Kampung Harapan : Bangkitkan Gang Dolly dari Ekonomi menuju Kampung Madani!

Surabaya,

Apa yang terbersit dipikiran kita ketika mendengar kata diatas?

Kekata khas yang diawali huruf “J” dan diakhiri huruf “K” ?

Lontong balap? Kuliner lezatnya.

Bung Tomo dan pekikan takbirnya? Itu tahun empat lima.

Tugu Pahlawan? Prasasti monumentalnya.

Pelbagai kata dan kenangan terpatri ketika kita mendengar kata Surabaya.

Namun ada dua kata yang juga tak kalah sering terbersit di pikiran kita tentang kota Surabaya.

Gang Dolly.

“Eling Suroboyo eling gang ndolly

Gak neng Suroboyo lek gak mampir neng ndolly.”

(Ingat Surabaya ingat Gang Dolly,

Tidaklah ke Surabaya jika tidak mampir ke Gang Dolly.)

Ya, penggalan diatas merupakan kalimat yang sering penulis dengar jika ada kunjungan orang luar Surabaya terutama anak – anak muda seperti para mahasiswa. Rasa penasarannya sangat tinggi sekali terlebih dengan isu lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara. Sebagai warga asli Surabaya, penulis merasa agak malu namun tak tahu harus menanggapi seperti apa karena faktanya Gang Dolly begitu ikonik di Surabaya.

Itulah fenomena yang terjadi sebelum Bu Risma, Walikota Surabaya memberi sebuah kabar baik bahwa beliau menyatakan akan menutup Gang Dolly secara legal tepat di bulan Ramadan 2014. Seluruh wisma dan pekerja seks-nya akan diciduk jika tetap mangkal di Gang Dolly. Surabaya bahkan Indonesia gempar.

Hal yang menarik adalah inovasi daerah terbesar kedua setelah ibukota Jakarta ini tidak hanya berasal dari Pemerintahannya saja (top down) namun juga lahir dari rakyat dan pemudanya (bottom up). Hal inilah yang membanggakan tidak hanya bagi arek – arek Suraboyo namun juga rakyat Indonesia secara umum. Mengubah Gang Dolly yang lekat dengan bisnis prostitusi menjadi kampung harapan nan madani. Bagaimana kisahnya?

Pasca pernyataan sikap Bu Risma untuk menutup Gang Dolly, para pemuda Surabaya tak mau ketinggalan momentum untuk turun tangan. Para pemuda yang bermukim di Surabaya mulai urun rembuk dari pelbagai elemen di sebuah gedung Balai Kota Surabaya. Mereka pun mulai bersepakat untuk bersama – sama menghimpun segala kemampuan mulai dari ide, keringat, jaringan hingga finansial untuk mendukung Pemerintah Kota Surabaya dalam menutup lokalisasi Gang Dolly sekaligus membantu pemberdayaan masyarakatnya. Hal ini disebabkan dampak penutupan tidak hanya dirasakan oleh para penjaja jasa seks atau mucikarinya, namun juga masyarakat sekitar di Gang Dolly khususnya di sektor ekonomi yang dilansir bisa mencapai 1 miliyar rupiah perputaran uang panasnya pehari!.

Pendekatan secara kultural di tengah warga Gang Dolly maupun kajian dan diskusi akademik dilakukan oleh sekumpulan pemuda progresif ini agar menemukan solusi yang konkret dan konsisten. Tokoh – tokoh nasional maupun regional seperti para mantan menteri yang ada di Jawa Timur dan Pakdhe Karwo, Gubernur Jawa Timur diajak untuk berkolaborasi dan mendukung aksi mereka. Maka atas inisiasi salah seorang arek Suroboyo asli, Cak Dalu Kirom, bersama para pemuda Surabaya lahirlah Gerakan Melukis Harapan (GMH), sebuah gerakan kolaboratif untuk memberi solusi bagi masyarakat Gang Dolly menjadi kampung harapan.

Merubah wajah Gang Dolly menjadi kampung harapan, kampung madani yang layak disinggahi bukanlah tanpa halangan. Secara politik Pemerintah Kota Surabaya diserang pelbagai pihak dengan berbagai macam dalih mulai kesehatan hingga kesejahteraan. Pada tataran grassroot di masyarakat Gang Dolly juga kencang yang menolak penutupan. Kabar baik datang dari beberapa pemangku masyarakat yang mendukung penutupan lokalisasi. Pihak yang mendukung inilah yang langsung didekati oleh punggawa GMH agar kehadiran mereka ditengah masyarakat bisa lebih diterima. Para pemuda sigak ini tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan warga pro-penutupan dengan menawarkan gagasan yang realistis nan solutif bagi problematika mereka.

Gerakan yang berjalan sejak Oktober 2014 ini fokus pada bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan dan wanita harapan. Ekonomi merupakan program prioritas GMH tanpa mengurangi urgensi program lainnya. Hal ini disebabkan dampak ekonomi merupakan dampak terbesar yang dirasakan oleh masyarakat Gang Dolly.

