Bijak dalam Menerima Kemarahan

Bismillaah wa sholatu wa salam a’a Rosulillaah,

 

Kawanku, pernahkan anda dulu ketika SD dimarahi dengan keras oleh guru? bagaimana jika dimarahi oleh ibu? in syaa Allaah anda pernah merasakannya ketika kecil dulu.

Sekarang, mari sejenak bergeser ke lingkup yang lebih luas.

Pernahkah anda ketika mengemban amanah, anda dimarahi? entah oleh ketua anda, oleh staf anda atau oleh konstituen anda?

Let’s be smart, for a while.

Kemarahan merupakan suatu reaksi dari adanya aksi dari kita. Contoh ketika kita masih bocah dahulu. Memanjat pohon hingga jatuh, menggoda saudara hingga menangis sampai pulang larut malam tidak izin merupakan aksi yang kita lakukan. Kemudian dari aksi tersebut, timbul reaksi dari orang tua kita. Reaksi tersebut timbul sebagai bentuk kepedulian yang mendalam serta aktualisasi dari kekhawatiran atas aksi kita yang bisa melahirkan kejadian yang tak diharapkan. Reaksi tersebut bisa sangat beragam bergantung pada banyak faktor mulai dari tingkat pendidikan (pengetahuan tentang parenting) hingga kondisi psikologi orang tua pada saat itu. Marah salah satu reaksinya.

Bayangkan dalam kondisi yang sama dengan kenakalan yang sama, orang tua kita tidak mempedulikan kita. Mau pulang pagi silahkan, muka memar karena tawuran ya tidak apa – apa. Hasil dari ketidakpedulian itu justru menjadikan kenakalan semakin menjadi dan kegagalan dalam pendidikan.

Esensi dari hal ini ada pada kepedulian. Nah kepedulian ini yang terkadang dibungkus secara beragam oleh mereka yang peduli, entah bungkus yang cantik nan elok dipandang atau bahkan tidak perlu dibungkus langsung dilempar didepan muka kita. Peduli menjadi substansi.

Islam : Agama Nasihat

Al Ashr, surat yang menurut Imam Asy Syafi’ie merupakan surat yang jika Allaah menurunkan surat ini saja niscaya sudah cukup karena keagungan konteksnya, adalah diantara surat yang dihapal banyak kaum muslimin. Pun kajian baik tafsir maupun hadits yang berkaitan banyak diulas dalam mahakarya para Ulama.

Diantara terjemahan surat tersebut menerangkan bahwa saling menasihati atas kebenaran dan kesabaran merupakan bentuk ketidakrugian dari manusia. a contrario dari teks ini adalah manusia dalam kondisi rugi jika tidak melakukan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menambahkan bahwa menasihati supaya menaati kebenaran yaitu mewujudkan semua bentuk ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan. Hal inilah yang menjadi esensi dari nasihat yakni mewujudkan implementasi ketakwaan tidak hanya pada satu orang bahkan masyarakat.

Islam adalah agama kepedulian.

Selain surat di atas, tersebar juga wahyu serupa di pelbagai surat dan ayat. Esensi amar ma’ruf nahi munkar merupakan diantara tugas diturunkannya nabi dan rasul. Ya, mereka diutus karena ada kesalahan yang dilakukan oleh manusia entah dari taraf yang parah dengan menyekutukan Allaah hingga perbuatan hina seperti liwath (maho istilah kerennya) termasuk tipu menipu dalam perdagangan.

Dalam hadits yang menjadi implementasi dari al Quran sebagai konstitusi umat Islam, bentuk kepedulian seorang muslim juga diejawantahkan dalam banyak ajaran entah dalam ibadah mahdhoh dan ghairu mahdhoh. Bahkan bentuk kepedulian ini masuk dalam salah satu rukun Islam yang jika tidak diyakini dengan total bisa merusak atau menafikan keislaman seseorang, zakat. Abu Bakar ash shiddiq radhiyallaah ‘anh memerangi mereka yang menolak zakat bukan karena nominal atau harta yang mereka beri namun pada esensi Islam yang terkandung didalam ibadah zakat. Zakat merupakan bentuk ibadah komunal yang menjadi bentuk konkret bahwa Islam adalah agama kepedulian.

Pun dalam ibadah rutin seperti sholat. Kepedulian yang diajarkan dalam ibadah ini dimulai dari adzan, seruan untuk mengajak umat mendirikan sholat. Seorang Imam sebelum memulai sholat diajarkan untuk mempedulikan rapat dan lurusnya barisan jama’ah (dan celakanya kadang hanya sebatas lipservice). Selain itu Imam juga harus memperhatikan kondisi jama’ah agar kelak bacaannya tidak terlalu panjang dan memberatkan jama’ahnya. Pun ketika sholat telah dimulai, ma’mun juga dituntut untuk peduli dengan Imam jika terdapat kekhilafan entah dalam bacaan maupun gerakannya. Allaahu akbar, inilah Islam agama kepedulian.

Kita beralih ke urusan “duniawi” yang sering dilalaikan. Salah satu hadits menerangkan bahwa keimanan memiliki 60/70 cabang dimana yang teragung adalah kalimat Laa ilaaha illa Allaah, dan diantara cabang iman adalah menyingkirkan gangguan yang ada di tengah jalan. Dalam utusan menyembelih, Muslim diminta untuk berbuat ihsan atau terbaik untuk hewan dalam mengeksekusi dengan menajamkannya, tidak mengasah didepan mata hewan. Islam mengajarkan kepedulian kepada hewan.

