Adab dan Peci Putih para Santri

Siang di bawah teduhnya masjid, Fulan menyimak ceramah dari Khatib di atas mimbar. Fulan yang merupakan Alumnus SMA X, salah satu sekolah favorit di kotanya memiliki amanah sebagai “mentor” dari kelompok studi islam di SMA tersebut. Kiprah Fulan memang tidak banyak di kenal di sana, maklum dia hanya medioker yang hanya berusaha menjalankan amanah sebagai mentor kelas XI.

Nampak letih dari Khatib dengan suaranya yang serak namun tetap penuh gairah untuk mendakwahkan kebenaran. Waktu berlalu dan sholat jumat telah selesai di didirikan. Fulan sebagaimana biasanya langsung memilih spot di dekat rak Al Qur an untuk memulai pembahasannya. Adik – adik yang dinantinya telah tiba walau tak semua bisa hadir bersama. Diskusi berjalan dengan antusias, Fulan membahas mengenai “Nawaqidul Islam” yang patut diwaspadai.

Dalil demi dalil dia keluarkan, walau tidak semuanya berbahasa arab. Maklum, Fulan bukan lulusan pesantren. Fulan yang mengidolakan M. Natsir, Mantan Perdana Menteri RI dan tokoh Islam dunia dari Indonesia, meniti jalan yang sama dengan idolanya. Pagi belajar ilmu dunia, malam menambah ilmu agama. Fulan yakin bahwa dia harus terus berkembang secara pemikiran dan kemampuan mengingat amanahnya sebagai “mentor” spriritual yang mau tak mau banyak bicara mengenai agama. Bukankah seseorang tidak bisa memberi jika tak memiliki?

 

 

Akhirnya pertemuan pekan itu selesai, Fulan cukup singkat dalam mengawal diskusi. Hanya membutuhkan waktu 30 – 45 menit, Fulan membahas poin yang sedikit dengan argumentasi baik naqli maupun aqli secara dalam. Fulan berharap agar adik – adiknya mampu memahami agamanya secara mendalam baik secara keimanan maupun pemikiran.

Setelah pertemuan selesai, Fulan melihat banyak Alumni angkatan tua berkumpul di masjid. Selfi – selfi, gaduh macam anak kecil namun Fulan berusaha husnudzan bahwa para sesepuh ini “hectic” reuni. Maklum, jarak angkatan Fulan dan mereka sampai 30-an tahun!

Fulan mendatangi para sesepuh sembari menyalami satu persatu para lelaki separuh baya itu. Memperkenalkan namanya dan angkatannya, Fulan tetap menunjukkan kepercayaan diri walau usia dan profesi kalah jauh. Acara reuni di masjid segera di mulai, Fulan mengambil posisi di belakang.

 

Tak disangka, di samping Fulan duduk seorang pemuda berpeci putih bak santri. Dengan santun Fulan menyalami beliau dengan ditambah gerakan cium jempol sebagai bentuk penghormatan. “Jama’ah Ma’iyah juga mas?” pukas sang ustadz sembari melihat peci merah putih kucel yang dikenakan Fulan. Fulan tersenyum sembari berujar “Kopiyahe mawon sing ma’iyahan stadz, kulo mboten nopo – nopo” (Pecinya saja yang ikut ma’iyahan stadz, saya bukan apa – apa). Akhirnya Fulan dan sang ustadz mulai menunjukkan kecairan.

Sang ustadz menanyakan informasi perihal Fulan, termasuk Fulan juga balik bertanya dengan antusias. Tawa kecil menghiasi bincang mereka ditutupi suara speaker yang di isi lomba sambutan dari para Alumni. Ya, bayangkan saja agenda ini dilaksanakan di masjid, tempat suci nan terbaik di atas muka bumi, campur baur tanpa pembatas (walau yang hadir ibu – ibu), yang secara tidak langsung merendahkan wibawa masjid. Mungkin mereka belum mengkaji adab – adab di dalam masjid.

Bicara adab, Fulan perlahan menanyakan kepada sang ustadz yang kebetulan menjadi pengajar Agama Islam baru di SMA X tersebut. SMA X yang konon masuk dalam sekolah berintegritas menurut penuturan sang ustadz ternyata menyimpan duka. Siswa SMA X menurut sang ustadz mengalami “gholil adab”.

Diantara bentuk tidak adanya adab menurut sang ustadz adalah tidak adanya rasa hormat kepada guru bahkan di dalam kelas. Smartphone seakan tak bisa lepas dari telapak, mata dan jiwa walau guru sedang mengajar. Bahkan kata sang ustadz ada guru yang dikenal baik berucap “Saya bisa bikin kalian juara olimpiade secara singkat, tapi mengajari kalian adab jelas butuh waktu. Percuma kalian pintar kalau begini, ujung – ujungnya bakal korupsi”. Celakanya penyakit ini juga di derita oleh para rohis yang konon aktifis dakwah sekolahnya. Fulan hanya menghela napas sembari menganguk.

