The Steps of The Life

Step

Bismillaah,

Sorak ramai mengitari seisi ruangan. Terpal persegi besar yang berisi garis – garis yang menysun persegi kecil – kecil didalamnya, kurang lebih 8 x 8 persegi kecil. Saya tak asing dengan permainan satu ini. Ranjau istilah salah satunya. Kita memiliki tugas untuk mengambil langkah di atas persegi kecil untuk dari salah satu sisi ke sisi seberangnya. Persegi kecil tersebut ada yang bisa dilalui dengan aman, ada yang berisi ranjau. Jika langkah kita masuk ke persegi beranjau, maka kita harus mengulang dari langkah pertama lagi untuk mencari persegi lain sebagai jalan kita menuju seberang, tujuan kita. Adapun fasilitator permainan memegang “kunci” yang berisi persegi mana yang aman dan persegi mana yang beranjau.

Aturannya bermacam – macam, biasanya ketika saya memfasilitasi permainan ini, memperbolehkan peserta membuat peta untuk mengingat jalan – jalan mana saja yang aman. Namun kali ini kala saya menjadi peserta, aturannya tidak boleh ditulis atau ditandai dengan barang. Well, ingatan menjadi alat utama pilihan tim kami.

Alhamdulillaah, ditengah kericuhan dan gerakan dansa langkah kami, semua anggota tim mampu mencapai seberang. Permainan ini sudah kami taklukkan dan sebagaimana pelatihan biasanya, selalu ada sesi refleksi.

Experience is one of the best teacher

Pengetahuan saya akan permainan ini sebelumnya ternyata memiliki sedikit banyak pengaruh terhadap eksekusi tim kami. Kesigapan dan antusiasme tim saya juga semakin menambah semangat. Kami mengingat dengan serius, dengan sedikit heboh tentunya, jalan mana yang beranjau dan mana yang kemungkinan aman. Kami belajar dari pengalaman.

Ya, memang ada dari kami yang harus kembali ke langkah pertama. Keputusan bersama yang kami buat jelas berpengaruh pada efektifitas waktu dan efisiensi gerakan. Untuk melewati terpal sepanjang kurang lebih 1,5 meter, yang bisa saya lompati sekali in syaa Allaah, kami memerlukan kira – kira 50 langkah dari persegi pertama. Benar, kami harus kembali dari awal. Langkah pertama, dan kami terus mencoba untuk mencapai tujuan.

Seringkali kita merasa kegagalan ditengah jalan entah dalam kuliah, kompetisi, organisasi atau asmara menjadikan hidup kita berakhir atau masa depan sudah tak ada lagi untuk kita. Mungkin juga kita terlalu sibuk “mendemo” Sang Pemegang Kunci, mendebatNya dan tak terima dengan keputusanNya.

Namun, salah satu yang menjadi semangat kami untuk terus melangkah adalah keyakinan kami bahwa selalu ada jalan. Ya, selalu ada meski harus mundur kebelakang jika perlu. Kami tak perlu mendemo fasilitator karena kami tahu tak ada gunanya dan yang kami lakukan adalah terus melangkah, terus mencoba.

Kesibukan kita dan pendeknya sumbu kesabaran membuat kita sering berburuk sangka kepada Sang Pemegang Kunci padahal, Dia sudah memberikan kunci itu kepada kita. Ya, melalui utusannya. Hilangnya tawakal kita ketika ditimpa musibah entah masalah harta, tahta atau asmara bisa jadi karena kurangnya keyakinan hati bahwa selalu ada jalan yang aman dari “ranjau”. Allaah azza wa jalla berfirman di dalam surat yang banyak dari kita hapalkan yang jika diterjemahkan bebas :

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” TQS 94 6-7

“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah!” TQS 6: 153

Dan ya, Allaah telah memberitahukan kepada kita bahwa selalu ada solusi dari suatu problematika. Selalu ada obat dari penyakitnya. Jika gagal atau salah, bukan kunci yang Allaah berikan yang salah namun bisa jadi kita kurang mencoba, tidak berani mengambil langkah, atau perlu memperdalam lagi kunci tersebut atau yang celaka lagi, sengaja memilih jalan yang beranjau. Bayangkan saja jika dalam permainan tersebut kami bersikeras mengambil jalan beranjau. Walau sampai seberang sekalipun, usaha kami sia – sia karena sudah melanggar aturan.

