Gerhana, Syariat dan Umat

Kemarin, 10 Maret 2016 terjadi peristiwa astronomik yang hanya berlangsung 30an tahun sekali. Ya, Gerhana matahari, ketika rembulan yang kecil menutupi sinar sang surya ke muka bumi. Bahkan gerhana matahari ini berlangsung total dan hanya melewati negara Indonesia.

What make it so special?

Gerhana dan Syariat Islam

Islam sebagai way of life memiliki ajaran yang komprehensif dalam kehidupan bermasyarakat bagi umatnya. Bahkan dikisahkan seorang yahudi memuji Islam kepada seorang sahabat dengan mengatakan, “Agamamu mengajarkan hingga urusan kencing sekalipun”. Benar, dari urusan membuang sampah diri, menjaga hati hingga mengurusi haji dan membentuk konstitusi diatur di dalam Islam baik secara prinsipil maupun detail.

Diantara perkara yang diatur di dalam Islam adalah penyikapan atas peristiwa alam semesta. Ketika hujan turun, ada doanya. Termasuk ketika terjadi gerhana matahari, ada syariat yang mengaturnya. Luar biasa sekali ajaran Islam ini bukan?

Diantara argumentasi ahkam yang menjadi landasannya adalah titah Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam (dan beliau berkata sesuai dengan wahyu – cek An Najm ayat 3-4), beliau bersabda :

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah” Diriwayatkan Imam Bukhari.

Di dalam pesan kenabian ini terdapat tiga poin penting yang dapat kita ambil pelajaran,

apa saja?

1. Eksistensi Ayat Kauniyah sebagai tanda – tanda eksistensi Allaah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta, sebagaimana eksistensi Smartphone dan Laptop yang anda gunakan untuk membaca tulisan ini dihasilkan dari eksistensi desainer dan produsennya, manusia. Maka apakah logis jika sistem tata galaksi kita berjalan by default tanpa ada yang mengatur oleh kekuasaan yang Maha Besar? sementara iOS komputer saja ada yang mengkoding, fiksasi jika rusak dan diupgrade oleh programmer? a fa laa ta’qiluun?

2. Tauhid merupakan landasan hidup Muslim dan penting untuk senantiasa diingatkan, bahwa ayat kauniyah merupakan sunatullah yang tidak memiliki urusan dengan takdir baik atau buruk. Hal ini dapat dirujuk pada ayat dan hadits yang membahas mengenai bathilnya menyandarkan urusan takdir baik/buruk kepada peristiwa alam seperti imigrasi burung, datangnya burung gagak dan semacamnya. Wallaahu a’lam.

3. Syariat menyikapi Gerhana, melalui hadits tersebut, Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam juga memberikan anjuran ubudiyah ketika terjadi suatu peristiwa. Ibadah is everywhere, not only in Masjid. Tidak ada celah sekulerisasi di dalam Islam melalui dzikr baik ketika berjalan, berdiri, duduk, berbaring bahkan sebelum tidur dan masuk kamar mandi. Peristiwa gerhana matahari juga mengandung implikasi ubudiyah antara lain berdo’a, takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allaah Rabbusy syam wal qomar, sholat khusus gerhana (dan hal ini banyak dibahas pada pembahasan ahli agama) dan sedekah. Ajib!

Diantara hikmah dari peristiwa gerhana matahari kemarin adalah berbondong – bondongnya umat Islam Indonesia untuk menghadiri sholat gerhana berjama’ah di masjid. Allaahu Akbar! Hal ini sangat berbeda dengan pandangan bahwa umat Islam Indonesia adalah umat yang sekuler, anti-agama atau semacamnya. Umat ini masih memiliki kecintaan dengan agamanya, tinggal bagaimana penyeru – penyeru al Haq mampu mengajak umat yang “polos” ini kepada kebaikan dan kebenaran.

Memang tidak seramai sholat ‘ied atau jumatan namun animo ini memiliki hikmah yang agung untuk umat. Ukhuwah Islamiyah.