 

 

Ya, Fulan teringat perkataan Abdullaah bin Mubarok, ulama tabi’in yang berkata “Aku butuh 30 tahun untuk belajar adab dan 20 tahun belajar ilmu”. Kisah dari para murid Imam Ahmad yang lebih banyak belajar adab beliau di majelis juga terngiang di kepala Fulan. Fulan merasakan ada yang salah dengan kondisi seperti ini. Apalagi Fulan paham bahwa salah satu diutusnya kerasulan adalah menyempurnakan akhlak yang baik. Apa jadinya ajaran jika pemikulnya tak memahami dan menjalankan ajarannya?

Sang ustadz juga “nyinyir” mengenai proyek “mentoring” yang ada di SMA tersebut. Entah apakah sang ustadz tidak tahu atau memang sengaja menyindir di depan Fulan yang juga mentor. Namun Fulan berusaha objektif, sebagaimana dahulu dia di doktrin selama 2 tahun di asrama kepemimpinan kala kuliah. Fulan hanya tersenyum dan mengangukkan kepala secara pelan.

Fulan berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah yang lebih strategis dan konstruktif. Fulan mengusulkan adanya pengajian kitab adab sebagai orientasi baik siswa secara umum dan anggota rohis secara khusus. Kitab yang disebut Fulan adalah kitab “Ta’lim Muta’alim” mengingat sang ustadz memiliki pemikiran santri yang kuat. Fulan sadar bahwa adab adalah ilmu general yang dibutuhkan semua pemikiran Islam tanpa melihat bendera atau stempelnya.

Sang ustadz menimpali mimpinya untuk membentuk kurikulum sendiri untuk mentoring mengingat beliau juga beranggapan mentoring tidak efektif dalam membentuk adab dan akhlak termasuk karakteristik islam yang kuat pada siswa. Fulan memperhatikan ucap sang ustadz. Bak intelijen, Fulan terus mengorek informasi A1 (istilah informasi yang terpercaya karena didapat langsung dari sumber) mengenai pandangan sang ustadz mengenai mentoring. Selain “proyek”, sang ustadz juga menyindir “warna” sesama pengajar, kuatnya cengkeraman alumni kala Tabligh Akbar pekan lalu hingga perang idealisme beliau dengan pihak sekolah ketika pengajar agama disalahkan atas adab siswa yang lemah. Fulan menatap sang ustadz dengan seksama.

Pada akhirnya, diskusi tersebut harus usai karena datangnya makan siang. “Ah, selesai juga lomba sambutannya”, batin Fulan sembari menerima kotakan berisi ayam goreng. Sang ustadz dengan peci putihnya kemudian pergi meninggalkan Fulan setelah menyalaminya. Di tengah hujan deras, Fulan menikmati makan siangnya sembari menggunakan ilmu analisanya (overthinking mungkin) dari data intelijen yang di dapatnya. Sebagai mantan aktivis di kampusnya dulu ditambah kemampuan intelijen taktis dari pendidikan dasar militer kala menjadi anggota resimen, Fulan mencoba memaknai kembali apa yang dia lakukan selama menjadi mentor. Husnudzan dan antusias juga mewarnai dada Fulan kepada sang ustadz, optimis untuk membangun ukhuwah islamiyyah sebagaimana doktrin asramanya juga pada nilai “membangun titik temu” antar umat islam.

 

 

Fulan kali ini sepakat dengan pernyataan sang ustadz bahwa adik – adik ini perlu di-drill urusan adabnya. Telintas salah satu karakter, nomor tiga lebih tepatnya setelah Aqidah dan Ibadah, Akhlak. Tanpa adab, ilmu tak akan didapat. Tanpa adab, guru merasa berat. Tanpa adab, murid tak mendapat manfaat. Dan bukankah seangung – agung adab adalah adab terhadap Sang Maha Pemilik Ilmu? Aqidah yang selamat pasti dan pasti memberikan turunan akhlak serta adab yang mulia.

Setelah sholat ashar ditunaikan, Fulan menuju pintu keluar dan menjumpai sepatu berserakan di depan pintu. Padahal rak sepatu masih kosong dan hanya ada sepatu kusut Fulan. Sembari menarik peci merah putihnya, Fulan tersenyum, memunguti pasang demi pasang sepatu adik – adiknya dan diletakkannya di rak sepatu.

Fulan mendapat semangat baru untuk merenovasi dirinya untuk mendidik calon pemimpin bangsa. Di tengah hujan dan genang air menyelimuti, Fulan pulang dengan riang. Alhamdulillaah, semangat yang dipancing dari peci putih para santri.

 

Wallaahu a’lam.

santri-pesantren

sumber gambar : http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/12/santri-pesantren.jpg

——-

Postingan pertama pasca 2 tahun vakum (but i’ve write a lot at another blog), dan postingan pertama dengan genre “kenovel-novelan” (i ‘hate’ novel, so if you wanna gimme a book,  give me analitycal genre one, lol),
alhamduliLlaah ‘ala kulli haal wa sholallaahu wa sallam ‘ala rosuluLlaah.

Komentar Anda