AKU SARJANA (?) : Sepucuk Surat Terbuka untuk Para Sarjana dan Calon Sarjana

“Sebaik – baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”

IMG-20140920-WA0011

Kepada Yth. Para Sarjana dan Calon Sarjana

Wisuda, merupakan salah satu kata yang sederhana nan sarat makna. Satu kata ini memiliki banyak sekali memori baik kebahagiaan, kebanggaan, kejuangan hingga tangis haru. Wisuda merupakan seremoni tradisional untuk pengakuan sebuah gelar akademik yang diantaranya adalah sarjana.

Sarjana sendiri dapat dimaknai sebagai gelar akademik yang prestisius. Pada buku – buku ilmiah keluaran lama tidak sedikit istilah ilmuwan disebut juga sarjana. Pun pada era pasca-kemerdekaan hingga beberapa puluh tahun kemudian untuk mendapat gelar sarjana seseorang bisa menempuh hingga puluhan tahun(!). Di zaman itu, menyandang gelar sarjana bukan perkara main – main.

Hari ini (Sabtu 21 September 2014) , penulis menghadiri wisuda beberapa sahabat. Walau bukan kampus penulis, namun esensi wisuda tetap sama dimata seluruh mahasiswa. Sembari menanti wisudawan keluar setelah seremoni, penulis teringat tri dharma perguruan tinggi, hakikat mahasiswa hingga kondisi dunia pasca-kampus. Pikiran itu berkecamuk didalam akal bersama dengan momentum wisuda. Ada beberapa pendapat hasil pemikiran, pengetahuan, pandangan dan pengalaman penulis tentang hal – hal tersebut yang penting diketahui oleh pembaca.

Tri Dharma Perguruan Tinggi : Sebuah Idealisme Sarjana

Hal pertama yang menjadi pembahasan penulis adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menjadi asas dan landas kerja Perguruan Tinggi baik negeri atau swasta. Pendidikan sebagai prinsip pertama jelas menjadi prioritas eksistensi kampus sebagai sarana mengembangkan pemikiran dan keilmuan. Hal itu juga tidak melulu berkutat pada masalah ilmu sebagai dogma, teori atau filsafat namun juga esensi moralitas sebagai salah satu norma pendidikan.

Pun dalam penulisan ini, penulis teringat salah satu pesan atase pendidikan KBRI di Jepang, Bapak Iqbal yang telah menjadi salah satu asas yang dipegang penulis yakni “knowledge with value”. Pengetahuan sebagai instrumen dan alat bantu tidak akan banyak berguna bagi manusia tanpa dirasuki nilai yang menjiwainya. Sebagai contoh matematika sebagai pengetahuan mengandung nilai tentang kedisplinan, tanggung jawab, konsekuensi hingga kecepatan memutuskan. Ilmu  pengetahuan lain juga jika dimaknai pasti memiliki nilai uniknya masing – masing. Inilah yang membuat ilmu sendiri menjadi the living source of values jika dipahami dan diterapkan dalam tataran kehidupan.

Pada tataran ini, sarjana yang merupakan lulusan perguruan tinggi dituntut untuk menerapkan hasil penempaannya di kampus yang notabene berasaskan pendidikan. Sebagaimana disebut sebelumnya bahwa pendidikan tidak melulu bicara knowledge namun juga termasuk value. Oleh sebab itu seorang sarjana tidak hanya unggul dalam intelektualitasnya bahkan kualitas emosional, spiritual hingga kepemimpinannya yang membedakannya dengan yang lain.