Hal yang terpenting adalah keyakinan akan baiknya keputusan Allaah dan selalu ada solusi dari-Nya kemudian diikuti langkah – langkah ikhtiar konkret.

Allaah berfirman pula :

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.  Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allaah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” TQS 2 : 216

 “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” TQS 53 : 2-3

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allaahlah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang Nyata (Lauh Mahfudz)” TQS 11 : 6

Hal ini juga secara langsung digambarkan oleh Sang Utusan, Rasulullah ‘alayhi sholatu wa salam yang jika diterjemahkan berbunyi.

“Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” T.HR Ahmad

Berita ini menerangkan bahwa pada hakikatnya rezeki seseorang sudah ditentukan. Allaah telah menulisnya jauh sebelum penciptaan alam semesta. Permasalahannya adalah hal ini adalah hal gaib, misterius dan ranah ilahiah, tak bisa dijamah oleh manusia. Manusia diberikan kehendak bebas yang tak terbatas untuk menentukan apakah ia akan melangkah atau tidak, melangkah pun ke jalan yang benar atau salah dan melangkah ke jalan salah yang sama serta tak mengindahkan peringatan. Dan bukankah salah satu tugas Sang Utusan adalah memberi kabar baik dan peringatan?

Tentang Burung dan Tawakal

Burung dijadikan contoh oleh Rasulullah ‘alayhi sholatu wa salam dalam hadits tersebut jelas bukan tanpa makna dan tujuan. Sebagai salah satu makhluk Allah, burung diberikan mekanisme dasar yang menggerakan diri mereka. Ketika mereka lapar, mereka cari makan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki. Ya, cukup basic instict sebagai hewan sudah cukup bagi mereka sebagai ikhtiar untuk menjadi kausalitas Allaah ar Rozaq memberi burung makan. Hal yang menarik adalah kadang burung dalam usahanya gagal mendapat buruan dan itu tak menyurutkan perburuan mereka. Mereka hanya terus berusaha dan mencari jalan paling efektif secara naluriah untuk mendapat buruan. Perburuan demi perburuan mereka menjadi diantara sebab kausalitas dari rezeki burung.

Poin tawakal yang disebutkan oleh Rasulullah Sholallaah ‘alayhi wa salam juga penting. Jika dikaitkan dengan burung, mereka dicontohkan pergi pagi lapar dan pulang dalam keadaan kenyang dengan terbang mencari makan dan tawakal. Mungkin, yang dilakukan burung tidak selalu sukar dengan melakukan pelatihan terbang yang baik, membaca buku kiat sukses berburu atau menganalisa SWOT, tidak. Akan tetapi mereka hanya mengikuti kemampuan dasarnya saja yang disesuaikan dengan kondisi tubuhnya. Tak perlu para burung menyusahkan diri dengan hal – hal ribet macam analisa dan kajian strategis berburu, mereka bisa makan. Pada akhirnya, Allaah Ar Rahman Ar Rahim memberi burung makan juga.

Hal yang sama juga berlaku pada makhluk Allaah lainnya. Mekanisme ikhtiar dan tawakal juga berlalu pada mereka. Singa tidak bisa langsung mendapat rusa di hari ini, mereka akan berburu besok dan terus menerus berburu hingga mendapat makanan. Mungkin mereka juga dipaksa hingga mengeluarkan potensi dan energi terakhir mereka dan disinilah Allaah menunjukkan rahmatnya. Ular dan hewan melata juga tidak mungkin bisa bertahan dan bertumbuh jika hanya berdiam di dalam semak – semak, apalagi jika mereka masih seukuran kabel charger kecil. Mereka bergerak dan terus mengembangkan basic instict agar dapat bertahan hidup. Bagi ular yang malas, tentu pilihannya adalah kalah bersaing dan mati tak berdaya. Survival of the fittest, hasil tak akan mengkhianati proses dan bukankah sebaik – baik hasil adalah ridho Allaah?