Sholat Gerhana dan Ukhuwah Umat

Ya, penanaman rasa kebersamaan, korsa bahasa militernya, yang diajarkan Islam merupakan salah satu pilar kemajuannya. Hal ini telah diwatni – wanti oleh Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam melalui hadits – hadits perpecahan dan solusinya. Ya, solusinya. Kembali kepada Al Qur an dan As Sunnah. Imam Malik rahimahullaah mengatakan bahwa tidak akan berjaya suatu kaum kecuali apa yang membuat mereka dahulu berjaya. Mafhum mukholafa’ dari pendapat beliau adalah jika kita menghendaki kejayaan umat pada masa kini maka mari mengambil apa – apa yang menjadikan umat terdahulu berjaya. Prinsip apa yang mereka jalankan? proses-nya apa saja? penyikapan dan strateginya. Tentu hal ini bukan kembali ke jaman batu dan hanya orang yang sempit akal yang berpikir seperti itu. Namun prinsip dan idealisme-nya lah yang harus dijadikan rujukan. Inilah yang membuat Al Qur an dan As Sunnah yang menjadi konstitusi peradaban Islam, bukan untanya atau padang pasirnya. Fahimtum?

Kembali pada hikmah gerhana dan ukhuwah, sebenarnya tidak hanya sholat gerhana, ‘ied dan jumatan saja umat disyariatkan untuk berjama’ah namun juga sholat fardhu lima kali sehari. Mengapa? karena di dalam syariat sholat tersimpan banyak praktik yang dapat menanamkan rasa kebersamaan umat. Sebut saja adzan, panggilan untuk sholat ini merupakan pintu kebersamaan. Apakah seorang muslim sebagai individu mau menjawab adzan dengan mendatangi sholat berjama’ah, meninggalkan urusan personalnya untuk urusan komunal. Ya, urusan komunal yang meningkatkan 27 derajat keutamaannya. Itu masih adzan sholat.

Kemudian masuk ke sholat, Imam memiliki tanggung jawab untuk memastikan shof jama’ahnya rapat (dan berapa banyak imam yang melalaikan hal ini, SubhanaLlaah). Mengapa harus rapat? karena hal ini secara khusus oleh Rasulullaah ‘alayhis sholatu was salam menyatakan bahwa merapatkan shof sholat merupakan bentuk kebersatuan. Beliau bersabda yang diriwayatkan Imam Muslim:

“Luruskan, dan jangan berselisih (dalam lurusnya shaf), sehingga hati kalian menjadi berselisih.”

Dan di hadits lain yang juga riwayat Imam Muslim :

“Hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, kalau tidak Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih.”

Allaahu Akbar!

Banyak teorema dan analisis mengenai mengapa umat berselisih, namun berapa banyak dari kita yang lalai dengan hal ini? dan ini adalah perkataan Rasul al MushthofaWa maa yantiquu ‘anil hawaa, in huwa wahyuu yuuhaa!

Maka saudara pembaca sekalian, Islam telah menyediakan kurikulum ilahiyah kepada umatnya dalam segala sektor kehidupan. Tidak hanya untuk diketahui dan sekedar menjadi koleksi namun harus diimplementasi minimal kepada diri sendiri.

Bukanlah Ukhuwah Islamiyah dibangun dari Futsalan, Cangkrukan atau Pe-eSan, namun dia dibangun dari mengajak kebaikan mencegah keburukan untuk diri sendiri dan saudara kita, mendoakannya kala mustajabah, bersabar atas kejahilannya, merendah dengan keutamannya.

“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”
Hadits ‘Arbain Nawawi

Semoga Allaah menjadikan tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

Wallaahul musta’an.

Sebelum-Menonton-Gerhana-Matahari-Total-Pelajari-Dulu-Tata-Cara-Sholat-Gerhana-Berikut-Ini-730x400

Sumber Gambar : http://www.dailymoslem.com/wp-content/uploads/2016/03/Sebelum-Menonton-Gerhana-Matahari-Total-Pelajari-Dulu-Tata-Cara-Sholat-Gerhana-Berikut-Ini-730×400.jpg

Komentar Anda