Syaikh Ali Ya’qub : A Tribute for (Real) Moderatism

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.” – Terjemah Mutafaqun ‘alayh

Sesungguhnya setiap kontrak ada batasnya, dan kontrak hidup manusia di dunia pun ada ujung waktunya. Salah satu musibah ‘ilmiyyah menerpa bumi nusantara. Asy Syaikh Ali Mustofa Ya’qub telah meninggalkan dunia selangkah lebih dekat dengan keabadian. Beliau rahimahullaah merupakan salah satu ‘alim Indonesia yang menjadi rujukan khususnya dalam pemikiran Islam. Heterogenitas Islam dan pemikiran yang mewarnainya terlebih di Indonesia tak pelak melahirkan gesekan – gesekan yang tidak perlu. Salah satu jasa beliau adalah memoderasi dua kutub pemikiran Islam dunia, Nahdatul ‘Ulama dan “Wahabi” yang keduanya juga menyandarkan pada Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Di era yang seperti ini, memang sangat sulit menemukan ‘Alim yang mampu memoderasi secara konsekuen. Objektifitas dan pemahaman komprehensif jelas dibutuhkan agar kekata yang keluar dari lisan memang benar moderatnya. Asy Syaikh rahimahullaah merupakan salah satu contoh nyata bahwa fatwa moderat itu ada. Basis pemahaman komprehensif yang didapat baik ketika di Indonesia maupun Saudi Arabia menghasilkan pemahaman empiris dan positivis yang komprehensif dalam menilai.

Beliau dalam fatwa yang moderat bukan tanpa keberpihakan. Ya, semua pasti berpihak bahkan yang netral sekalipun. Akan tetapi yang membedakan adalah sandaran keberpihakannya. Pemahaman komprehensif dan mendalam mengenai al Quran  dan Sunnah diatas pemahaman ‘ulama menjadi sandaran keberpihakan beliau yang sudah pasti membuat begidik buku kuduk mereka yang lebih suka dengan kalam manusia. wallahu a’lam.

Banyak pelajaran dan hikmah yang beliau berikan kepada umat, namun satu yang membuat hati saya cukup bergetar sebagai seorang yang menghargai positivisime. Bahwa untuk mencapai objektifitas dan moderat dalam bersikap selain membutuhkan pengetahuan empiris, yang lebih penting adalah kelapangan dada untuk menerima kebenaran. Dan inilah, esensi menjadi seorang ‘alim yang masih jauh perjalanannya. Jangan terburu-buru namun segerakan, nikmati prosesnya sembari memantabkan.

“And the scholars is the heir of the prophet” – T.H.R. Abi dawud

KH Ali Mustafa Yaqub - tegas

Pict Source : https://3.bp.blogspot.com/-E9B6B-suqsE/VyF3i4NKSgI/AAAAAAAAC3A/trMBp8Rp4fkosRR8N9k0HKOOflIgoKGMACLcB/s640/KH%2BAli%2BMustafa%2BYaqub%2B-%2Btegas.jpg

Komentar Anda