Hal kedua yang menjadi asas Perguruan Tinggi adalah Penelitian. Ilmu teoritis dan dogma yang didapat pada bangku kuliah juga perlu diterapkan di tataran praktis. Hal tersebut masuk akal mengingat dunia kampus merupakan jenjang terakhir pada hirarki pendidikan formal. Bisa jadi hal ini juga yang membuat institusi ini disebut Perguruan Tinggi dan seseorang yang ditempa disebut mahasiswa. Penelitian dari suatu pengetahuan diantaranya dimaksudkan agar seorang sarjana dalam memutuskan atau menyimpulkan pendapatnya dengan tepat, solutif dan tidak sembrono. Hal ini disebabkan tidak hanya nama sarjana saja yang dipertaruhkan jika terjadi kesalahan namun kampus tempatnya belajar hingga pengajarnya juga terseret. Maka dari itu fungsi penelitian menitik beratkan pada pertimbangan dalam memutus, kebijaksanaan dan kehati – hatian dalam bersikap sebagai cendekiawan.

Aspek ketiga, terakhir dan puncak menurut penulis dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah Pengabdian. Pengabdian dapat dimaknai secara luas mulai dari abdi Tuhan hingga abdi rakyat dalam arti positif, pun negatifnya seperti abdi tahta atau abdi harta. Namun melihat idealnya pengabdian merupakan aspek yang positif dari perguruan tinggi. Hal ini juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang perguruan tinggi dengan jenjang pendidikan lain. Adanya tuntutan untuk kembali mengabdi setelah mendapat pendidikan dan penelitian merupakan karakteristik mahasiswa sebagai jebolan kampus. Pada tataran organisasi baik formal atau tidak aspek ini cukup menarik perhatian berbagai kalangan mulai dari pemerintah, usaha hingga rakyat jelata. Pengabdian melampaui paradigma egoisme sebagai watak dasar manusia.

Pengabdian juga bisa menjadi puncak dari Tri Dharma. Hal ini disebabkan segmentasi dari aspek ini ada pada tataran kongkrit, kontributif dan progresif. Kongkrit karena pengabdian merupakan bentuk realisasi nyata dari hasil pendidikan dan penelitian untuk kepentingan mereka yang membutuhkan. Kontributif disebabkan pengabdian memerlukan hasil baik output serta outcome yang dapat dirasakan secara langsung atau tidak dalam jangka waktu cepat maupun lambat. Adapun pengabdian sebagai hal yang progresif merupakan tujuan dari adanya pengabdian sendiri sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas resources yang porosnya ada pada hasil. Ibarat Jihad dalam konsepsi agama Islam sebagai puncak agama, pengabdian adalah puncak sarjana sebagai rasa bersyukurnya atas capaian yang didapat dari Perguruan Tinggi.

Maka dari itu Tri Dharma sebagai semangat pendirian Perguruan Tinggi sebagai institusi yang melahirkan sarjana hakikatnya menjadi semangat sarjana pula dalam berkarya di dunia pasca-kampus. Menjaga paradigma dan prinsip Pendidikan sebagai basis bekerja, Penelitian sebagai landas bersikap dan Pengabdian sebagai pondasi bergerak sudah sepantasnya menjadi idealism seorang sarjana lulusan perguruan tinggi.

Sarjana : Pernah dan Tetap Mahasiswa

Hilangnya status “mahasiswa” pada seorang sarjana bisa bermakna dua hal baik positif maupun negatif. Hal positif dari alih status ini adalah adaya pengakuan kepantasan seseorang menyandang gelar prestisius ini. Kepantasan inilah yang dapat menjadi bekal penting dan basis kepercayaan diri sarjana untuk mendapat kepercayaan publik dalam berkarya. Sudah selayaknya seorang dengan gelar sarjana memang pantas disebut cendekiawan dan teladan pada society class.

Hal negatif yang membuntuti berubahnya status ini adalah peluang munculnya kecongkakan. Adanya pengakuan formal bisa jadi memberikan diferensiasi dengan pengakuan yang informal. Sarjana yang secara tertulis dianggap telah mengetahui keilmuannya cenderung mencukupkan dirinya atas masukan dari pihak lain. Bahaya lainnya adalah jika mahasiswa dimaknai dengan siswa atau pembelajar tingkat tinggi maka mahasiswa masih membutuhkan pelajaran sebagai sarana menambah pemahamannya. Hal tersebut jelas berbeda dengan sarjana sebagai personal yang telah diakui status keilmuannya.

