PR Besar Kita

Bismillah, Was Sholatu Wa Salam ‘ala RosuliLlaah,

Sesungguhnya terjadi banyak fitnah terjadi ditengah – tengah kita. Sebut saja polemik di tingkat proletar macam Buruh Konvensional vs Buruh Digital (you know what i mean, really), polemik di tingkat menengah khususnya di dunia maya seperti pro-kontra memilih pemimpin yang masih kafir (atau belum memeluk Islam) hingga di tataran atas terkait sandera-menyandera kepentingan kekuasaan. Ya, mungkin dan bisa jadi ini merupakan diantara hikmah diajarkannya doa di tasyahud akhir yang jika diartikan “Aku  berlindung dari fitnah kehidupan dan kematian”. Wallaahu a’lam.

Pertanyaan besar kita hingga dapat gelar Profesor bahkan gelar paripurna, rahimahullaah pun tetap sama, mengapa fitnah dunia ini terjadi? mengapa polemik ini tak kunjung usai dan bagaimana solusinya?

Well, bermacam – macam jawaban keluar baik yang sudah konkret berbentuk karya ilmiah hingga yang sekedar obrolan warung kopi. Perspektif yang digunakan juga bermacam – macam mulai dari ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hingga agama. satu perspektif pun juga menawarkan banyak dimensi, agama contohnya. Ada yang bilang khilafah solusinya, sholat solusinya, infaq solusinya, tauhid solusinya dan semacamnya.

Realitanya, fitnah tak kunjung kelar. Maka dapatkah kita salahkah semua solusi yang digagaskan oleh mereka yang kanan notok hingga belok kiri?

Saya lebih sepakat, memang seperti inilah dunia ini didesain.

Solusi satu sama lain bisa jadi memiliki korelasi yang kuat hingga menjadi solusi kolaboratif. Pada sisi yang lain ada solusi – solusi yang saling menegasikan, tak bisa disatukan.

Terus bagaimana?

Do the people think that they will be left to say, “We believe” and they will not be tried? – Al Ankabut : 2

Segala solusi, baik yang sifatnya sekuler notok sampai transendental ndakik. seberbeda – bedanya pasti memiliki satu persamaan.

Pemikiran, ya, aqidah.

Aqidah yang bermakna ikatan merupakan dasar dari segala idealisme yang diperjuangkan masing – masing pihak.

Penguatan pemikiran atau aqidah pasti memiliki porsi lebih dahulu, prioritas dan memakan waktu dalam setiap sejarah pemikiran dunia.

Berapa kira – kira kaum liberal menempa pemikiran mereka? singkat? tidak!

Jika saudara membaca filsafat barat, mereka memulainya sejak jaman yunani kuno yang terus menerus dipermak dan diperbaharui sesuai pesanan.

Kaum komunis? juga tak kalah lama.

Manifesto komunis Karl Marx tidak disusun secara singkat namun bertahun – tahun dan terus dihegemoni hingga menjadi pemikiran negara.

Bagaimana dengan Islam? Ah anda mungkin juga tahu bahkan lebih hapal dari saya.

23 tahun lebih masa kenabian, 13 tahun digunakan untuk memperkuan pemikiran umat Islam. Kalau dikonversikan, dari SD kelas 1 hingga SMA/SMK kelas 3 yang dipelajari dan dilatih oleh kaum muhajirin diprioritaskan pada tauhid sebagai aqidah Islam. Mengesakan Allaah dalam beribadah entah ibadah amali atau i’tiqodi dan menegaskan bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allaah sebenar – benarnya ‘alayhi sholatu wa salam.

Bagaimana ngerinya masa – masa ini bagi kaum muhajirin, mulai dari ditimpuk batu kerikil hingga ditindih batu raksasa. Dilempar kotoran unta hingga dimasukkan tongkat di dalam lubang tubuh. Diusir dari rumah hingga dipaksa oleh ibunda untuk keluar agama. Diasingkan bertahun – tahun hingga mengungsi mencari bantuan.

Hasilnya?

Ditundukkan pembendaharaan dunia, dilumpuhkan kedua negeri adidaya, digetarkan sanubari mereka yang hasad dan dengki bahkan ditutupnya pintu fitnah hingga wafatnya Al Faruq radhiyallaahu ‘anhu. Maa syaa Allaah ta’ala.

