belum pernah menginjakkan kaki kedalam kampus yang setidaknya memiliki mahasiswa berjumlah lebih dari dua puluh ribu jiwa ini.

Pada akhirnya, guna menghadiri perhelatan Forum Dakwah Fakultas Hukum Indonesia Kordinator Wilayah Timur, rasa penasaran ini akhirnya terwujudkan meskipun forumnya sendiri harus diundur.

Delegasi Unair untuk forum ini diwakili oleh Febriyan K., Baharuddin, Muara Juansa, Agus Nas. dan tentu saja Himas El Hakim (penulis). Delegasi sempat shock ketika menerima sms bahwa forum diundur ketika kereta api sudah berjalan diatas sidoarjo. Sempat terlintas dibenak untuk turun, namun keinginan untuk ta’aruf dan ziaroh mengalahkan rasa turun para delegasi.

Tiba di stasiun Kota Baru Malang, para delegasi menanti penjemput dari UMM di seberang gerbang sembari ngopi. Pembahasan yang kami diskusikan selama menanti adalah apa yang akan kita katakan (nasehati) terkait peristiwa ini. kalimat demi kaimat pada akhirnya para delegasi bersepakat untuk memberikan masukan terkait jaringan komunikasi, cara menyampaikan hingga teknis pelaksanaan yang semuanya fokus pada solusi konstruktif.

Masukan diterima sembari diskusi hangat di pojok jalan bersama para penjemput. Akhirnya para delegasi diantar menuju kampus UMM untuk sholat isya’ dan dilanjutkan untuk rehat di salah satu kontrakkan mbahu rekso organisasi keislaman FH UMM, Cak Rohim.

Pria asal tanah Sulawesi ini menyambut para delegasi dengan hangat. Canda tawa menyelingi diskusi antar aktifis kampus ini juga diimbangi dengan permainan PES 2013. Pada akhirnya, para delegasi memilih beristirahat dan bersiap untuk hari esok.

Hari kedua tersesat di Malang (karena tidak menyiapkan agenda) dihabiskan banyak di kontrakkan tersebut. Akhirnya diputuskan untuk mengitari kampus UMM dari ujung ke ujung.

Hilir mudik para mahasiswa UMM berseliweran layaknya kampus lain. Kondisi yang tidak jauh beda dengan civitas academica di Surabaya. Salah satu yang penulis menilai cukup aneh adalah dalam lingkungan kampus yang notabene Islamic – Based, masih sering dijumpai wanita yang tidak mengenakan hijab.

Cak Aim (panggilan dekat Cak Rohim) menyatakan bahwa memang tidak ada pelarangan terkait hal ini. akan tetapi dilain sisi masih gterdapat aturan yang melarang para pria berambut gondrong. Hal tersebut membuat semacam distorsi dalam pikiran penulis muncul, mengapa ini dilarang namun itu dibiarkan padahal kampus Islamic – based.

Memang pasti terdapat alasan tersendiri mengapa hal tersebut masih terjadi (meskipun sepatutnya tidak). Hal yang lain adalah masih adanya rokok dalam institusi pendidikan. Hal ini bisa jadi belum ada regulasi yang melarang tindakan ini sebagaimana pelarangan rokok dalam institusi pendidikan yang diatur dalam Perda Surabaya di Kota Surabaya. Maka bukan hal yang tabu jika masih ada asap – asap yang mengepul di koridor kampus meskipun ada asbak yang disiapkan guna menjaga kebersihan. Apakah kesehatan tidak lebih baik dari kebersihan?

Kondisi keislaman pada FH UMM sendiri juga tidak jauh berbeda dengan FH lain meskipun lebih banyak warna Islam didalamnya. Sebut saja IMM, HMI dan KAMMI merupakan organisasi nasional yang mewarnai mahasiswa FH walaupun masih banyak mahasiswa yang tidak mempedulikannya menurut Cak Aim. Pukash / Pusat Kajian Keilmuan dan Keislaman Fakultas Hukum UMM sendiri sebenarnya pernah vakum pada 2006 dan direvitalisasi kembali oleh Cak Aim pada 2011 untuk mewadahi minat kajian islam di FH UMM. Mantan Ketua Senat Mahasiswa / Ketua BEM FH UMM ini juga mengawasi dan membantu pergerakan LSO / Lembaga Semi Otonom ini agar tetap berkiprah di kancah pergerakan kampus.

Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa banyak pelajaran yang dapat diambil dari safar di kampus yang memiliki tiga kampus ini. Cak Aim dan sebagian saudara – saudaranya di Pukash / Pusat Kajian Keilmuan dan Keislaman Fakultas Hukum UMM telah memberikan gambaran hangat berlandaskan kecintaan karena Allah kepada para delegasi SKI FH Unair. UMM sendiri (meski satu kampus) telah memberikan pelajaran mengenai heterogenitas yang ada di kampus – kampus Jawa Timur khususnya sebagai gambaran masyarakat Indonesia. Terima kasih Cak Aim Cs atas sambutan hangatnya, insyaAllah kami akan mampir lagi. (el)

link UMM : http://www.umm.ac.id/

link Pukash : http://www.lsopukashumm.org/

sumber gambar : http://www.umm.ac.id/files/image/profle%20kampus/kampus-III.jpg

sumber gambar : http://www.lsopukashumm.org/2012/08/profil.html

 

Komentar Anda