Memaknai Al Kahfi : Allah Tujuan Kami

“Hari jumat ini Allah ‘azza wa jalla jadikan menjadi ‘ied bagimu dan umatmu” (Hadits riwayat Abu Ya’la, Hasan)

Hari jumat merupakan salah satu waktu yang spesial bagi umat Islam. Selain dinobatkan sebagai hari raya pekanan umat, Jumat juga merupakan hari yang memiliki kedudukan bahkan di dalam konstitusi umat. Hanya hari jumat yang dijadikan Alaah menjadi nama surat di dalam Al Quran. Momentum jumat harus kembali menjadi semangat bagi umat.

Diantara sunnah (jalan) yang dimaklumkan pada hari Jumat adalah keutamaan membaca Surat Al Kahfi.

Surat ini dikenal memiliki banyak kisah dan pelajaran dari peristiwa terdahulu. Sebut saja Ash habul Kahfi, Orang salih miskin dan kawannya yang sombong, hingga kegiatan belajar mengajar antara Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alayhimas salam.

Di antara pelajaran penting dan agung dari ayat ini ada di akhir surat. Akhir surat? ya, sering mendengar istilah Start from the end?

Ayat tersebut berbunyi :

قُل إِنَّما أَنا بَشَرٌ مِثلُكُم يوحىٰ إِلَيَّ أَنَّما إِلٰهُكُم إِلٰهٌ واحِدٌ ۖ فَمَن كانَ يَرجو لِقاءَ رَبِّهِ فَليَعمَل عَمَلًا صالِحًا وَلا يُشرِك بِعِبادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

1. Hakikat Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam

Allaah memerintahkan Baginda Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam untuk mengatakan kepada manusia secara umum dan umatnya secara khusus bahwa beliau pada hakikatnya adalah hamba Allaah. Hal ini sebagaimana penolakan beliau atas penghormatan berlebih dari para Sahabat dan menjawabnya dengan “Sesungguhnya saya adalah rasul dan hamba Allaah” dalam suatu hadits sahih.

Maka dari itu Abdullah bin Mas’ud menerangkan bahwa Allaah mencari hati hamba yang paling bersih dan memilih hati Muhammad bin Abdullaah Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam yang paling bersih kemudian diangkat menjadi Rasul.

Berdasarkan dalil tersebut maka batallah pemikiran dan anggapan bahwa Rasulullah ‘alayhs sholatu was salam bukan dari keturunan Nabi Adam, seorang manusia. Entah anggapan diciptakan dari cahaya atau segalanya, faktanya Rasulullaah adalah manusia biasa seperti kita. Apa yang membedakan? secara jelas adalah diturunkannya wahyu kepada beliau disertai ke-ma shum-an melalui penjagaan Allaah ‘azza wa jalla. Selebihnya beliau hidup dan wafat sebagaimana manusia, lapar dan dahaga sebagaimana manusia, sakit dan terluka sebagaimana manusia. Wallahu a’lam.

2. Tauhid sebagai Substansi Islam

Selain mengabarkan hakikat dirinya, Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam  juga membawa risalah. Substansi dari risalah kenabian beliau adalah tauhid, pengesaan kepada Allaah ‘azza wa jalla saja. Hal ini lah yang menjadi sebab terbesar pembeda antara kaum Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam dengan kaum kafir quraisy, pembeda antara muslim dengan yang lain. Bab ini banyak di ulas dalam kitab – kitab para ‘ulama masyhur.

3. Perjumpaan dengan Allaah adalah Hadiah yang Agung

Pernahkan kita merindukan seseorang yang kita cintai? menghendaki barang yang jadi idaman kita bahkan kala terlelap? Mobil Ferari, Istri cantik nan sholihah, hingga Istana yang Megah? Ya, setiap manusia memiliki angan – angan itu dan wajar.

Ketika kita mencapai yang kita idamkan, apa yang terjadi? senang luar biasa bukan? menghabiskan waktu dengannya serasa singkat dan mendalam.

Ya, seperti itulah kelak jika kita dipertemukan dengan Allaah kelak di akhirat. Bahkan jauh lebih hebat.

Bagaimana caranya? Allaah juga memberikan mekanismenya.

Cukup mengerjakan amal salih dan tidak mensyirikkan Dia. Hal ini sebagaiman frasa doa yang sering kita lantunkan “Yaa Rabb kami, berikanlah kami di dunia kebaikan, di akhirat kebaikan dan lindungilah kami dari adzab neraka”.

Mengapa ada permohonan perlindungan dari adzab neraka?

Karena setiap kesalahan adalah dosa dan dosa akan dibayar dengan siksa di neraka sebagaimana diterangkan dalam hadits mengenai keutamaan jujur dan bahaya dusta.

Dan syirik?

Allaah menegaskan dalam surat lain bahwa Dia tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selainnya bagi yang Dia kehendaki. Ayat lain menegaskan bahwa sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang sangat agung. Bukankah kedzaliman menurut Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam adalah kegelapan di hari akhir?

Demikian sedikit ulasan dan pelajaran dari akhir surat Al Kahfi. Sesungguhnya banyak lagi ibroh dan hikmah dari ayat ini namun kelemahan dan kejahilan penulis belum mampu mengambil mutiara yang lebih banyak. Semoga Allaah ‘azza wa jalla mengampuni penulis dan pembaca serta memberikan keikhlasan dalam ‘amal salih.

Wallahul musta’an.

Mari meramaikan jumat yang hebat.

images

Komentar Anda