Memaknai Al Kahfi : Somasi “In Syaa Allaah”

Dengan menyebut Nama dan Sifat Allaah Yang Maha Pengasih nan Maha Pemurah

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullaah Muhammad ibn Abdullaah Al Quraisy serta kepada ahlul bait beliau, Khulafa ur Rasyidin, para sahabat dan pengikut setia beliau.

Fenomena kaum muslimin hari ini sungguh unik khususnya di Indonesia. Ada mereka yang sangat bangga dengan ke-islam-annya bahkan sampai taraf berlebihan atau sebaliknya, ada juga yang merasa status Islam-nya adalah suatu masalah. Tentu sebagai umat Islam, merupakan hal yang logis jika status Islam adalah anugerah serta pembeda dengan pemeluk agama atau way of life lainnya. Hal ini sudah maklum bagi mereka yang masih waras, wallaahu a’lam.

Islam sebagai way of life sendiri banyak mewarnai kehidupan bernegara dan bermasyarakat di Indonesia. Sebut saja serapan bahasa, istilah kelembagaan, aturan – aturan hukum hingga adat kebiasaan. Di antara kebiasaan yang lumrah di masyarakat adalah penggunaan kalimat “In Syaa Allaah”. (Saya merujuk pada pembacaan jumlah/kalimat dari bahasa arabnya dan saya hormati jikalau pembaca berbeda pendapat, Wallaahu a’lam)

Tahukah kita apa di balik kata ringan, “In Syaa Allaah” ini?

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi’,

kecuali (dengan menyebut), ‘Insya-Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini’.

(Terjemahan QS. Al-Kahfi: 23-24)

Di dalam surat yang merupakan sunnah untuk dirutinkan di baca di hari jumat ini, terkandung substansi besar di dalamnya. Akidah.

Pelarangan diawal ayat tersebut berkaitan dengan keyakinan seorang muslim terkait masa depan. Hal ini disebabkan seseorang tidak tahu mengenai hal ghoib kecuali Allaah kehendaki untuk diketahuinya berdasarkan nash. Artinya ilmu ghoib, termasuk masa depan mutlak milik Allaah. Allaah berfirman dalam Az Zumar ayat 46 :

“Katakanlah: Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya.”

Dan termasuk tanda ketaqwaan seseorang adalah mengimani hal yang ghoib sebagaimana dituturkan dalam Al Baqoroh ayat 3 :

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Kembali pada perkara In syaa Allaah, yang merupakan bentuk tawakal seseorang kepada Allah mengenai masa depan yang ghoib. Penyebutannya itu merupakan bentuk keselamatan dalam aqidah mengenai hal ghoib dan bentuk perendahan hamba kepada Rabb-nya.

Selain itu, pada ayat berikutnya Allaah ‘azza wa jalla mengingatkan bahwa kelupaan merupakan tabiat manusiawi. Hal ini diingatkan pada surat Al Kahfi pula dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alayhimas salam :

“Musa berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”

Termasuk diantara tabiat kelupaan dalam manusia ada di akhir surat Al Baqoroh, ayat 286 yang berbunyi :

“… Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah …”

Dan ibnu Katisr Rahimahullah berpendapat di dalam tafsirnya :

“Inilah petunjuk Allah Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentang adab tatkala beliau berkeinginan kuat akan sesuatu dan pasti akan melakukan perbuatan tersebut diwaktu mendatang maka hendaknya diikuti dengan ucapan insyaallah.

Karena Dialah dzat yang mengetahui perkara ghaib, mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, segala sesuatu yang akan terjadi, segala sesuatu yang tidak terjadi dan bagaimana sesuatu yang tidak terjadi tersebut seandainya terjadi.”

Akan tetapi kata In syaa Allaah bukan menjadi sebab pembenar bagi seorang muslim untuk berkilah, berdusta dan sejak dari awal sudah tidak berniat memenuhi perkataannya. Hal ini jelas – jelas merupakan bentuk pelecehan dan perendahan syariat Islam.

In syaa Allaah hanya dapat dibatalkan jika ada udzur – udzur syar’i yang mencegah seseorang untuk memenuhi perkataannya, yang dia tidak pernah sangka, harap dan tahu seperti kecelakaan, sakit keras, musibah yang besar hingga kematian. Wallaahu a’lam.

Oleh sebab itu, sudah menjadi adab bagi seorang muslim dalam mengemukakan pernyataan khususnya janji dengan in syaa Allaah sebagai bentuk tawakal kepada Allaah ‘azza wa jalla dan bukan sebagai pembenaran “May be yes maybe no” atau “50-50”. Karena diantara akhlak seorang muslim adalah kejujuran.

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga.

Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.”

Hadits Riwayat Muslim

Semoga kita dimasukkan dalam golongan Shiddiqun,

Wallaahul musta’an.

 

1

Sumber Gambar : https://il1.picdn.net/shutterstock/videos/1261345/thumb/1.jpg

 

Komentar Anda