Refleksi Al Kahfi dan Hari Bumi

Jumat 15 Rajab 1437 Hijriyah bertepatan dengan peringatan hari bumi 22 April 2016 Masehi. Hari bumi sendiri dicanangkan pada abad ke-20 tepatnya 1970 oleh politisi USA menurut wikipedia. Sebagaimana peringatan pada umumnya, hari bumi melahirkan aksi-reaksi yang mengkampanyekan kepada seluruh penghuni bumi tentang urgensi menjaga kelestarian dan keberlangsungan lingkungan baik di bumi. Environmentalis seluruh dunia bergerak bersama mempropagandakan #saveEarth agar ada kesadaran untuk berbuat konstruktif baik dalam lingkup mikro seperti membuang sampah pada tempatnya hingga lingkup makro yang dicontohkan pengesahan kebijakan ramah lingkungan.

Kemudian apa relasi antara jumat dan hari bumi?

Kaum muslimin diajarkan oleh Al Mushthofa Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam tentang keutamaan membaca surat Al Kahfi di hari jumat, sebagaimana sabda beliau yang jika diterjemahkan berbunyi :

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.”

(HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Pertanyaan yang bisa jadi muncul dalam benak kita adalah, mengapa harus Al Kahfi?

Banyak keterangan dari para ‘alim mengenai hikmah dan ibroh dari surat ke-18 ini mulai dari tafsir hingga keindahan sastranya.

Salah satu pelajaran yang bisa diambil dalam relasinya dengan hari bumi ada pada Al Kahfi ayat 94 yang diterjemahkan berbunyi :

“Mereka berkata: ‘Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?'”

Tafsir dan makna dari ayat ini cukup beragam dari perspektif para ‘alim baik salaf maupun kholaf, namun  ada satu hal yang menyamakan adalah kesepakatan mereka tentang eksistensi ya’juj dan ma’juj dan sifat merusaknya mereka.

Hal inilah yang pada ayat selanjutnya dijelaskan bahwa tingkat berbahaya dari kaum ini membuat Dzulkarnain membuat dinding pengurung antara mereka dengan dunia luar.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil?

Kaitannya dengan hari bumi, tingkat kerusakan yang ditimbulkan manusia pasca industrialisasi telah diteliti dan dirasakan oleh manusia abad ini. Kenaikan suhu yang drastis dengan indikasi carinya es di kutub utara – selatan sebagaimana dikampanyekan oleh Al Gore merupakan salah satu contohnya.

Kerusakan lainnya adalah tingkat kepunahan yang hebat dari fauna di seluruh dunia. Hal ini bisa dikaji salah satunya melalui dokumenter berjudul “Racing Extinction” yang diliris 2015. Perubahan iklim yang ekstrim jelas memberikan dampak pada fauna yang tingkat adaptasinya rendah. Hal ini belum terhitung dari semakin sempitnya habitat hewan yang digeser entah dengan penebangan berlebihan, alih fungsi perkotaan atau peternakan hingga pembunuhan hewan atas dasar uang.

Cukuplah dua contoh kerusakan tersebut menjadi lampu merah besar bagi manusia, yang seharusnya dan menjadi salah satu tujuan penciptaannya dalam rangka ibadah, menjadi khalifah yang mengelola dan menjaga bumi.

Adakah kita melupakan hakikat kita sebagai manusia?

Adakah pertanyaan malaikat di awal penciptaan kita yang atas izin Allaah saja malaikat bertanya, benar-benar terjadi?

Atau anda dan saya, kita semua lebih memilih untuk menjadi khalifah haqiqiyah dengan berbuat baik, konstruktif dan solutif bagi permasalahan umat termasuk rumah sementara kita, kontrakan kita bersama, planet bumi?

Dan membuktikan bahwa, Islam adalah rahmah lil ‘alamiin, ajaran yang memberikan kebaikan tidak hanya bagi penganutnya, namun bagi seluruh alam semesta, termasuk bumi kita.

Maka, inilah salah satu diantara berjuta hikmah Al Kahfi untuk kita baca tiap jum’at, menghafal dan memahaminya.

Bumi ini dibawah pengelolaan kita, manusia.

Rusaknya bumi, baiknya bumi kita akan dimintai pertanggungjawaban sebagai amanah dari khalifah.

Kerusakan yang telah ada didepan mata, wajib kita lawan selama iman kita genggam. Jika ada kewenangan di tangan, mari gunakan, entah memperjuangkan kebijakan pro-lingkungan atau menyebar propagandanya sebagai bentuk perjuangan “lisan-tulisan”. Minimal selemah-lemah iman, kita meyakini bahwa kerusakan bumi tak boleh terjadi dan harus segera diakhiri.

Ya, kerusakan ini akan menguji siapa yang ber-Islam secara kaaffah syamilah dengan mereka yang sekedar klaim bahkan menunggangi untuk kepentingan yang fana.

Perjuangkan bumi, amanah kita, sebagai khalifah.

Inilah Islam, agama rahmah lil ‘alamin.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ar Ruum – 41

hqdefault

Pict Source : https://i.ytimg.com/vi/-R9OB2nLgTM/hqdefault.jpg

 

Komentar Anda