Catatan Ramadan 4 : Kekuatan

Panas terik hujan berangin, kondisi inilah yang menggambarkan keadaan Kota Surabaya ditengah hikmat Ramadan. Warga Surabaya seakan diuji dengan daya tahan yang hebat di musim tak menentu. Kebetulan sekali bertepatan dengan momentum Ramadan, bulan kesabaran.

“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, (namun) pada keduanya ada kebaikan…” Terjemah H.R. Muslim

Kemampuan fisik merupakan salah satu hal yang perlu disiapkan dan dilatih selama Ramadan. Aktifitas produktif dituntut untuk terus bergulir tak kenal lapar dan dahaga. Diperlukan tubuh yang fit agar hari – hari berlangsung dengan optimal dan maksimal. Bagaimana cara menjaga kondisi tubuh yang fit ditengah waktu yang membatasi asupan nutrisi kita?

Setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan selama menjalani aktifitas fisik selama ramadan yakni (1) Asupan makanan selama sahur maupun buka, dan (2) Porsi latihan.

Sebentar, darimana saya mendapat insight ini?

Dari pelbagai teori dan referensi kesehatan yang saya pelajari sejak berkarya sebagai Wakil Kepala Urusan Pendidikan dan Latihan Resimen Mahasiswa di Unair serta pengalaman empiris yang saya jalani hingga hari ini. Jadi meskipun bukan orang yang secara formal institusional jebolan kesehatan, in syaa Allaah urusan ini adalah urusan yang sebenarnya common sense. Pun jika ada yang tidak tepat atau salah, saya sangat terbuka untuk mereview kembali.

Kembali pada pembahasan menjaga kondisi fit selama Ramadan. Perkara asupan makanan saya lebih merujuk pada memperbanyak protein dibanding karbohidrat. Telur, tahu dan tempe merupakan menu sederhana yang ternyata cukup impactful untuk menjaga asupan protein. Tentu vitamin dan mineral lain jelas tidak boleh dilupakan.

Kebutuhan air pun jelas perlu dipenuhi yang secara common sense setidaknya 1 liter perhari. Jika dikonversikan setidaknya ketika berbuka dua gelas, malam tiga gelas dan sahur tiga gelas. That’s the theory, my theory.

Bagaimana dengan latihan fisik?

Saya lebih cenderung dengan melatih kekuatan otot dibanding kardio. Hal ini disebabkan kardio jelas mempengaruhi cairan tubuh lebih banyak dibanding dengan latihan massa otot. Maka bagi orang yang berat badannya masih sedang atau kurus, latihan semacam push up, pull up, sit up dan squat (dont forget your leg day).

Waktunya? saya merekomendasikan sore hari at least sejam sebelum berbuka agar masih bisa mandi dan langsung berbuka dengan asupan nutrisi berprotein. Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah repetisinya. Jika pada hari normal (tidak berpuasa) anda bisa push up sebanyak 100 kali, maka ada pendapat setidaknya intensitasnya antara 40-60% atau 40-60 kali push up dan berlaku untuk porsi latihan lainnya.

Pada akhirnya, membangun kebiasaan sehat dan fit merupakan hal yang patut diperjuangkan. Berenang, memanah dan berkuda menjadi sangat utopis jika tidak didasari dengan basic knowledge and common sense mengenai kebiasaan hidup fit. Tidak perlu ke Gym atau menghabiskan uang yang bisa dialokasikan untuk sedekah guna membentuk tubuh karena esensi dari kekuatan muslim bukan pada penampilan namun pada fungsinya.

So stay sharp, our predecessors do war (Badr) on Ramadhan.

“Sesungguhnya Allaah tidak melihat pada bentuk/penampilan kalian dan harta kalian, tetapi Allaah melihat pada hati-hati kalian dan amal-amal kalian.” Terjemah H.R. Muslim

Wallaahu a’lam.

Komentar Anda