Ahok dan Kegagalan Regenerasi Umat

Bismillah washolatu wasalam ‘ala Rosulillaah

Umat Islam di Indonesia sedang gempar. DKI Jakarta sebagai Ibu Kota negara akan menjadi wahana perebutan kuasa pada 2017. Salah satu calon terkuat yang digadang akan menang adalah Basuki T. Purnama alias Ahok. Sebagai incumbent yang mendapat posisi pasca melenggangnya Joko Widodo menjadi RI-1, Ahok melanjutkan estafet kekuasaan di atas tanah Sunda Kelapa. Diantara segudang prestasi maupun kontroversinya, Ahok menampilkan salah satu permasalahan yang pelik bagi umat Islam khususnya yang memiliki hak pilih. Ahok bukan (atau belum) seorang Muslim.

Kepemimpinan : Sebuah Prinsip

Telah banyak ulasan mengenai hukum memilih pemimpin dalam urusan ke-umat-an yang dipaparkan oleh para ‘alim ulama. Ada yang membolehkan dengan syarat dan adapula yang mengharamkan secara mutlak. Hal ini menunjukkan bahwa geliat intelektual umat Islam sebenarnya belum sepenuhnya mati. Meski demikian kericuhan yang tak kalah ramai justru bergaung di dunia tak nyata atau dunia maya. Kalangan menengah seakan perang urat syaraf untuk menyebarkan pendapat yang menguatkan opininya bahkan dalam taraf yang tak sehar, menjatuhkan harga diri lawan.

Mengapa umat Islam sangat menggebu dalam hal seperti ini? apa yang membuat mereka semangat untuk mempertahankan argumentasi?

Hal ini disebabkan umat Islam secara sadar atau tidak telah “didoktrin” mengenai urgensi kepemimpinan.

Selain popularitas hadits yang jika diterjemahkan berbunyi “Setiap kalian adalah pemimpin”, dalam ibadah ritual keseharian atau momentual umat Islam dibiasakan dengan eksistensi kepemimpinan yang kental. Sebut saja salah satunya ibadah sholat.

Sholat sebagai aktifitas diferensiatif antara Muslim dengan Non-Muslim merupakan salah satu ibadah ritual yang sarat dengan makna kepemimpinan. Dimulai dari adzan atau panggilan yang menunjukkan adanya harmoni dan aturan dalam pelaksanaannya, syarat – syarat yang harus dilaksanakan untuk menyempurnakan sholat hingga dalam urusan penentuan siapa yang berhak menjadi Imam.

Benar, untuk menjadi Imam dalam sholat tidak sekedar bermodal jenggot tebal atau surban panjang. Terdapat aspek – aspek intelektual yang menjadi landasan rasional mengapa seseorang layak dan patut dijadikan seorang yang perintah dan gerakannya diikuti oleh makmun. Hal ini bisa pembaca temukan di referensi fiqh sholat di pelbagai madzhab Islami.

Ahok : Evaluasi Gerakan Islami

Pun dalam kehidupan keseharian, umat Islam juga memiliki prinsip dalam memilih pemimpin yang layak. Prinsip – prinsip inilah yang diuji dalam keseharian seorang Muslim dalam setiap tataran masyarakat. Mahasiswa contohnya. Pusar kekuasaan yang begitu strategis di dunia kampus seakan menarik semua kutub gerakan untuk menjadi pusatnya, tak terkecuali gerakan Islami.

Hal ini disatu sisi memang baik sebagai wahana kaderisasi dan penyiapan SDM sebelum terjun ke masyarakat. Akan tetapi akan menjadi bumerang bahkan bom waktu jika yang menjadi tujuan adalah posisi kuasa, bukan kualitas dari SDM yang digadang menjadi pemimpin. Akibat yang bisa ditimbulkan adalah nafsu untuk berkuasa dan menjaga status quo atau dengan kata lain agar yang lain tidak berkuasa. Subhanallaah.

Jika hal tersebut diusung oleh pendukung Machiavelli maka wajar saja. Celakanya hal ini terkadang menjangkiti gerakan yang membawa norma sebagai panjinya, entah Pancasila atau Islami. Norma yang diperjuangkan seakan hanya menjadi pajangan yang ketika dalam pelaksanaannya tidak diberlakukan sama sekali. Memang terdapat perbedaan antara yang berjuang semaksimal mungkin merealisasikan norma perjuangan dengan yang sekedar menggeser demi kepentingan sesaat. Pada akhirnya hanya Allaah jualah pemilik pengadilan yang Maha Adil.

What We Get?

