Menyikapi Sebuah “Isu”

IMG_20150521_161443

Bismillaah,

Awal pekan ini saya dikontak langsung oleh salah satu saudara (jauh) saya. Beliau meminta saya untuk berbagi bersama koleganya di organisasi yang juga pernah saya nahkodai. Badan Eksekutif Mahasiswa. Temanya Manajemen Isu, ya, cukup besar jika dibahas hanya satu jam. Saya mengiyakan dengan pikiran saya sederhanakan in syaa Allaah, seperti judul tulisan ini.

Isu sendiri secara sederhana merupakan suatu permasalahan yang ada dan kita rasakan sebagai masalah. Sederhananya jika ada masalah maka itulah isu. Tidak perlu pembahasan gramatikal karena ini bukan skripsi. Atau Thesis.

Isu bisa berbentuk apa saja dan dimana saja, kapan saja juga. Telat sholat subuh, itu isu. Kamar berantakan, itu juga isu. Korupsi APBD, isu banget. Maka isu juga memiliki cakupan dan implikasi yang berbeda – beda mulai dari isu personal, isu institusional hingga isu internasional. Sederhana bukan?

Kemudian menyikapi isu, saya masih teringat dengan prinsip yang “didoktrin” ketika saya pendidikan di Resimen Mahasiswa ketika menghadapi isu seperti tersesat di hutan. Apa itu?

STOP

Ya, prinsip ini merupakan akronim dari S(it) T(hink) O(bserve) P(lan).

Sit

Duduk, tenangkan diri ketika ada isu menerpa. Apalagi sebagai aktivis, segala hal bisa menjadi isu mulai dari tingkat internal, rektorat hingga mancanegara. Maka ditengah gaduhnya badai isu yang menerpa, first thing is keep calm.

Think

Analisa isu yang ada secara sederhana namun tajam. Penggunaan tools analisis seperti Cost and Benefit, Fish Bone atau SWOT/TOWS bukan ide yang buruk untuk membantu analisis kita. Jika isunya banyak, tetapkan prioritas. Menetapkan prioritas juga butuh tools analisa agar tepat dalam bertindak. Hasil analisis ini akan berpengaruh pada poin berikutnya, yakni

Observe

Kenali sekitar, medan dan kondisi yang ada baik internal maupun eksternal. JIka dianalogikan nyasar di hutan, lihat kondisi cuaca, siang atau malam, perbekalan dan kesehatan untuk menentukan sikap entah memilih berteduh istirahat atau melanjutkan perjalanan. Dan yang terakhir sebelum action adalah,

Plan

Perencanaan sesederhana apapun in syaa Allaah akan menghasilkan tindakan yang tepat. Hal ini dikarenakan setiap tindakan dari perencanaan siap diterima konsekuensinya entah baik atau buruk. Plan for the best prepare for the worst and pray for the rest.

STOP sendiri merupakan tools dalam menyikapi isu. Hal yang penting adalah adanya Idealism, Goals dan Action dari hal tersebut. Idealisme sendiri merupakan nilai atau norma yang menjadi cita baik personal atau institusional. Abstrak memang namun idealisme merupakan jiwa yang mengikat perjuangan.

Goals merupakan tujuan konkret yang hendak dicapai dari hasil penyikapan isu. Poinnya adalah Goals didasarkan pada idealisme dan bentuk riil dari perjuangan idealisme. Selebihnya adalah aksi, tindakan untuk bergerak didasarkan dari analisa dan kebutuhan.

Contoh kasus isu UKT. Idealisme dalam penyikapan isu ini adalah “Keadilan bagi mahasiswa”. Esensinya ada pada keadilan untuk mahasiswa. Adapun Goals-nya bisa jadi adanya diskusi secara langsung antara Mahasiswa dengan Rektorat, Transparansi pendanaan hingga penetapan UKT Tingkat 2 atau 3. Goals ini bentuk konkret dari Idealisme. Action-nya juga beragam mulai dari Advokasi, penempuhan jalur hukum (jika siap dan panjang nafas) hingga Aksi Simpatik/Kreatif untuk menggalang bargaining position , yang didasarkan dari penerapan STOP. Sudah cukup jelas beda antara Idealisme, Goals dan Action kan?

Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi para aktivis untuk tidak sekedar meyakini mungkarnya suatu kemungkaran, komentar nan berkicau atas suatu kemungkaran namun turun tangan dalam menyelesaikan kemungkaran. “Keimanan” aktivis memang dituntut tnggi karena harus aktif, bukan pasif layaknya “Pasifis” bahkan na’udzubiLlaah menjadi “Apatis”. Ya, apatis yang tak lagi merasa adanya kemungkaran.

Knowledge, Prinsip, Idealisme dari aktivis harus memiliki buah aksi dan tindakan atau sia-sia yang ditanamnya. Adagium arab berkata, Al Ilmu bilaa al ‘amal kasy syajaroti bilaa ats tsamar, Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.

Menutup diskusi, saya membawakan ayat yang juga dibawakan oleh Bung Karno di dalam surat Ar Ra’d ayat 11 yang terjemahan bebasnya berbunyi, Allaah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut merubah nasibnya sendiri. Tidak akan kenyang perut seseorang kecuali dia mengantarkan makanannya ke mulutnya, atau disuapi.

Ah ya, saya juga sempat beropini bahwa berapa banyak manusia ketika melihat isu merka hanya diam, berapa banyak lagi yang beropini (konstruktif, karena bagi saya menyindir, nyinyir, komentar destruktif bukan termasuk nahi mungkar) namun berapa banyak yang melalukan aksi nyata dengan tangan mereka, minimal menengadahkan tangan di waktu mustajabah. Semoga kita dimasukkan dalam golongan yang meyakini, menasihati dan merenovasi kondisi bangsa ini. Mulai dari diri sendiri.

Semoga bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

*dokumentasi pribadi, Aksi BEM SI di depan istana Mei 2015

 

Komentar Anda