 

Ada suatu hadits sahih yang menceritakan seorang sahabat yang meminta Rasulullah ‘alayhi sholatu wa salam untuk berdoa menyegerakan kemenangan umat. Apa jawab beliau al mushtofa?

Beliau menjawab dengan permisalan umat terdahulu, yang dibelah tubuhnya menjadi dua dengan gergaji, gergaji di masa lalu, bukan laser atau pedang star wars. Ada juga yang disisir rambutnya bukan untuk direbonding tapi agar keluar dari agama yang diajarkan oleh para nabi dan rasul, disisirlah rambutnya dengan besi hingga tidak hanya rambut yang lepas tapi kulit dan dagingnya hingga nampak tulang tengkoraknya. Allaahu akbar.

Kemudian, ash shodiq al masduq ‘alayhi sholatu wa salam menasihati sahabatnya bahwa kita tidak boleh isti’jal atau tergesa – gesa. Dan inilah yang dimaknai secara mendalam oleh para sahabat. Mereka memperbaiki pondasi, membenahi pemikiran kaum muslimin sebelum yang lain.

Ingatkah kita apa yang dilakukan Abu Bakar terhadap Umar kala wafatnya Habibana ‘alayhi sholatu wa salam? Urusan pemikiran seseorang atas rasul yang dibenahi, bahwa Muhammad adalah rasul dan manusia, beliau wafat sebagaimana manusia pada umumnya sedangkan Allaah Maha Hidup dan tidak mati. Lemaslah Umar yang setan pun takut berpapasan dengannya. Inilah Abu Bakar Ash Shiddiiq, manusia terbaik setelah kekasihnya, mantunya, Rasulnya. Umar mengakui bahwa kekasihnya sudah wafat, dan menjadi tugasnyalah untuk meneruskan perjuangan menebar rahmah lil ‘alam, islam dan segala ajarannya.

Pemikiran, aqidah, pondasi, cara berpikir, cara menggunakan akal.

Sayang seribu sayang, masih ada mereka yang diluar sana masih tertipu, mungkin saya juga.

Mengatakan bahwa Islam tidak sempurna, Islam masih ada kekurangan, Islam perlu di hermeneutika ajarannya, Rasul tidak diutus untuk meng-islam-kan manusia (kalau begini ngapain ada syahadat?) dan segala hal yang tidak bisa disebutkan satu persatu karena saking banyaknya pemikiran tersebut.

(Dari sini saya semakin yakin bahwa umat ini sedang terpecah belah dan tidak akan bersepakat dalam kesesatan karena selalu dan pasti ada seseorang/kaum yang memegang kebenaran walau mayoritas sudah ngelantur)

Entahlah, mungkin kita bisa kembali membuka sejarah Islam dahulu, what make a difference between the sahabah and the generation after them.

Ya, karena proses madrasah dan tarbiyahnya berbeda. Para sahabat sebelum di-tarbiyah, mereka di-tashfiyah oleh Rasulullaah ‘alayhi sholatu was salam. Pembersihan dari noktah – noktah kesyirikan entah besar maupun kecil. Maka penempaannya pun juga luar biasa, kesabarannya istimewa bahkan rela miskin tak berharta hingga mati tak bernyawa.

Hari ini? ah sudahlah, tak perlu saya melakukan evaluasi besar – besaran mengenai sistem kaderisasi baik sekolah sekuler maupun sekolah yang membawa nama Islam.

Wallaahul musta’an

Jika kita mengaku bahwa Muhammad bin Abdullah shallallaah ‘alayhi wa salam adalah uswah hasanah dan manusia terbaik yang pernah ada, maka apa yang membuat kita begitu sombongnya hanya belajar urusan aqidah hanya secuil, hanya belajar keutamaan Islam cuma segelintir, hanya memaknai Laa ilaaha illa Allaah sekedar dibibir? Padahal Bilal harus dipanggang diantara bumi yang panas hanya untuk menguji istiqomahnya dalam berucap “Ahad!”?

Sudah selayaknya kita belajar kembali dari para pengikut sejati Nabi, para sahabat radhiyallaah ‘anhum, generasi terbaik dan terbukti keterbaikannya.