Dalu
Gambar 01 : Cak Dalu “Dolly” Kirom, eks-Presiden BEM ITS yang menginisiasi dan mengkoordinasi pemuda se-Surabaya hingga membidani kelahiran Gerakan Melukis Harapan (Sumber Foto : Akun Instagram resmi Dalu Kirom @dalukirom)

Ekonomi sebagai Amunisi

Tak dapat disangkal bahwa penutupan lokalisasi berdampak langsung pada turunnya pendapatan masyarakat Gang Dolly. Hal ini bisa digambarkan ketika lokalisasi masih buka banyak kendaraan yang terparkir menjadi lahan subur tukang parkir liar. Salon – salon diramaikan para wanita penjaja seks untuk memikat pelanggan mereka. Jasa pencucian baju juga mendapat “berkah” membersihkan pakaian maupun selimut yang “kotor”. Hingga warung – warung baik makanan berat maupun warkop selalu ramai dengan pelanggan.

Lompatan pendapatan inilah yang dipilih menjadi prioritas pemberdayaan GMH. Pelbagai ide dan inovasi coba diurai serta dikaji agar menghasilkan produk yang dapat mendatangkan keuntungan setinggi – tingginya dengan tempo sesingkat – singkatnya secara realistis. Mulai dari produksi dan branding produk yang ringan seperti kripik Samijali, batik khas Surabaya, Tempe Bang Jarwo hingga Inspiratrip (jalan – jalan inspiratif) ditawarkan secara publik sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat Gang Dolly, kampung harapan.

Kripik Samijali salah satu contohnya. Produk yang berasal dari umbi ini diolah sedemikian rupa oleh ibu – ibu warga Gang Dolly menjadi makanan ringan yang khas dan cocok menjadi oleh – oleh Surabaya. Bahkan dibeberapa gawe besar Surabaya seperti rapat akbar PBB UN Habitat Precom III yang diselenggarakan bulan Juli 2016 lalu kerenyahan Samijali diperkenalkan ditengah ribuan peserta dari ratusan negara di seluruh dunia. Samijali terbukti menjadi amunisi ekonomi masyarakat Gang Dolly.

Samijali
Gambar 02 : Kripik Hits Khas Suroboyo, Samiler Jarak Dolly a.k.a Samijali (Sumber Foto: Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

Selain pembuatan produk – produk yang nantinya akan menjadi penopang hidup masyarakat Gang Dolly, masyarakat umum bisa terlibat dan melihat langsung bagaimana sejarah Gang Dolly berdiri, diruntuhkan dan meniti kebangkitannya lagi. Inspitatrip jawabannya. Para peserta akan diajak berjalan-jalan dengan becak warga Gang Dolly untuk melihat eks-wisma terbesar, wisma Barbara hingga pemberdayaan masyarkat Gang Dolly, kampung harapan.

Melalui program Inspiratrip sendiri sudah banyak masyarakat yang terberdayakan. Sebut saja tukang becak, tour guide lokal, para pengrajin dan pembuat produk khas di wilayah yang masuk Surabaya Barat itu. Hal ini juga belum termasuk potensi penjualan dari pengunjung Inspiratrip yang memungkinkan untuk memborong produk – produk masyarakat Gang Dolly.

Pun momentum bulan ramadan tak disia-siakan oleh para sociopreneur GMH. Selain makanan kering untuk lebaran seperti nastar, lidah kucing hingga snow white, masyarakat Gang Dolly juga diberdayakan dalam memenuhi kebutuhan buka dan sahur se-Surabaya.

Omzet Ramadan
Gambar 03 : Ramadan bulan penuh berkah bagi masyarakat Gang Dolly (Sumber Foto: Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

Kebangkitan ekonomi masyarakat Gang Dolly mulai menunjukkan progresifitas yang positif jika dilihat secara kronologik pasca-penutupan di tahun 2014. Kolaborasi punggawa GMH jelas tidak bisa dipandang remeh terlebih selama dua tahun lebih hingga hari ini turut menemani masyarakat Gang Dolly dalam kebangkitan perekonomian mereka. Hal inilah yang juga menopang kegiatan di sektor – sektor lain agar tidak melulu bertumpu pada donasi dan bantuan dari pihak lain.

Menatap Visi Besar : Kampung Harapan, Kampung Madani

Sebagaimana diawal telah disebutkan bahwa meski sektor ekonomi sebagai prioritas namun tak meninggalkan urgensi pemberdayaan di sektor lainnya. Bahkan salah satu alasan terbesar Bu Risma teguh menutup Gang Dolly adalah dampaknya terhadap anak – anak kecil sebagaimana beliau berkisah tentang betapa murah dan mudahnya anak kecil menggunakan “jasa” wanita tuna susila disana. Masyarakat Gang Dolly khususnya anak – anak yang sebelum penutupan sebegitu dekatnya berinteraksi dengan dunia esek – esek menjadi perhatian khusus GMH yang notabene banyak diisi oleh aktifis dunia kampus ternama di Surabaya.

