Antara Buruh dan Pendidikan Pekerja

Indonesia adalah negara yang besar. Jika ditinjau dari jumlah populasinya, negara ini menempati posisi kelimam, potensi pasar yang besar. Pun dalam perspektif geostrategis, negara archipelagik ini memiliki luas pantai yang fenomenal mencapai 99.000 kilometer, meski masih kalah dibandingkan dengan Kanada. Potensi maritim juga tak bisa dipandang remeh dengan kurang lebih 25 % dari PDB, padahal belum teroptimalkan. Itu masih bicara ekonomi sederhana.

Pun sumber daya manusia Indonesia yang sebegitu banyaknya tidak bisa dianggap remeh. Amanah 20% anggaran negara untuk pendidikan oleh konstitusi menjadi salah satu bentuk realisasi “mencerdaskan kehidupan berbangsa” dalam Preambulenya. Bangsa ini jelas tidak puas dengan melahirkan Soekarno, Natsir atau Syahrir di masa lalu namun juga berusaha mencetak generasi yang tidak kalah strategis untuk menjaga napas kebangsaan.

Tanggal 1 Mei dan 2 Mei di Indonesia selalu gegap gempita dengan aksi jalanan oleh pelbagai elemen rakyat. Segala tuntutan maupun kritikan mereka sampaikan ke negara dalam rangka pemenuhan hak – hak mereka yang belum terpenuhi. Pun di dunia tidak nyata juga dipenuhi dengan tulisan dan meme bergambar baik sekedar memperingati atau menyindir mengenai isu ketenagakerjaan maupun pendidikan. Kalau di instansi negara? pasti jauh lebih membosankan mendengar pidato yang sehari sebelumnya sudah di-upload di website resmi kenegaraan. Mau bagaimana lagi jika tanggal tersebut hanya sebagai peringatan semata.

Namun apa esensi yang bisa kita gali dari dua hari tersebut? apa relevansinya minimal untuk diri kita?

Posisi Strategis Manusia

Man merupakan salah satu unsur penting yang mampu membawa unsur – unsur lain dalam organisasi. Material, money, method dan machine tidak akan berjalan tanpa ada man. Hal ini lah yang juga diajarkan dalam Islam mengenai salah satu esensi penciptaan Adam ‘alayhis salam penghulu para manusia dalam awal al Baqoroh yakni sebagai khalifah fil ‘ardh. Para ulama menafsirkan makna khilafah dalam kitab tafsir mereka mulai dari pemimpin di bumi, pengelola di bumi hingga makhluk yang saling mengganti satu sama lain sebagaimana pendapat Ibnu Katsir rahimahullah. Imam Jalalain rahimahumallaah menyebutkan bahwa maksud dari khalifah adalah mewakili Allaah dalam menerapkan aturan dan hukum padanya (sesama manusia dan/atau bumi). Poin penting manusia sebagai khalifah ada pada pengelolaan amanah baik secara personal maupun komunal universal. Man do matter.

Buruh adalah pekerja, atau orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Jika ditinjau secara tekstual saja, posisi buruh tidak signifikan mengingat mereka hanya bekerja untuk orang lain. Akan tetapi jika dipandang a contrario, maka posisi buruh-lah yang sangat berpengaruh. Bayangkan jika pengusaha tidak memiliki buruh? apakah usaha dan industri bisa berjalan? bahkan jika industri tersebut menggunakan teknologi semacam A.I. (artificial intelligence) tetap memerlukan pekerja atau buruh. Maka buruh atau pekerja harus dipandang sebagai aset atau investasi bagi dunia industri, bukan sebagai beban bagi perusahaan. Hal inilah yang sebagaimana diawal saya paparkan bahwa manusia secara hakikat adalah pengelola, pengemban tugas dan amanah. Maka diperlukan buruh dan pekerja yang progresif nan strategis agar dunia industri juga mendapat pengaruh positif.

Korelasi antara buruh dan pendidikan juga semakin nyata disini. Jika buruh dipandang sebagai aset maka pendidikan adalah salah satu instrumen konkret dalam pembangunan sumber daya manusia termasuk pekerja. Hak menerima pendidikan yang ada dalam konstitusi juga berlaku bagi para pekerja. Perusahaan dalam hal ini memang tidak dituntut untuk membiayai seluruh biaya pendidikan pekerjanya namun setidaknya perlu ada insentif dan dorongan agar pekerja mau meningkatkan kapasitas pendidikan mereka.

Pertanyannya, pendidikan semacam apa yang dibutuhkan buruh? Kuliah S2 hingga jadi Guru Besar?

Mari kita bedah apa itu pendidikan.

Pendidikan yang berakar dari kata didik. Didik menurut KBBI berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Esensinya ada pada (1) proses pemeliharaan dan pelatihan mengenai (2) akhlak dan (3) intelegensia.

Hal inilah yang harus difasilitasi kepada manusia secara umum dan pekerja secara khusus. Proses pemeliharaan dan pengembangan yang kondusif harus disediakan. Jika pekerja hanya disibukkan dengan urusan pekerjaan bak kerbau sawah, maka proses ini jelas tidak akan tersedia. Dari sini saja pendidikan kepada pekerja sudah menemui kegagalan.

Poin selanjutnya adalah akhlak. Karakter baik merupakan salah satu pemmbeda antara manusia dan lainnya. Hal ini juga, yakni urgensi akhlak, dari kacamata Islam merupakan diantara tujuan diutusnya Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam yakni menyempurnakan akhlak agung yang sudah ada sebelumnya. Habluminannaas juga merupakan satu dari faktor yang tidak terpisah dari habluminallaah yang menjadi sebab keagungan manusia. Maka akhlak sebagai instrumen menjaga relasi interpersonal manusia menjadi salah satu hal yang memang layak untuk dididik.

Pekerja sebagai pemegang peran strategis dalam industrialisme jelas memerlukan pendidikan akhlak. Hal ini penting disebabkan pekerja tidak hanya berinteraksi dengan machine namun juga man. Sebut saja supervisor atau mandornya hingga ke taraf yang lebih tinggi seperti pemangku kebijakan negara. Maka diperlukan pendidikan akhlak dan etika untuk mencetak pekerja yang beradab.

Poin terakhir dalam pendidikan pekerja adalah intelegensia. Hal ini tidak sekedar dibuktikan dengan ijazah atau pelatihan namun juga pada problem solving dan creativity. Berpikir kritis dan observatif jelas diperlukan agar kerja – kerja buruh menjadi lebih hidup, tidak monoton dan terkesan terpaksa.

Epilog

Ulasan sederhana mengenai relasi pekerja dan pendidikan merupakan salah satu hal yang penting untuk kita perhatikan. Hal ini disebabkan pada dasarnya kita adalah pekerja bagi diri kita sendiri. Buruh sebagai elemen penting dalam pembangunan harus dimanusiakan dengan pendidikan sebenar – benar pendidikan, bukan sekedar formalitas belaka. Penanaman iklim yang mendukung untuk menempa akhlak dan intelegensia tidak hanya selesai di perusahaan bahkan di setiap lingkungan pekerja, termasuk keluarga.

Maka solusi agar demo-demo tidak sekedar menjadi ritual belaka dan menyita banyak jam kerja yang merugikan usaha? didiklah pekerja anda.

Curiousity is the engine of our achievement – Sir Ken Robinson

mayday

pict source : http://emiliaromagna.usb.it/uploads/pics/1917_iww.jpg

Komentar Anda