Menyoal Inferior Syndrom

Malam itu aku bercengkerama dengan salah satu saudara jauhku, MNS inisialnya. Perawakan ganteng dan kenge-hits-annya semakin aduhai ketika dia pulang dari Tokyo tahun lalu. Aku tertarik mendengar perspektifnya selama perjalanannya di negeri matahari terbit. Dia menjelajahi Tokyo dan Hiroshima dalam kegiatan internasional bertema mengenang perang dunia kedua sebagai titik balik negara para samurai. Diskusi kami pun dimulai.

Keberhasilan Bangkitnya Jepang

Jepang sebagai negara yang kalah dalam PD II jelas memiliki trauma yang hebat, terhina dan rendah diri kala itu. Akan tetapi hal tersebut seakan hilang di tahun 2015 bahkan mereka dengan bangga menunjukkan atsar – atsar kekalahan mereka.

Kekalahan dalam PD II dijadikan pelajaran oleh Jepang sebagai titik balik untuk bangkit dan membuktikan kualitas mereka.

Jepang melalui filsafat dan jati dirinya mampu membangun kembali kepercayaan rakyatnya. Pemerintah pun mengemas program – program yang mampu mengenalkan rakyat Jepang yang dahulu tertutup untuk menjadi lebih terbuka dan mengenal dunia. Hingga akhirnya Jepang memiliki branding yang positif dan beragam mulai dari budaya, seni, teknologi hingga peradaban. Pemerintah dan rakyat Jepang mampu bangkit dari inferior syndrome, penyakit rendah diri atau gamon, gagal move on.

Indonesia juga pernah mengalami fase seperti ini. Pasca kemerdekaan, Pemerintah Indonesia dengan segera membangkitkan diri dengan gerakan yang progresif. Ideologi Pancasila dipromosikan oleh Bung Karno sebagai salah satu mahakarya pemikiran anak bangsa. Gerakan Non-Blok dicanangkan sebagai alternatif bagi “negara pinggiran”. Konferensi Asia Afrika dimulai sebagai bentuk perlawanan dingin dari negeri terjajah dan negeri berjiwa pembebas. Bahkan Olimpiade alternatif disediakan di Gelora Bung Karno sebagai aktualisasi bagi negara – negara muda. Ya, para pendahulu bangsa ini bersama rakyat telah mengerahkan upaya terbaik untuk menghilangkan inferior syndrome pasca penjajahan.

Akan tetapi, jika Jepang dan Indonesia telah mengupayakan pengobatan inferior syndrome, mengapa perbedaan antara Jepang dan Indonesia hari ini dari aspek pembangunan masih timpang?

Bagi saya pribadi ada dua faktor yang berpengaruh, internal dan eksternal. Secara internal kebangsaan, baik pemerintah maupun rakyat kedua negara ini sudah memiliki semangat yang sama dalam hal pembangunan negara. Namun, ternyata faktor eksternal yang memiliki pengaruh besar dalam laju pembangunan tersebut.

Perlu diingat bahwa pasca kekalahannya, Jepang diadopsi sebagai “adik” oleh Amerika Serikat dan hingga hari ini pembangunan Jepang dikawal erat oleh Negeri Paman Sam. Bagi Jepang hal ini bisa dimaklumi mengingat Amerika Serikat-lah yang “menampar”nya ketika PD II dan sudah menjadi ethic responsibility bagi AS untuk menemani Jepang untuk bangkit. Jepang bangkit bersama Amerika Serikat.

Hal ini berbeda dengan Indonesia yang secara mandiri mencoba membangun diri sejak kelahirannya. Intervensi asing menjadi “alergi” bagi rakyat yang terbukti dengan pecahnya pertempuran demi pertempuran di wilayah Indonesia seperti Surabaya, Yogyakarta hingga Aceh.

Indonesia dan rakyatnya memang ingin dan butuh dengan kemerdekaan yang hakiki, terlebih setelah di-PHP oleh Jepang, “Cahaya Asia”.

