7 Pesan dari The Jungle Book

If we knew what it was we were doing, it would not be called research, would it?

– Albert Einstein

Sebagai independent researcher, saya memerlukan perspektif yang berbeda agar kajian saya kelak memiliki gagasan dan solusi yang outside the box. Bagaimana cara mengasah meneliti sesuatu dari perspektif berbeda?

Menonton film salah satunya.

Jika tetangga sebelah nonton di bioskop untuk halan-halan, kongkow bareng teman atau bareng pacar yang halal, minimal refreshing atau dibilang kekinian. Saya lebih tertarik mencari pesan filosofis, politis dan strategis dari suatu karya. Tentu dengan kacamata ideologi Islam yang saya gunakan agar tidak serta merta mengiyakan dan membeo dengan subliminal messages didalamnya.

Kali ini yang akan saya bahas adalah film yang diadaptasi dari kartun fenomenal dan cukup tua, dibintangi oleh anak kecil yang nyasar ke hutan entah dimana berada, bernama Mowgli si Bolang (bocah ilang : anak yang hilang).

Alkisah bocah ini diajak oleh ayahnya ke hutan, kemudian masuk gua untuk bermalam namun sang bapak menjumpai harimau benggala (mungkin) dan bertarung. Sang bapak tewas namun meninggalkan bekas luka mendalam bagi sang macan bernama Sheer Khan.

Si bocah kemudian ditemukan oleh macan kumbang, Bagheera, dan dititipkan ke kawanan serigala yang dipimpin Akela.

Dan kisah berlalu, hewan demi hewan bermunculan mulai dari beruang, phyton hingga orang utan dan untuk plot lengkap silahkan melihat filmya, atau reviewnya saja jika anda malas menghabiskan waktu dua jam menonton animasi digital yang memukau ini. Its your choice.

Selama menonton gratisan ini, saya mendapatkan banyak insight yang saya rangkum dalam beberapa poin inti, apa saja?