Atau minimal belajar kepada generasi terbaik bangsa ini, salah satunya M. Natsir rahimahullaah yang pagi belajar ilmu sekuler dan malam belajar ilmu Islam dengan hasilnya yang luar biasa di mata umat walau disia-sia di mata bangsa sendiri.

Ya, dalam diam ditengah gaduhnya dunia maya nan fana, sudah saatnya kita menguatkan diri. Ditengah manisnya jumlah like dan follower serta fans yang menggoda, sudah saatnya hati ini di-tashfiyah sembari di-tarbiyah.

Seorang aktivis lulusan PTN tak perlu gamang menjual idealismenya hanya karena sesuap nasi karena keyakinannya bahwa Allaah Ar Raaziq, banyak cara yang halal wa thoyib untuk menafkahi diri.

Seorang driver taksi tak perlu emosi hanya karena kalah saing dengan hasil karya anak bangsa lulusan kampus sekuler terbaik, karena keyakinannya bahwa Allaah Al Hakim yang burung saja keluar pagi dengan lapar dan pulang malam sudah kenyang.

Seorang politisi tak perlu lagi menyogok dan bersiasat busuk (dan celakanya membawa dalil) karena keyakinannya bahwa Allaah Al ‘Alim yang mengetahui bahwa dia sudah berusaha sebaik-baiknya tanpa melangkah ke yang haram.

Seorang aktifis tak butuh lagi pengakuan dari kelompoknya yang ternyata terbukti menjual idealisme demi popularitas mencari kader untuk ditipu dan diminta KTP-nya kala pemilu, karena dia faham bahwa dunia sementara dan akhirat kekal, sia – sia jika hanya habis waktu untuk memperjuangkan yang fana dan mengabaikan yang kekal.

Seorang lawyer tak perlu lagi menyogok hakim untuk memenangkan perkaranya yang jelas kalah argumentasi karena dia tahu bahwa Allaah Ath Thoyyib, menerima amal hanya yang baik saja.

Seorang Da’i tak butuh lagi berebut pengikut ketika dia sudah menyampaikan dengan sebaik-baiknya karena Allaah Al Haadi, bukan fesbuk atau sosmed lainnya.

Seorang Pendosa tak lagi galau karena sadar Allaah At Tawwab Ar Rahiim sementara seorang ‘Alim tak merasa aman karena tahu bahwa Allaah Ar Rahman juga memiliki Syadiidul ‘Iqaab dan seorang ‘Abid senantiasa menjaga hati karena faham bahwa Allaah ya’lamu maa fii suduur.

Inilah rukun dalam i’tiqod ubudiyyah, bersatunya mahabbah, khouf wa rojaa’.

.

Ini lah tugas besar bagi diri kita, tashfiyah dari penyakit hati dan tarbiyah memperkuat ikatan pemikiran Islam sebelum pemikiran lain. tashfiyah dari kepuasan belajar Islam sepekan sekali dan tarbiyah dengan terus belajar – beramal – mengajak nan bersabar atasnya. tashfiyah dari kesombongan menerima nasihat dan tarbiyah dengan merendahkan hati menyembunyikan prestasi ukhrawi.

Mungkin, kita gampang tersinggung dengan meme dan poster sepele, karena ada noktah sombong di dalam hati kita, menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, dan bukankah kesombongan setitik menjadi sebab musibah terbesar? Ah, dan salah satu masukan dari salah seorang ‘alim untuk berlatih menghilangkan hasad adalah mendukung (di-like dalam kasus Fesbuk) orang yang sedang kita hasad-i agar menjadi hilang kehasadan dalam hati. Mengakui bahwa banyak orang yang memiliki keutamaan dari kita. Wallaahu a’lam

Membersihkan hati, menbina diri, menguatkan pikir, menguji aksi,

Ini PR besar kita, PR besar saya, mari terus belajar agar PR bisa dikerjakan.

Wallaahul musta’an.

And they were not commanded except to worship Allah , [being] sincere to Him in religion, inclining to truth, and to establish prayer and to give zakah.

And that is the correct religion.

Al Bayyinah : 5

images

Pict Source : https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSjYVgs2jlIBL9U6XLVuQmpjP3fdZRqVGtpFdrLc_Y2_iqZmRUqmA

Komentar Anda