Filosofi Spion : Romantisisme, Evaluasi dan Visi

Saya termasuk orang yang suka meningkatkan kecepatan di jalan. Adrenalin saya seakan merasa excited ketika deburan angin menghujam helm SNI hitam bergaris merah yang masih saya pakai. Tak ayal dahulu saya sering mengalami kecelakaan. Kala SMA bahkan sahabat saya sampai nyeletuk “Saben dino ente mesti tibo” (Setiap hari kamu selalu jatuh). Alhamdulillaahnya, kecelakaan saya tidak pernah kecelakaan tunggal atau dengan kata lain ada faktor luar yang menjadi sebab kausalitas saya jatuh, entah tidak pakai lampu sein ketika belok, rem mendadak hingga becak memotong jalur. Bukan pembelaan.

Rambu lalu lintas dan segala aturannya juga lebih banyak saya patuhi khususon ketika di jalan besar. Petuah dosen saya, Prof Agus Yudho terngiang dan semoga menjadi amal jariyah beliau, bahwa kami seorang yuris adalah orang yang tahu kebenaran dan berpotensi mendapat banyak pahala. Diantaranya dengan mematuhi aturan remeh sekalipun di jalanan. Berhenti di belakang garis zebra cross, tidak memotong garis, hingga lebih memilih jalan memutar daripada lewat di jalan yang dilarang putar balik. Meskipun adakalanya saya memilih “mengakali” aturan yang berdasar filsafat hukum saya bisa dibenarkan. (itulah gunanya belajar hukum, lol)

Salah satu hal yang tidak lupa saya abaikan adalah kaca spion. Walau lebih sering menengok kebelakang, saya tetap mencoba membiasakan diri mengawasi via spion apalagi ketika malam hari melintas di jalanan sepi, MERR contohnya. Ilmu intelijen dengan kewaspadaan tingkat tinggi seakan diuji dengan pandangan 360 derajat yang sensitif. Tidak sering namun penting.

Spion, salah satu, dua lebih tepatnya agar anda tak ditilang, merupakan tools yang disediakan untuk melihat kebelakang. Mobilitas diagonal kita kekanan dan kekiri tidak hanya membutuhkan lampu sein atau ayunan tangan untuk belok. Probabilitas keamanan lebih terbuka jika anda melihat kebelakang atau menggunakan spion yang lebih nyaman.

Pun kehidupan manusia.

Kita adalah makhluk masa depan yang terbentuk dari masa lalu untuk menjalani masa kini.

Roman masa lalu adalah pelajaran, seperti pelajaran sekolah. Kita bisa membukanya kembali untuk mengingat dimana posisi kita kala itu. Akan tetapi jika kita terus menerus membuka pelajaran lama tanpa menambah ilmu yang baru, tentu kita akan terjebak pada jerat romantisisme. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain secara berlebih apalagi merendahkannya, membanggakan masa lalu dengan membabi buta, merindukan kejayaan dahulu namun tidak pernah berubah dan berusaha mewujudkannya sekarang.

Evaluasi dalam kehidupan merupakan kewajiban. Ketika para ulama menyebutkan bahwa 2/3 konten al Quran adalah sejarah bukan berarti kita mengembalikan diri ke jaman batu dengan naik unta, tidak. Membanggakan para pendahulu tapi tak pernah datang pengajian bahkan sholat saja tidak disempurnakan syarat dan rukunnya. Apa yang bisa diharapkan dari orang yang gamon, gagal move on semacam ini?

Ya, Allaah jadikan al Quran sebagai sebaik-baik pelajaran dan sejarah sebagai pengingat. Pelajaran bagi umat untuk menatap masa depan, akhirat dengan menjalani hari demi hari. Hasil akhir kita kelak, diakumulasikan dari gerak detik demi detik di dunia.

Ajaran Islam tidak sekedar memberikan pengetahuan semata, namun ada nilai yang terkandung di dalamnya. Knowledge with Value.

Kejayaan Islam yang ditorehkan dengan tinta emas para Ulama dan cendekia tidak berhenti pada kekaguman bahkan berdebu dalam buku. Spirit and hustle dari para salaful ummah harus ditemukan prinsip dan diejawantahkan dalam kondisi sekarang.

Bisa jadi masing – masing bidang keilmuan memiliki prinsip yang berbeda namun pasti ada yang menyamakan dan menjadi pondasi dalam kemajuan pada masa mendatang. Apa persamaan yang dapat menjanjikan kemajuan itu?

In syaa Allaah akan ada pembahasan lain.

Tetap bergerak kedepan, karena motormu tak berguna jika tak kau tancap gas dan terus termenung didepan spion.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,

akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu,

dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

TQS Yusuf – 111

spion

Pict Source : http://cdn.klimg.com/otosia.com/p/headline/a/476×238/0000012722.jpg

Komentar Anda