10 Pelajaran dalam”Batman vs Superman: Dawn of Justice”

Now ‘god’, is good, as dead

– Lex Luthor

Penggalan diatas mengingatkan saya dengan doktrin salah satu ideologi, sebut saja “kiri”, dengan jargonnya “Agama adalah Candu”. Hipotesis mereka didasari karena menganggap Agama sebagai budaya, alat kaum borjuis untuk melanggengkan kuasanya menghisap proletar hingga kering kerontang. Hidup rakyat! (?)

Why so serious? lets take a break.

Kembali ke topik, tahun ini salah satu film yang dinanti para fans setianya, telah tayang. Ya, film pahlawan dengan banyak remake di masa lalu, ada yang menuai pujian nan rinduan hingga bullying karena “saltum”, dan keduanya tampil dalam satu frame, Superman dan Batman. Dan Wonder Woman. Dan Aquaman plus The Flash, dan satu tokoh yang saya tidak tahu siapa, dan ketiganya hanya numpang promosi. phew.

Pelbagai kritik dan komentar mengalir pada film yang diadopsi dari DC Comics ini. Sebagai penonton tidak resmi, saya memiliki pandangan dan kaca mata sendiri dalam menilai. Tentu bukan dari segi koreo, animasi maupun akting bla bla bla. Tapi pesan dan ide yang ditawarkan dalam film berdurasi 150 menitan ini. Apa saja?

