Catatan Ramadan 2 : Kesabaran

Sebuah malam telah terlewati. Ramai khalayak didalam masjid menjalani tarawih masih terngiang dalam sanubari. Hari senin adalah hari yang sibuk dan penuh produktifitas ditambah dengan suasana ramadan yang kental dengan gempita orang yang berpuasa. Bagi seorang muslim di Indonesia, tidak berpuasa merupakan bentuk ketabuan yang “haram” ditunjukkan di depan orang lain. Entah apakah benar puasa atau berbuka lebih dulu dibalik terpal warung makan.

Puasa yang bermakna menahan merupakan salah satu bentuk tarbiyah dan tashfiyah dari Sang Maha Pencipta manusia. Secara mentalitas melalui puasa, seorang insan dibina (tarbiyah) untuk menjadi hamba yang bersabar dan menundukkan hawa nafsu-nya yang cenderung untuk melakukan segala yang ia inginkan. Pun diri juga dibersihkan (tashfiyah) dari segala kekotoran baik dalam pikir atau hati, lisan maupun tindakan. Puasa mengajarkan tentang kesabaran.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” TQS Al Baqoroh : 155

Ya, hanya sedikit saja waktu hidup ini untuk menahan lapar. Hanya sebulan dalam satu tahun, hanya 13 jam dari sehari jika di Indonesia. Bagaimana dengan belahan bumi lain yang panjang waktu siangnya?

Saya pernah diajarkan bahwa manusia pada dasarnya mampu bertahan tanpa minum sedikitpun setidaknya selama tiga hari. Tentu tidak mungkin tanpa hikmah atau ibroh bahwa ada diujung bumi sana yang berpuasa selama 21 jam. Hal ini mungkin bagi kacamata manusiawi yang penuh dengan kelemahan, ketidaktahuan dan kecenderungan untuk menghamba pada hawa nafsu, tidak adil berpuasa menahan makan minum selama 21 jam perhari selama satu bulan.

“…  Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” TQS Al Baqoroh : 216

Ya, manusia cepat sekali merasa mengeluh dan berkeluh kesah atas keadaan yang menimpa dirinya. Padahal sadar atau tidak, hidup adalah ujian dan jika disikapi dengan bijak, ujian adalah bukti dari cinta.

“Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat.

Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka.

Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” Terjemah H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah

Dan sekali lagi, kondisi yang sulit seperti “ketidak adilan” maupun kegagalan pada dasarnya akan kembali kepada paradigma seorang hamba tentang ujian tersebut. Apakah dia bersabar menjalani dengan sebaik-baiknya atau memilih frustasi dan balik kanan mencela keadaan demi keadaan yang menurutnya tidak ideal.

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” Terjemah Hadis Qudsi Riwayat Mutafaqun ‘alayhi

Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnu zhon pada Allah” Terjemah H.R. Muslim

Ah, maafkan kami Yaa Rabb yang lebih sering menggerutu dengan keadaan yang sebenarnya tidak sebanding dengan beratnya ujian para pembawa risalah-Mu.

Padahal Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam ditanya tentang manusia mana yang paling berat ujiannya dan beliau menjawab,

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.

Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya.

Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” Terjemah H.R. Tirmidzi, Ibn Majah, Darimi dan Ahmad, Sahih menurut Albani.

Ya, kami hanya bisa berbaik sangka bahwa apa yang dihadapi saudara kita muslim di belahan bumi sana adalah bentuk cinta Allaah pada mereka. Allaah memberikan ujian yang memang selevel dengan kemampuan fisik dan rohani mereka. Maka alangkah naifnya jika kemampuan muslim disana dibandingkan dengan dengan kita yang masih sangat dibuai dengan kenyamanan dan keamanan.

Pun, bukankah bagi saudara kita disana juga ada keutamaan yang besar, do’a mereka tak tertolak selama 21 jam.

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak : orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” Terjemah H.R. Ahmad

Allaah Maha Adil, inilah salah satu keutamaan dari keutamaan – keutamaan mereka yang berpuasa lebih lama dan tidak kita miliki wahai saudaraku.

Indahnya berbaik sangka.

Maka, nikmat Allaah yang mana yang akan kita sangkal?

Mari melanjutkan menahan diri dari kejahilan manusiawi ini dengan bersabar dan berbaik sangka kepada Yang Maha Baik.

Wallaahu a’lam.

Komentar Anda