Fenomena Ahok harus dimaknai secara strategis oleh umat Islam Indonesia. Ketidakmampuan menawarkan stok pemimpin berkualitas tidak boleh menjadi alasan pembenar untuk menjatuhkan harga diri lawan.

Islam dalam pemikirannya tidak mengenal prinsip Robin Hood, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan walau sebaik apapun tujuannya. Prinsip – prinsip dan norma yang diajarkan dalam dua landas konstitusional Islam, Al Qur an dan As Sunnah hendaknya benar – benar dimaknai secara komprehensif baik secara pendekatan historis maupun substansial.

Apapun hasilnya kelak, entah Ahok menjadi gubernur atau tidak hendaknya dijadikan pelajaran yang benar – benar ditindaklanjuti dengan gerakan yang serius. Mempersiapkan generasi semacam Ali bin Abi Thalib radhiyallaah ‘anhu, Muhammad al Fatih dan Shalahudin al Ayyubi rahimahumaLlaah sudah diketahui khalayak bukan urusan yang disiapkan setahun dua tahun bahkan sebulan sebelum pertarungan.

Pemilihan pasangan hidup yang menjadi madrasatul ula bagi generasi masa depan jelas menjadi salah satu gerakan yang diperhitungkan. Sistem kaderisasi dan regenerasi yang tidak hanya sustainable namun juga upgradeable mutlak diperlukan dalam kondisi yang serba cepat seperti hari ini. Poin pentingnya adalah mempersiapkan individu – individu Muslim yang secara kapasitas dan kapabilitas memiliki kompetensi dasar yang siap berkembang dan dikembangkan untuk kepentingan rakyat.

Lahirnya leadership factories seperti Rumah Kepemimpinan PPSDMS NF, SDM IPTEK hingga yang sifatnya kecil dan lokal seperti Rumah Peradaban harus dilihat sebagai inverstasi yang besar dan visioner. Jika mendidik selama 2-4 tahun saja masih memerlukan follow up agar hasilnya optimal, maka apa yang bisa diharapkan dari pertemuan seumur hidup hanya sepekan seperti pelatihan? Bagi saya itu hanya sebagai ajang pengingat saja, bukan wahana kaderisasi.

Selain itu, sebagaimana adagium yang berkembang bahwa pemimpin merupakan cerminan rakyat. Hal ini harus dimaknai bahwa rakyat menjadi faktor yang besar dan prioritas dalam usaha – usaha perbaikan. Memang tidak menafikkan adanya usaha untuk menembak keatas, akan tetapi alangkah naif dan sayangnya jika rakyat bawah tidak diprioritaskan untuk diperbaiki. Hal inilah yang bisa diambil pelajaran dari salah satu hadits yang populer mengenai awak kapal yang melubangi kapalnya untuk mendapat minum karena awak kapal diatas dan yang lain tidak peduli. Umat lebih butuh diperbaiki baik secara sosial, ekonomi terlebih motivasi.

Kerendahan hati dari struktur pimpinan gerakan Islami juga dibutuhkan agar masukan – masukan yang sifatnya konstruktif terlebih jika didasarkan pada data dan fakta, entah empiris maupun positif. Hal ini disebabkan masih adanya pemikiran jumud kalangan tua dan ketakutan dari kalangan muda untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Penuhanan  institusi bahkan personal dengan sami’na wa atho’na secara mutlak jelas berbahaya. Penyakit inilah yang jika dikalangan cendekia disebut dengan taqlidul ‘aam atau mengikuti secara buta. Opo jare atau wis pokoke, menghambat kemajuan gerakan Islami.

Pada akhirnya semua usaha terbaik umat Islam tidak hanya dilihat secara kuantitas namun justru kualitas yang ditekankan, usaha yang keras tidak sekdar hasil memuaskan, dan kemenangan yang hakiki ada di sisi Allaah yang Maha Baik, bukankah Dia hanya menerima yang baik saja?

Gerakan Islami menghendaki bukan kemenangan dan bukan kekuasaan namun pada persiapan – persiapan yang maksimal dan optimal sebagai pembuktian amanah khalifatul fil ‘ardh.

Mari memulai dari diri sendiri, lingkup yang kecil dan hal yang mudah, sebagaimana pesan Aa Gym hafidzahullaah.

Sudahkah  anda membuang sampah di tempat sampah?

Wallaahu a’lam

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”
– Terjemah QS Al Mulk 1-2
tongkat-estafet
Pict Source : http://160.97.46.2/risorseperle/Ebook-SetteRegole/regola3-4.jpg

Komentar Anda