  1. Keingintahuan manusia yang tinggi, terlebih pada sesuatu yang “Asing”. Superman sebagaimana dalam film sebelumnya, Man of Steel, telah dikenal sebagai Alien, meski perawakannya identik dengan manusia. Curiousity inilah yang akan melahirkan dua kutub yang kontradiktif;
  2. Kutub yang menerima bahkan berekspektasi tinggi nan berlebihan, menganggap Superman sebagai “Messiah” yang diutus langit. Keingintahuan mereka tidak dilandasi dengan rasionalisasi dan tindakan research. Taklid buta istilah kerennya, mbeo. Hal ini wajar mengingat kecenderungan manusia untuk mengangkat tinggi sesuatu yang beyond their power, yang ketika di masa lampau, pengagungan terhadap seseorang dengan “kemampuan khusus”, sebut saja yang paling “sholeh“, bisa melihat yang “halus” atau tebakannya jitu atau yang paling sederhana, memuja yang paling kuat (atau paling ganteng, paling kaya, dan paling-paling lainnya). Materialisme mulai tumbuh dengan menilai dari dzahir-nya saja.
  3. Kutub yang lain adalah yang resisten dengan hal yang asing. Penjagaan prinsip sebagai manusia, seperti Batman sebelum “ngobras” bersama Superman, konservatif idealis tipikalnya. Selain itu bisa juga resistensi ini dilatar belakangi oleh sakit hati, sebagaimana Lex yang kecewa karena orang tuanya tidak bisa diselamatkan oleh Superman. Ada lagi alasan resistensi ini karena tidak sejalan dengan mereka sebagaimana sikap pemerintah USA di film tersebut (dan terjadi di dunia nyata). If youre not with us, you against us.
  4. Ada lagi sekelompok yang ada diantara dua kutub yang saling tarik menarik ini, bahkan pernah memperjuangkan salah satu kutub. Kelompok moderat, yang berano berdiskusi tatap muka tanpa berasumsi, Batman. Setelah menjajal kekuatan Superman dan membuktikan bahwa “Asing” bisa ditundukkan (dengan modal tentunya) Batman menjadi partner in justice bersama Superman dan Wonder Woman. Kelak mereka berhimpun membentuk jama’ah bernama “Al Jama’ah al ‘Adiliyyah”, bercanda, mereka membentuk Justice League.
  5. Rakyat merupakan sekumpulan individu yang mudah dipengaruhi secara masal, terlebih dengan peran kuasa dan media. Gerakan Anti-Superman merebak dan menguat melalui jalur politis dan propaganda Lex cs. Namun di akhir film gerakannya berubah dengan bentuk dukungan dan romantisme atas jasa Superman. Betapa galaunya rakyat jelata ini.
  6. Pahlawan tetap butuh dukungan. Sebagai manusia (atau alien serupa manusia), jati dirinya sebagai makhluk sosial tidak bisa dihindari. Kepiawaian Batman dalam hajar menghajar tidak akan seperti itu tanpa asuhan Alfred, yang lebih mirip Tony Stark, dengan sabar dan setia. Pun Superman yang survive dari nuklir juga terombang-ambing tak jelas arah tanpa motivasi dari ciwi-nya, Louis Lane. Dan orang tua angkat manusia-nya. Dan wejangan dari ayah kandungnya di Man of Steel. Well, Superman tak se-super yang kita kira. Setidaknya lebih baik dari Commonman dan “Jomblo men!”. ha ha. forget it.
  7. Jangan menunggu Pemerintah mengatasi masalah, karena Pemerintah itu sendiri masalah.” Adagium ini tergambar jelas dengan kenaifan “Presiden” dengan meluncurkan nuklir ke angkasa untuk mengakhiri segalanya. Celakanya malah membuat masalah semakin runyam dengan bertambahnya kemampuan Doomsday. Apa dia tidak memiliki intelijen, pusat riset, staf ahli yang memberi pertimbangan mendalam terkait keputusannya? Memang pada kasus-kasus mendesak seperti ini membutuhkan keputusan cepat. Saya sarankan Tuan Presiden mengangkat staf ahli dari Planet Krypton atau memerintahkan Universitas Harvard membuka Alien Research Institute.
  8. Jangan berekspektasi, bertindaklah. Ketika Louis Lane berenang mengambil “lightspear” dan kemudian gagal bahkan malah keruntuhan, saya menanti datangnya Aquaman dengan gagah berenang dan meloncat menyelamatkannya sambil menenteng guthik ijo (bahasa jawa surabaya : tongkat hijau). Ternyata, ZONK!. Supermen dengan supersense-nya, tapi tidak peka dengan perasaan Louis, dengan sigap menolong. Alhasil ekspektasi saya tak terbayar. Masih mengganjal walau sudah mengira Superman yang akan bertindak. Pada akhirnya yang bertindak yang menang.
  9. Kemenangan butuh pengorbanan. Setelah menyelamatkan Louis dan mengangkat susah payah guthik ijo, Superman say goodbye pada Louis dan langsung menyambar Doomsday bak kilat berwarna hijau. Dan sebagaimana ditebak, Superman ditusuk oleh musuh-nya yang notabene adalah Zombie. Dia bertindak karena sadar bahwa “kunci” kemenangan dan keselamatan dunia ada di tangannya dan jika tidak bertindak dan berkorban, maka tidak akan ada perubahan.
  10. Jika ingin berjalan cepat maka berjalanlah sendirian, namun jika ingin berjalan lebih jauh maka carilah kebersamaan. Quote nge-hits ini menjadi konklusi yang remarkable melalui kolaborasi antara ikatan tali sakti Wonder Woman, tembakan dumpis asap hijau dari Batman dan finishing touch, or slab, dari Superman (dan tongkat hijau, yeay!). Dan hasilnya, menanglah para pahlawan, musuh dikalahkan, dunia aman dan para fans menanti film lanjutan.
  11. BONUS : Manusia itu istimewa, jika kita manusia maka kita istimewa. Bruce Wayne dengan simbol Batman memilih melawan Superman bukan karena takut ke-eksis-annya menurun, fans dan like-ersnya beralih ke lain hati atau jumlah jamaa’ah pengajian Al Batmaniyah nya berkurang drastis. Tidak. Namun diantara niat besarnya adalah memberikan legacy pada manusia bahwa mereka bisa mengurus dirinya sendiri. Manusia mampu melakukan tindakan yang berarti, meski hanya segores di pipi. Bruce mencoba dengan segala daya dan upayanya (sayang dia tidak berdo’a kepada Allaah) untuk menundukkan “tuhan” yang tidak layak disembah oleh rakyat yang lemah. Ketika mampu menangkis pukulan Superman, dengan lantang Batman berkata “Men are Brave“. Sikap kritis nan konstruktif inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya di muka bumi, akal budi yang dianugerahkan menjadi senjata mengamankan diri, ditambah keberanian untuk terus berbenah nan berkembang membuktikan bahwa manusia memang layak dipercaya sebagai khalifah, bukan yang lain.

Man is still good,
we fight, we kill, we betray one another
but we can rebuild, we can do better,
we will, we have to.”

– Bruce Wayne

Mungkin film ini sengaja digantung dengan banyak pertanyaan dan penasaran yang belum terjawab, termasuk kisah dibalik kostum robin dalam batcave, The Flash yang too soon to appear hingga misteri siapa pemeran Batman berikutnya.

Sebagai kaum intelektual, alangkah sayang jika “hiburan” semacam ini, yang menyita waktu dan harta dilewatkan tanpa arti serta pemaknaan filosofis. Padahal film seperti ini bisa sebagai sarana belajar bahasa inggris otodidak yang cukup manjur. Terlepas dari mudhorot yang terkandung didalamnya, film ini cukup memberikan pelajaran baik secara idealis, politis bahkan strategis dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana menurut anda? Gagasan apa lagi yang terkandung di cerita ini?

BvS

Adegan yang menggemparkan, ketika keberanian  manusia mampu menghadang kekuatan asing.

Sumber gambar : https://i.ytimg.com/vi/wpnZ4SmzSqU/maxresdefault.jpg

Komentar Anda