Resensi : Membangkitkan Bangsa Pemberani

Indonesia merupakan salah satu negara yang strategis di masa lalu. Hal ini banyak didukung oleh faktor – faktor baik geografis, budaya hingga pemikiran. Faktor – faktor tersebut ber-akulturasi membentuk Sumber Daya Manusia baik personal maupun komunal yang secara kontinu membentuk simpul dan anyam kejayaan bangsa Indonesia.

SDM yang berani dan memberi perubahan bagi rakyat jelas tidak serta merta muncul mak bedunduk dari bayi menjadi pemberani. Hal tersebut membutuhkan banyak unsur yang saling berkelindan mulai dari karakter personal, keluarga, lingkungan hingga bacaan. Ya, bacaan yang dianggap remeh merupakan salah satu unsur yang membentuk keberanian.

Budaya mouth to mouth yang diakomodasi melalui dongeng, mitos dan fabel yang berkembang di bangsa Indonesia secara langsung baik sadar atau tidak, memberikan implikasi kejiwaan bagi seseorang. Mental yang terbina sejak dini dan netral dari intervensi jelas akan banyak mengambil value dari dongeng yang dikisahkan oleh keluarga mereka.

Tak ayal ada dongeng – dongeng yang memang secara filsafat mengungkapkan nilai – nilai kebajikan dengan bungkus yang mistis. Jika ditinjau secara filsafat teleologik, dongeng – dongeng yang beredar ditengah masyarakat pasti mengandung pelajaran positif dan meaningful. Akan tetapi hal ini bisa jadi tidak akan didapat jika kacamata yang digunakan oleh pendengar atau pemirsa dongeng tersebut adalah seorang yang materialistik. Maka diperlukan dongeng – dongeng segar yang sesuai dengan kondisi kekinian dan kedisinian sebagai alternatif dongeng filosofis dan bisa jadi memperkuat dongeng kuno tersebut.

Buku ini, “Membangkitkan Bangsa Pemberani” lahir sebagai salah satu jawaban dari pernyataan diatas. Alternatif dan khazanah dongeng diperlukan tidak hanya bagi anak balita yang sedang mengantuk dan dibacakan oleh ayah bundanya. Kalangan seperti aktifis dan orang dewasa terkadang lebih memerlukan dongen semacam ini sebagai satir dan nasihat nakal tentang refleksi aksi mereka.

Dikemas secara unik dan mudah dipahami, buku yang didedikasikan oleh penulis untuk putra pertamanya ini tidak jarang me-remake kisah yang sudah ada baik dari dalam maupun luar Nusantara. Pun disinyalir bahwa ada pengalaman pribadi penulis yang juga aktif dibidang literasi ini sebagai pelajaran bagi pembacanya. Secara konten, buku ini layak untuk dijadikan sebagai spare-idea dan refleksi renyah bagi insan cendekia.

Akan tetapi jika ditinjau dari grafis (maklum, sejak kecil sudah berkecimpung di dunia gambar dan desain), ada beberapa hal yang seharusnya menguatkan konten namun gagal dioptimalkan. Ikon hewan kecil dibawah judul seharusnya disesuaikan dengan judul tersebut, tidak dipaksakan dan diasal saja. Pun ilustrasi yang seharusnya menjadi pemanis sekaligus satir visual dibuat secara maksimal profesional (at least tidak sampai saya gelari dengan R.I.P Photoshop).

Hanya saja saya cukup tertarik dengan desain sampul yang menggambarkan pertarungan antara macan dan banteng, dua ikon yang banyak diulas di dalam konten buku yang diterbitkan Pustaka Saga ini.

Simpulan saya, karangan senior dan guru saya dalam literasi dan aksi, yang mencoba memperkenalkan nama pena-nya, Gandring ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Secara umum kontennya bisa dinikmati siapa saja, termasuk ayah bunda yang mencari alternatif dongeng mainstream bagi putra-putri mereka (yang dibentuk untuk menjadi penggerak bangsa kedepan).

Selamat berkontemplasi.

Judul : Membangkitkan Bangsa Pemberani

Penulis : Gandring A.S.

Penerbit : Merah Saga

Cetakan : April 2016

Tebal : 145 Halaman

Level : Recommended for all ages

Jpeg
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Komentar Anda