  1. Element of Surprise, film ini meski bukan film horor namun mampu menberikan efek kejutan pada penonton, seakan menjadikannya mengarungi bersama petualangan si bolang. Hal ini sebagaimana kehidupan kita sehari – hari yang penuh dengan kejut demi kejut. Kejutan inilah yang memberikan kita kenangan dan romantisme untuk terus memperjuangkan hidup.
  2. Ubi societas ibi ius, dimana ada kumpulan disitu ada aturan. Hutan rimba yang oleh Darwinis disederhanakan dengan “Survival of The Fittest” ternyata tidak sesederhana itu. Ada kalanya predator dan buruannya harus duduk bersama dikala paceklik dan membutuhkan air. Sang macan Khan harus menahan gairah membunuhnya ketika batu perdamaian muncul dan air menjadi komoditas primer rakyat hutan. Konstitusi atau aturan dasar inilah yang menjadikan hutan terjaga stabilitasnya, berdasarkan perspektif film tersebut tentunya.
  3. The Position of Doctrine, Para serigala merupakan kawanan yang cenderung konservatif idealis dengan gaya hidup mereka. Pembacaan idealisme serigala di setiap pagi merupakan bentuk penjagaan jati diri mereka. Itulah mengapa Akela mengingatkan Si Bolang dengan tegas ketika dia menciduk air dengan bukan cara serigala.
  4. Sometime you need A Propaganda and sometimes you dont, doktrin yang dibungkus melalui propaganda kuasa serigala atas kawanannya ditanggapi sinis oleh gipsian nan liberal, si Baloo sang beruang. Sebenarnya dia sendiri juga telah melakukan propaganda kapitalistik kepada Si Bolang dengan tipuan hibernasi hingga menimbun makanan di guanya. Untungnya dia berbalik menjadi pembela Si Bolang.
  5. Hasad is everywhere and Stigma make it Worst even can kill you, Macan dendam dengan Si Bolang meski Bolang tak tahu kenapa harus dibenci oleh Macan. Macan sudah menjustifikasi bahwa setiap manusia itu perusak hutan dan harus diterkam. Stigma manusia menempel pada Si Bolang. Pun ketika Louis orang utan segede gaban memberi stigma bahwa setiap manusia bisa membuat “Bunga Merah” dan Si Bolang adalah manusia. Logical Fallacy ini wajar dan bisa dimaklumi mengingat tingkat pendidikan keduanya tidak tinggi. Maka jika ada manusia yang mudah memberikan stigma dan justifikasi umum, posisinya dengan hewan ini dimana ya? no offense. Satu lagi, kalau Si Macan tidak cari gara-gara dengan Si Bolang, tentu ceritanya bisa lebih menyenangkan dan dia bisa petualangan bareng Si Bolang (tapi dimana serunya?!). Jangan menggaruk kulit yang tak gatal, kurang gawean.
  6. Focus on The Strength, Panther mengingatkan Si Bolang bahwa jangan melawan Macan dengan cara serigala, karena Bolang bukan serigala. Hal ini yang terkadang tidak disadari oleh kelas pejuang. Ada kelompok yang menuntut mahasiswa untuk melakukan tindakan yang sebenarnya bukan porsi mereka atau sebaliknya. Mereka bisa jadi belum melihat jati diri dan potensi dari masing – masing entitas.
  7. Antrosentrisme Inside, film ini secara tidak langsung memberi pesan bahwa alam semesta berpusat pada manusia, Si Bolang. Potensi sumber daya alam, flora maupun fauna memiliki relasi erat dengan tindakan Si Bolang dan manusia lainnya. Hal ini tentu bertentangan dengan ide Theosentrisme yang mendasarkan bahwa Allaah, The Supreme Thing, merupakan pemegang kendali atas mekanisme yang ada di alam, sementara manusia hanya sebagai operator yang diberi keutamaan dibanding yang lain, kehendak bebas. Kehendak untuk mengelola amanah Allaah berupa alam atau kehendak untuk merusak, mengeksploitasi dan membakar habis hingga punah, itu berganting pada kehendak manusia dan tentu atas se-izin Allaah.
  8. BONUS : Pengetahuan adalah Kekuatan, kejahilan penghuni rimba “sujud” pada Gegajah (jamak bebas dari gajah) merupakan bukti bahwa bentuk kesyirikan berupa pengagungan berlebihan bisa timbul dari ketidaktahuan dan asumsi ada yang “lebih” dari mereka. Berbeda dengan Si Bolang yang setelah tahu bahwa gajah juga makhluk, membutuhkan bantuan, dia dekat dan menaiki gajah meski anakannya (biar rasionya tidak timpang kalau naik indukannya). Pun dalam mengalahkan Si Macan atau mengeksploitasi madu hutan, Si Bolang menggunakan pengalaman yang dielaborasi dengan pengetahuannya mengenai dunia botani dan tali-temali (entah siapa yang mengajarkan hal ini, masih misteri). Pengetahuan adalah kekuatan, kekuatan untuk membawa kebaikan atau kehancuran.
  9. BONUS 2 : Pengorbanan dibutuhkan dalam menjaga stabilitas, kematian (?) dari Louis dan Khan jelas perlu kita perhatikan. Bukankah keduanya, Orang Utan dan Harimau adalah hewan yang terancam punah? namun mengapa dengan tanpa beban di film ini mereka mati begitu saja? dimana pejuang dan aktifis lingkungan hidup? did you see that?! Come on man, ban it if you love tiger…
  10. BONUS 3 : If you wanna be A Conqueor, kill the alpha one. Khan adalah strategis ulung, hapal dengan aturan dasar tentang human-banning, berkarisma dan perkasa serta efektif efisien dalam melakukan gerakan. Cukup mengunyah dan “meludah” Akela sang pemimpin serigala, dia berhasil menundukkan seantero kampung, menguasai teritorialnya dan menebar resah. Mungkin ini yang layak disebut dengan Gerakan Rimba.

Film ini secara tidak langsung juga menggeser tren kartun yang dahulu menjadi trademark Disney menuju teknologi animasi realistik. Ditujukan untuk anak kecil, The Jungle Book jelas lebih humanis dibandingkan dengan Tarzan yang lebih “menantang”.

Well, Overall, itulah beberapa poin yang bisa saya gali dan simpulkan selama menonton film gratisan (karena traktiran) ini. Bagaimana menurut anda? apakah karya ini cukup kuat pesannya untuk dijadikan sarana propaganda?

You change your hunting ground for a few years, and everyone forgets how the Law works. Well, let me remind you. A man-cub becomes a man, and man is forbidden!

– Khan The Tiger and it die fall plus burned

jungle-book

Ojok nyangkem ae, mburimu cong!

Source : http://cdn.idigitaltimes.com/sites/idigitaltimes.com/files/styles/large/public/2016/01/06/jungle-book.jpg

Komentar Anda