Penulis berpendapat bahwa alih status ini tidak menghilangkan “Mahasiswa” pada seorang sarjana. Hal ini disebabkan pada hakikatnya seorang sarjana pasti seorang mahasiswa. Maka hal – hal idealis yang mengikat mahasiswa masih tetap berlaku pada sarjana. Prinsip mahasisa sebagai golden stock tetap mengiat sarjana walau dalam porsi yang lebih kecil. Hal tersebut dikarenakan sarjana sudah memasuki jenjang pasca-kampus yang telah masuk the real society class. Pun konsep mahasiswa sebagai leader of change sarjana juga tetap terikat dengannya. Namun porsi dan lingkup sarjana jelas lebih tinggi secara vertikal dan sempit secara horizontal karena tuntutan profesionalisme dalam society class. Sarjana tetap mahasiswa secara hakikat dan idealismenya.

Indonesia : Wahana Pemain Istimewa

Penulis pernah berpesan didepan ribuan mahasiswa bahwa ijazah yang digenggam ketika wisuda adalah kunci pagar rumah. Jelas untuk bisa masuk rumah diperlukan kunci rumahnya dan tidak cukup dengan kunci pagarnya saja. IPK dan hal – hal formal yang terkandung dalam ijazah seorang sarjana memang menjadi hal yang penting dimilikinya. Namun hanya berpedoman pada hal tersebut juga tidak menjadi jaminan masa depan insan tersebut. Kampus sebagai institusi kelas atas memberikan wahana yang heterogen, liberal dan fleksibel  untuk menunjang bahkan melampaui hal formal tersebut.

Sebut saja kemampuan memimpin dan dipimpin, organisasi, komunikasi, prestasi hingga relasi merupakan gigi – gigi kunci rumah seorang sarjana. Semakin lengkap gigi tersebut dengan rel kunci rumah, semakin cepat pula sarjana dapat menikmati rumahnya. Hal ini jelas berbeda jika gigi kuncinya sedikit bahkan tidak memiliki kunci rumah sama sekali. Waktu, tenaga dan harta terbuang untuk melengkapi gigi dan mendapat kunci rumah ketika sarjana telah masuk pagar. Sarjana sudah sepantasnya memiliki kunci pagar, kunci rumah dan seisinya pada detik ketika dia menerima ijazah dari rektor.

Mengapa sarjana perlu memiliki kuncinya secara lengkap? Hal ini kembali pada hakikat sarjana sebagai pengabdi. Perlu diketahui bahwa seorang sarjana dapat menyandang gelarnya membutuhkan banyak pengorbanan dari banyak pihak mulai negara, orang tua hingga rakyat. Hal tersebut juga diperkuat dengan konsep agama yang menyatakan manusia pada hakikatnya adalah abdi Tuhannya. Maka dengan memiliki kunci lengkap seorang sarjana diharapkan oleh banyak pihak untuk mampu membekali dirinya untuk melanjutkan ke fase selanjutnya, berkarya nyata.

Indonesia sebagai negara dengan pemerintah berdaulat, wilayah dan rakay didalamnya merupakan wahana yang nyata bagi sarjana untuk berkarya. Semakin cepat sarjana membekali diri dari rumahnya maka semakin besar peluang kemajuan Indonesia sebagai bangsa. Hal tersebut sekali lagi tetap berkaitan dengan keberlakuan status mahasiswa bagi sarjana. Maka sarjana sebagai golden stock, leader of change hingga value force lebih dibutuhkan Indonesia untuk diimplementasikan di berbagai sektor yang dituju sarjana baik pada sektor publik, privat hingga sektor ketiga. Sebut saja sektor publik yang bertitik tekan pada pelayanan memerlukan sarjana yang memiliki kecerdasan dengan kompetensi, komunikasi, empati dan komitmen.