Aspek politik? Islam juga mengajarkan kepedulian. Terdapat adab antara pemimpin dan rakyat dalam hal menasihati seperti mengajak bicara secara personal atau empat mata hingga tidak merendahkan kehormatan di depan umum merupakan diantara bentuk kepedulian rakyat terhadap pemimpin. Islam mengajarkan kepedulian politik.

Maka sangat tidak logis jika seorang muslim tidak memiliki kepedulian kepada saudaranya, sesama muslim dalam aspek yang sangat penting seperti syahadat. Jika dia peduli dengan sholatnya, melaksanakan zakat dan infaq, maka memedulikan syahadat seseorang merupakan prioritas mengingat kunci Islam ada pada dua kalimat tersebut. Islam tentu mengajarkan kepedulian keislaman seseorang, sebagaimana esensi diturunkannya nabi dan rasul, mengislamkan manusia dengan tauhid, membebaskannya dari belenggu kesyirikan yang hanya akan melahirkan kejahilan.

Islam Marah atau Anda yang terlalu Baper?

Menanggapi fenomena yang ada di sosial media, terdapat pandangan bahwa ada golongan Islam “Marah”. Golongan ini disudutkan oleh yang menuduh dengan “keras” dan fokusnya argumen mereka “menghajar” tindakan penuduh. Mari kita kembali ke awal pembahasan.

Ada aksi maka lahir reaksi.

“Kemarahan” golongan Islam “Marah” tersebut merupakan reaksi dari aksi penuduh, yang sebenarnya umat Islam juga. Adanya kepedulian dari golongan Islam “Marah” ditujukan agar obyek yang dimarahi mampu mengubah aksi mereka, atau setidaknya melahirkan reaksi dari reaksi tersebut.

Nah mari kita melihat kembali, apakah “kemarahan” tersebut esensi atau bungkusnya? Jika “kemarahan” tersebut adalah esensi, maka kemarahan tersebut tidak perlu ditanggapi serius karena perespon pada hakikatnya tidak berbeda dengan yang marah dan hanya menghabiskan energi membuang waktu.

Akan tetapi jika “kemarahan” tersebut adalah package maka mari lebih bijak dalam menerima “kemarahan” tersebut. Bagi saya pribadi, menerima esensi nasihatnya adalah hal yang utama dan menjadi pertimbangan paling besar. Terlebih jika yang dibawakan adalah kebenaran, maka agar terhindar dari kesombongan (menolak kebenaran dan merendahkan manusia) mau tidak mau suka tidak suka nasihat harus diterima.

Bagaimana dengan “kemarahan”nya?

Sekali lagi mari kita letakkan saja hal itu sebagai package. Jika berkenan bungkus tersebut bisa menjadi bahan nasihat juga untuk mereka yang “Marah”. Pun jika dalam kondisi yang tidak memungkinkan, cukuplah “kemarahan” tersebut diletakkan ditempatnya, lupakan saja sambil didoakan agar reda “kemarahan”nya.

Pun, kita juga tidak bisa menuntut penasihat kita untuk melakukan sebagaimana yang kita inginkan. Alangkah naifnya kita jika hanya menerima nasihat jika dibungkus dengan rapi. Hal inilah yang menurut opini saya merupakan bentuk kesombongan karena telah menolak kebenaran. Kebenaran adalah esensinya, bukan cara penyampaiannya.

Bisa jadi mereka yang “marah” memang karakternya entah ras atau suku seperti itu. Bisa juga mereka belum mempelajari cara menyampaikan dengan baik. Atau mereka sedang lupa tentang bab Adab dan Akhlak dalam menasihati. Jangan sampai kita menolak kebenaran yang dibawa dengan data, fakta dan argumentasi hanya karena kegagalan penyampaian, dimana cara merupakan sarana dan tujuannya adalah perubahan menuju kebenaran.

Sebagaimana dunia nyata, kita harus objektif dan bijak dalam menanggapi segala sesuatu meski orang lain tidak begitu. Kemarahan orang lain bisa menjadi pelajaran tidak hanya mengenai bab tersebut namun juga pelajaran kesabaran dan kewarasan kita.

Ketika kemarahan hanya kita tangkap secara dhahir, jangan – jangan hati kita sebegitu sempitnya hingga baper-an. Sudah selayaknya kita senantiasa menyenandungkan doa “lapangkanlah dadaku” daripada mendengarkan harmoni lagu galau.

Hendaknya hal ini juga bisa kita lihat sebagai ujian ketahanan mental kita dalam menerima kebenaran. Mental yang terbangun dari bijaknya menerima “kemarahan” bisa sangat bermanfaat dalam menanggapi segala kondisi di masa mendatang.

Kemarahan harus dimaknai sebagai bentuk kepedulian yang tidak dibungkus dengan rapi namun tetap memiliki arti.

 

Poin pentingnya bukan pada orang lain, namun bagaimana kita menanggapi orang lain.

Jangan sampai kita menjadi orang yang menolak substansi hanya karena ia tak dibungkus dengan rapi. Emas tetaplah emas walau dia diberikan dengan cara dilempar.

Terima kebenaran walau menyakitkan, ibarat obat yang menuju kesembuhan.

Mari jaga kepedulian kita, mari jaga kewarasan kita. Sing waras, ngalah.

Terima kasih kalian yang telah memarahiku, aku cinta padamu.

 

Wallaahul musta’an

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.”

– Terjemah Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah

atombomb

Komentar Anda