Hal inilah yang membuat negara – negara penguasa blok dunia gerah. Amerika Serikat dengan negara – negara sekutunya sudah berupaya menggigitkan taringnya pasca-kemerdekaan, tapi gagal dan terusir. Bulu kuduk Negara federal ini semakin merinding ketika Komunisme unjuk gigi ketika pemilu pertama di Indonesia. Meraih perolehan suara kedua, PKI sukses mengawal kebijakan Soekarno dengan “Nasakom”-nya serta mencegah “islamisasi” konstitusi dalam medan Dewan Konstituante. Amerika Serikat kebakaran jenggot ketika Soekarno dengan terang – terangan menolak upaya investasi mereka. Indonesia, dibandingkan saudara jauhnya (baca : Jepang) lebih memilih bangkit secara mandiri tanpa intervensi.

Akan tetapi, kondisi ini justru menjadi alasan pembenar bagi Amerika Serikat dan kroconya untuk melakukan segala cara untuk melancarkan pematokan wilayah mereka. Bagaimana agar Amerika Serikat mampu mengeruk kekayaan sumber daya alam Indonesia secara kapitalistik dan untung besar, serta menumpulkan pan-Islamisme mengingat Indonesia merupakan negara muslim terbesar dunia termasuk mencegah jangkauan Soviet di pasifik. Segala lika – liku kebangsaan terjadi hingga akhirnya lahirlah Undang – Undang Penanaman Modal Asing di tahun 60-an yang menjadi pintu emas “investasi” Negara yang konon adidaya ini. Semangat kebangkitan Indonesia berubah drastis.

Adakah Inferior Syndrome Pemuda Indonesia Sekarang?

Kembali ke diskusi kami, sahabatku MSN menyayangkan pemuda Indonesia yang bersama dengannya ketika program tersebut, ada yang masih terjangkiti penyakit inferior meski tak nampak. Silau dengan kondisi negara luar dan seakan buta terhadap realita negara sendiri. Memang, mengambil pelajaran, kebaikan dan manfaat dari negara lain termasuk Jepang bukan hal yang dilarang. Akan tetapi hal ini tidak boleh merendahkan jati diri sendiri dan menutup telinga seakan tidak ada yang baik.

Kabar baiknya, ternyata tidak semua pemuda Indonesia sepeti itu. Masih ada pemuda yang bersamanya di Jepang tetap memiliki objektifitas dalam memandang negara lain dibandingkan dengan negara sendiri. Ya, sudah selayaknya pemuda Indonesia tidak lagi merasa inferior dengan status kebangsaanya karena pada hakikatnya fungsi kebangsaan bukan menunjukkan superioritas, namun heterogenitas. Diskusi kami berakhir dengan pemaknaan mendalam betapa harusnya kita bersyukur dilahirkan di atas tanah yang mengakui rahmat Allaah sebagai sebab kemerdekaannya. Rasa syukur inilah yang menjadi semangat untuk terus membangun dan memperbaiki kondisi rakyat ditengah cabik buas pengeruk keuntungan semu.

Pada akhirnya, perjalanan dari Surabaya ke Roma maupun dari Makasar ke Jepang memang diperlukan. Mengambil pelajaran secara empiris dari tanah orang lain jelas berbeda jika dibandingkan dengan analisa berdasar kertas saja. Merasakan kehangatan budaya setempat maupun congkaknya perilaku personal bisa menjadi pelajaran yang berharga. Mental yang dilatih ketika bersafar di tanah asing juga menjadi bekal latih bagi pengembangan jiwa yang besar. Tak merendah dihadapan orang, hormat dengan perbedaan, santun dalam diskusi hingga siasat menjaga diri. Ya, silahkan pergi sejauh-jauhnya untuk belajar sebagaimana pesan Imam Syafi’i rahimahullah kepada kita. Karena safar menguji sabar, terlebih safar untuk belajar.

Kemanapun kita pergi, rumah ada untuk tempat kembali dan berbakti.

Dan tak lupa, kembalilah ke Indonesia untuk merubah. Karena rakyat telah merindukan sosok pemimpin muda yang tak hanya bermimpi besar namun juga mampu bergerak bersama. Tetap ingatlah dengan rakyat Indonesia. Meski, masih terasa hangat musim panas Tokyo dan menusuknya dingin di atas puncak Fuji, memanggil untuk kembali. Indonesia tanah air beta.

Wallaahul musta’an.

Muklis T Skytree

Sahabat saya, MSN berpose bersama Tokyo Skytree di malam hari.

Courtesy of picture : Akun Resmi FB MSN

Komentar Anda