Catatan Ramadan 3 : Menyegerakan

Kumandang adzan menggelora di langit – langit nusantara. Ya, waktunya berbuka puasa. Alhamdulillaah.

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” Terjemah Hadits Muttafaqun ‘alaih

Hampir tidak pernah saya jumpai ada orang yang berpuasa dan tidak bersegera untuk berbuka. Dahaga dan lapar yang ditahan selama belasan (bahkan puluhan) jam langsung sirna dengan kesegaran air dan kenikmatan kurma atau manisan sejenis. Pada hadits tersebut dijelaskan juga secara eksplisit bahwa ada kebaikan dalam hal menyegerakan kebaikan atau mafhum mukholafa’-nya menunda kebaikan hanya mendatangkan penyesalan.

Pada konteks berpuasa, Islam mengajarkan shoim (orang yang berpuasa) untuk segera berbuka. Pun dalam hal ibadah, tidak sedikit dalil yang menunjukkan seorang Muslim untuk bersegera dalam melaksanakan ibadah tersebut. Allaah berfirman,

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.Terjemah QS Al Baqoroh : 148

Dalam hal taubat, Allaah berkata,

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.Terjemah QS Ali Imron : 133

Dalam urusan Sholat Jumat, Allaah memerintahkan,

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Terjemah QS Al Jumu’ah : 9

Pun Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam berpesan,

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap.

Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir.

Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” Terjemah H.R. Muslim

Abdullaah bin Umar Radhiyallaahu ‘anhuma berpesan yang diriwayatkan Imam Bukhari,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda,

‘Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).’

Lalu Ibnu Umar menyatakan,

“Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari.

Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.”

 

Hal inilah yang menjadi landasan yang penting bagi seorang Muslim untuk bersegera dalam beramal salih terlebih tidak ada manusia yang mampu memastikan kapan kematian datang menghampiri.

Maka, momentum Ramadan sudah selayaknya dimaksimalkan sebagai bulan menyegerakan. Kala adzan berkumandang, bersegera menyambut dengan sholat berjama’ah sebagai contoh utamanya. Non-sense jika berpuasa namun melalaikan panggilan adzan dengan sengaja tanpa udzur yang dibenarkan. Adakah kita lupa dengan sahabat buta yang meminta udzur tidak sholat ke masjid namun justru ditanya balik oleh Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam “Apakah engkau mendengar adzan? maka tunaikan haknya.”? Dan sahabat itu menjadi muadzin Islam bersama Bilal radhiyallaahu ‘anhuma.

Sudah saatnya, kita bersegera dalam beribadah dan beramal salih, mulai dari sedekah hingga menikah.

Wallaahu a’lam.

Komentar Anda