Hal tersebut jika tidak dipersiapkan sarjana pada saat di kampus maka akan menghabiskan waktunya untuk mempelajari kompetensi tersebut dan kerugiannya dirasakan oleh rakyat sebagai obyek pelayanan sektor publik. Contohnya jika seorang pegawai pajak tidak berkomitmen menjaga uang rakyat dengan tidak mengawasi arus pajak bahkan mengkorupsinya maka uang yang seharusnya ditujukan untuk kesehatan atau pendidikan menjadi terhambat dan terlambat. Betapa besar, masif dan kompleks suatu urusan jika sarjana tidak memiliki kemampuan – kemapuan tersebut ketika terjun di dunia nyata.

Hal tersebut juga semakin menantang dengan adanya kompetisi terbuka dan bebas antara sarjana lulusan kampus Indonesia dengan sarjana lulusan negara lain khususnya ASEAN. Gap kualitas pendidikan kampus juga kondisi negara yang berbeda antara Indonesia dengan negara ASEAN lain jelas memberikan tantangan tersendiri bagi sarjana. Sekali lagi jika hanya bermodal kunci pagar, maka besar kemungkinan pemilik rumahnya adalah sarjana lain yang mungkin berasal dari Singapura, Malaysia atau Thailand. Sarjana Indonesia harus semakin sadar untuk mengakselerasikan dirinya untuk melampaui sarjana ASEAN agar tetap menjadi pemilik rumah sendiri.

Oleh sebab itu, ketiga sektor yang terbuka di Indonesia menantikan sarjana sebagai pemain di lapangan yang siap bermain dalam wahana nyata. Hakikat pemain ialah seseorang yang mampu mengusahakan kemenangan timnya secara sportif dengan kreatifitas, kejuangan dan kerja sama disertai persiapan strategis taktis. Pemain bergerak dengan kesadaran dan motivasinya sendiri, bukan seperti kerbau pembajak yang hanya bergerak dengan diikat hidungnya dan tidak memiliki semangat berkarya kecuali apa adanya dan karena perutnya. Sarjana adalah manusia yang harus siap bermain di wahana bernama Indonesia (atau bahkan dunia) pada era globalisasi bebas dan terbuka ini.

Sarjana : Pahlawan Bergelar Ijazah

Seorang pahlawan bukan manusia kebal senjata, mampu melayang terbang maupun lihai bertarung, namun esensi dari seorang pahlawan adalah adanya sikap – sikap dasar yang membedakannya dengan rakyat jelata. Jiwa sosial yang lebih tinggi dari individual, keberanian memulai perubahan, kecepatan dan ketepatan dalam memutuskan hingga ketahanan dan kesabara dalam menghadapi segala godaan yang mengendurkan perjuangannya merupakan beberapa karakter yang didapatkan pada setiap orang yang memiliki gelar kepahlawanan. Negara Indonesia biasa menyebut nama Bung Karno, Bung Tomo, Pangeran Diponegoro hingga Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional.

Karakter itulah yang sepantasnya dimiliki dan diperjuangkan untuk dimiliki oleh setiap sarjana. Hal tersebut memang pantas diemban oleh sarjana disebabkan posisinya di society class yang strategis. Jika ranah strategis tidak diolah oleh seseorang dengan kapabilitas keilmuan cakap dan kredibilitas karakter hebat maka sangat kecil harapan ranah tersebut menghasilkan kebijakan dan karya yang solutif dan progresif. Perubahan progresif membutuhkan human resources yang berparadigma visioner, strategis dan kontributif.

Oleh sebab itu Ijazah yang dimiliki oleh sarjana merupakan bentuk pemberian gelar kepahlawanan secara tidak langsung. Gelar kepahlawanan tersebut bahkan dipegang terlebih dahulu oleh sarjana tanpa perlu membuktikan perubahan drastis nan progresif. Status kepahlawanan itulah yang kelak akan ditagih oleh Tuhan, Negara dan Rakyat kepada sarjana kala hasil dari berkaryanya di sektor yang digeluti mulai terlihat, apakah sarjana tersebut layak mempertahankan dan dikukuhkan gelar kepahlawanannya? atau justru dicabut gelar kepahlawannya bahkan dijebloskan ke lubang penghinaan jika hasilnya hanyalah keburukan dan kemunduran yang tak sepantasnya dihasilkan seorang bergelar sarjana.

