Catatan Ramadan 5 : Harapan

Siang itu saya baru saja menyelesaikan amanah berbagi dan memotivasi di salah satu SMA swasta di Surabaya. Agenda Ramadan tahun ini diwarnai dengan sesi-sesi produktif di sekolah maupun lembaga dan memang seharusnya seperti itu. Ramadan sudah selayaknya tidak dijadikan untuk mager atau malas gerak. Sejarah mencatat dua momentum bersejarah dalam Islam yakni perang Badar dan Fathul Makkah terjadi di bulan Ramadan. Pun dalam perjalanan selanjutnya, Shalahuddin al Ayyubi dan Thariq bin Ziyad rahimahumallaah juga melakukan manuver peperangan mereka ketika Ramadan tiba. Ramadan merupakan salah satu waktu yang terbukti produktif bagi umat Islam.

Kembali pada agenda saya di SMA dengan amanah berbagi di Pondok Ramadan. Setelah mengemban amanah, saya mohon pamit kepada guru – guru khususnya mata pelajaran agama Islam. Hal yang menarik hati dan pikir saya adalah pesan salah satu guru agama Islam. Beliau yang juga guru agama di salah satu SMA Swasta juga di sekolah lain, memiliki pendapat mengenai pentingnya membekali konten agama Islam pada siswa sebandel apapun mereka. Harapan beliau sederhana, senakal – nakalnya mereka setidaknya dibawah alam bawah sadarnya sudah terbekali dengan materi yang bisa jadi menjadi anchor pada saat – saat tertentu. Sadar atau tidak sadar, beliau memandang bahwa pada dasarnya manusia bisa berubah dan berharap pelajaran yang diberinya berandil dalam perubahan baik tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” Terjemah Q.S. Al Baqoroh : 183

Ramadan adalah bulan harapan. Harapan dan ekspektasi tentang kemuliaan serta ganjaran yang begitu besar Allaah janjikan kepada orang – orang yang beriman. Harapan tentang ampunan, terbukanya pintu surga dan segala kebaikan, harapan tentang pembebasan. Ramadan memberi harapan bagi anak cucu Adam, tempat khilaf dan salah.

Agar kita bertakwa, harapan menjadi muttaqin.

Allaah dzat yang Maha Suci, pemilik langit dan bumi beserta seluruh isi didalamnya, termasuk penulis dan postingan ini, memberikan harapan bahwa pintu taubat senantiasa dibuka bagi mereka yang sadar. Momentum ramadan sudah seharusnya dijadikan oleh manusia, ciptaan Allaah yang memberi harapan tentang perubahan, untuk memberikan harapan pula pada sesama manusia. Terkadang, terdapat labeling pada seseorang berdasarkan dari masa lalunya. Membuka kembali aib dan kesalahan yang sudah diakui secara sadar oleh “korban” yang mencoba bertaubat dan berubah. Pada akhirnya hanya kepada Allaah jua “korban” seperti ini meluruskan niatnya untuk berubah dan mendoakan agar pembuka aib dan kesalahan bisa diampuni di yaumil hisab.

Ramadan memberi harapan pada setiap insan. Pendidikan, pembinaan dan tarbiyah hati serta emosi yang terkandung selama satu bulan ini benar – benar diuji kepada mereka yang benar – benar merengkuh harapan – harapannya. Harapan mengkhatamkan al qur an, harapan mendirikan tarawih hingga harapan bangun sebelum sahur coba dibiasakan agar harapan menjadi kenyataan, kenyataan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi kesuksesan.

Ya, ujung dari ramadan adalah kesuksesan. Kesuksesan membebaskan diri dari PHP, Pemberi Harapan Palsu, manusia dan segala puja-puji mereka menuju Sang Pemilik Harapan yang Nyata nan Agung. Kesuksesan melepaskan belenggu bernama dunia dan segala lahw nan senda gurau didalamnya menuju ketakwaan dan mencukupkan Allaah sebagai saksinya. Kesuksesan menumbuhkan ketakwaan. Kesuksesan merealisasikan harapan. La’alakum tattaquun.

Wallahul musta’an

Komentar Anda