Pun manusia, ini lah yang menjadi majaz dalam hadits tersebut bahwa burung yang hanya memiliki kehendak bebas terbatas saja bisa menjadi makan hanya mengandalkan basic instict dan tawakal. Maka sudah selayaknya manusia, yang malaikat diperintahkan sujud atasnya, yang iblis hasad atas keutamaan penciptaannya, yang dijanjikan kemenangan bagi kesetiaannya, tidak mengkhawatirkan apa yang dimakannya hari ini bahkan hingga melangkah terus di persegi yang salah.

Ya, ikhtiar dan tawakal berlandaskan pengetahuan.

Akhir Kesadaran

Pada akhir permainan kami juga tersadar. Pengetahuan, wawasan dan pengalaman tidak akan berguna jika tidak dimulai dari langkah pertama. Kegagalan di tengah jalan yang memaksa kami untuk kembali ke persegi pertama bisa bermanfaat jika dan hanya jika kami mengambil langkah demi langkah dan tidak kembali ke persegi beranjau yang sama. Sekali lagi bahkan jika diperlukan mundur dari persegi baris keempat ke baris ketiga sekalipun, untuk mencapai tujuan kami rela melakukannya. Kami tidak memaksa bahwa jalan tersebut harus berurutan karena terkadang jalan tersebut berada di baris yang sama. Kami terus bergerak dan harus bergerak.

Ah, dan satu lagi yang tak kalah penting. Teman. Ketika Islam mengajarkan urgensi memilih teman yang baik tentu bukan tanpa sebab. Ketika seseorang dalam tim kami lupa, kami serentak menunjukkan kepadanya mana jalan yang mana dan mana jalan yang beranjau. Lingkungan berpengaruh pada capaian. Bayangkan saja jika tim kami memilih apatis, membiarkan anggota memilih dan mengingat langkahnya sendiri – sendiri.

Celakanya, berapa banyak dari kita di kehidupan nyata yang memilih bebal tak mendengar pengingatan dari teman atau saudara kita dalam bergerak. Seharusnya kita berterima kasih kepada saudara yang mengingatkan langkah kita dengan kebenaran, fakta dan data yang mereka bawa. Data dan fakta bernas yang dibawakan oleh pengingat bagai asap knalpot yang melayang di jalanan Jakarta bagi mereka yang terus berjalan di persegi beranjau dalam gerakan, bebal sekali. Mungkin ini salah satu makna dari al kibru bathorul haq, menolak kebenaran, menolak bahwa yang dibawa oleh penasihat adalah benar, menolak kebenaran bahwa langkahnya salah, menolak kebenaran bahwa dia melangkah di persegi yang beranjau terus menerus dan tidak akan mencapai tujuan, itupun jika masih memiliki tujuan yang S.M.A.R.T.

Pada akhirnya, semua tergantung pada kita masing – masing. Sibuk melangkah namun tak belajar? Memutuskan untuk diam tak melangkah? Berhenti berusaha ketika gagal? Memilih langkah salah yang sama? Tak mau mengambil jalan selamat walau tak maju kedepan?  Atau terus berusaha untuk mencari jalan yang benar, jika gagal kembali mengulang ke jalan yang selamat, kalaupun mati setidaknya diatas jalan yang aman?

Its just the steps of our life, but remember, your life isnt a game, even there always be the challenge, like a game.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan “Kami beriman” sedang mereka tidak diuji? TQS 29:2

“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya (untuk) bermain – main” TQS 21:16

Wallaahul musta’an

 

Komentar Anda