Epilog : Sebuah Refleksi Jati Diri

Engkau sarjana muda, resah mencari kerja, tak berguna ijasahmu

Empat tahun lamanya, bergelut dengan buku, sia – sia semuanya,

setengah putus asa dia berucap,

“maaf ibu…”

Menutup tulisan ini, penulis teringat dan termenung dengan pemikiran Iwan Fals yang terucap dari lirik tembangnya,”Sarjana Muda”. Lahirnya rangkaian kata tersebut besar kemungkinan bukan dari khayal angan atau kekhawatiran berlebih sang pujangga. Bisa jadi hal tersebut didapat dari yang beliau lihat sebagai rakyat dan seniman. Tidak perlu angka statistik untuk menunjukkan jumlah pengangguran intelektual diatas bhumi gemah ripah loh jinawi. Pun tidak perlu penelitian bertahun – tahun menelisik sebab pengangguran intelektual tersebut tetap eksis di negara yang pernah masuk di OPEC ini. Cukup dengan pandangan dan perasaan yang rendah hati, terbuka, moderat nan obyektif mampu menilai betapa akutnya tantangan ini yang mendesak bergulirnya perubahan yang substansial dan aplikatif.

Bagi mereka yang akan dan telah menyandang kesarjanaan mungkin menyikapi dunia pasca-kampus yang dihiasi keliaran dan kebengisannya dengan phobia yang kemudian berubah menjadi pandangan pragmatis, oportunis dan parahnya pesimistis. Mereka gadaikan visi, idealisme, prinsip dan nilai baik dari statusnya sebagai mahasiswa maupun lulusan perguruan tinggi elit demi sesuatu yang pada hakikatnya tidak merubah status a quo mereka. Mereka secara sah dan meyakinkan telah menjadi kerbau pembajak sawah. Namun sebagaimana pintu taubat yang tidak pernah tertutup kala hidup, kerbau – kerbau itu pun masih punya peluang menjadi pemain – pemain istimewa jika dan hanya jika mereka sadar (atau tersadarkan) dan mau merubah diri mereka sendiri.

Pada sisi lain masih ada segolongan bahkan satu orang yang akan dan telah memegang ijazah sarjana semakin bersemangat, terpacu dan termotivasi untuk menjawab tantangan yang terbuka di wahana bernama Indonesia dan dunia. Pasca-kampus tidak menjadi alasan mereka menukar idealisme dan mimpinya dengan sesuatu dari manusia, harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih. Sandangan “Sarjana” menjadi akreditasinya bahwa dia memang orang yang pantas menyandangnya dan akan berjuang mempertahankan idealisme dan harapannya. Kongkrit dan realistis dengan kontribusi yang progresif menjadi langkah demi langkah menuju visinya serta realisasi dari idealismenya. Karena yang menjadi harapan mereka adalah terwujudnya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat disertai kebaikan Tuhan pencipta alam semesta. Pastikan kita ada pada golongan yang pantas menyertai nama kita dengan huruf “S.” dan perjuangkan.

“And the scholars are the heirs of the prophets”

Ditulis oleh :

Himas M. I. El Hakim, Calon Sarjana Hukum UA,

Dalam status memperjuangkan dan menyegerakan kepantasan.

2 comments

    1. Betul sekali, seorang sarjana harus memiliki arah karir yang akan dipilihnya agar memudahkan kontribusinya pada bangsa/

      Misinya adalah bekerja sesuai tujuan karir yang menjadi visinya serta beraktifitas yang mendukung tercapainya visi tersebut.

Komentar Anda