Bu Risma nangis
Gambar 04 : Bu Risma menangis haru di hadapan rakyat Indonesia kala bercerita tentang kondisi anak di Gang Dolly sebelum penutupan. (Sumber Foto : Metro TV)

Pelatihan kesenian, pendidikan non-formal, futsal bersama hingga optimalisasi Taman Baca Al Quran menjadi wahana aktualisasi para aktifis muda GMH dalam upaya perbaikan moral dan mental anak – anak Gang Dolly. Hal ini disebabkan mereka percaya bahwa anak – anak kecil ini bisa diselamatkan dengan ditemani dan diajak dalam aktifitas positif nan menyenangkan.

Dunia literasi pun juga digalakkan ditengah lingkungan anak – anak masyarakat Gang Dolly. Bantuan dari pelbagai pihak mulai dari pemerintah, LSM hingga individu datang silih berganti ikut berkontribusi dalam membangun karakter anak Gang Dolly yang cerdas dan bermoral. Perpustakaan dibangun dan diramaikan oleh gerakan yang mendapat penghargaan juara 2 kompetisi Wirausaha Sosial Mandiri 2014 ini dengan bimbingan belajar maupun pertemuan anak dan remaja sebagai sarana melatih kepekaan sosial.

JP Rabu 28 Okt 2015
Gambar 05 : Visi besar menuju kampung Madani (Sumber Foto : Jawa Pos edisi 28 Oktober 2015)

Selain anak – anak, GMH juga mencoba memberi solusi bagi wanita eks-Pekerja Seks. Yayasan yang meraih Pro Poor Award Surabaya 2015 kategori NGO ini melakukan rebranding bagi para wanita tuna susila tersebut dengan istilah yang lebih positif dan bernilai optimis, wanita harapan. Para wanita harapan sebenarnya telah dibekali baik secara kemampuan maupun finansial oleh pemerintah baik provinsi maupun kota. Akan tetapi tidak sedikit yang berhenti ditengah jalan karena membutuhkan dukungan moril dan inovasi mengingat tidak sedikit yang masih berpendidikan rendah. Dalam hal inilah GMH hadir ditengah – tengah mereka dengan menawarkan program – program ekonominya serta menjadi katalisator dengan program – program pemberdayanan ekonomi pemerintah. Kehadiran GMH tentu meningkatkan semangat juang wanita harapan guna menjaga kepulan asap dapur dari hasil keringat yang baik dan benar.

Tidak hanya berhenti pada pengembangan sumber daya manusia. Lingkungan menjadi salah satu isu yang juga dikawal oleh Gerakan Melukis Harapan guna mendukung perubahan yang komprehensif. Selain pengenalan dan pembinaan tentang Bank Sampah, penghijauan juga disosialisasikan dari kampung ke kampung tentu dengan melibatkan warga Gang Dolly sendiri sebagai subjek sekaligus objek lingkungan mereka sendiri. Pengelolaan lingkungan yang bersih dan sehat memiliki pengaruh baik secara jasmani dan rohani dalam upaya perbaikan kampung harapan Gang Dolly menuju kampung madani.

Kampung Hijau
Gambar 06 : Sosialisasi dan penghijauan bersama warga (Sumber Foto : Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

Epilog : Berapa Harga sebuah Harapan?

Gerakan Melukis Harapan yang dianugerahi anugerah Pemuda Pelopor Surabaya 2016 ini mengajarkan kepada pemuda bahwa sudah saatnya tidak lagi duduk diam berharap perubahan dan kebaikan datang dengan sendirinya. Pun kekuasaan yang mendukung kebaikan tetap membutuhkan pengorbanan dari rakyatnya khususnya para pemuda.

Keberhasilan inovasi daerah di kampung harapan yang ditorehkan oleh Dalu cs bukan hasil sehari semalam. Akan tetapi langkah – langkah konkret mereka adalah bukti bahwa perubahan menuntut pengorbanan, perjuangan, komitmen, totalitas serta kreatifitas dari mereka yang merindukan perbaikan.

Pemilihan nama Gerakan Melukis Harapan juga bukan tanpa makna filosofis yang mengharu biru dan terinternalisasi tidak hanya bagi punggawanya bahkan kepada rakyat Indonesia.

“Kami menyebut mereka pelukis harapan.

Pelukis harapan adalah pemuda-pemudi yang tercerahkan, yakni mereka yang sadar akan keadaan kemanusiaan, budaya dan permasalahan di masyarakatnya.

Kesadaran itu membuat hatinya tergerak untuk menciptakan perubahan masyarakat kearah yang lebih baik.”

– Dalu Kirom

Pun dinamakan gerakan disebabkan perubahan yang diinisiasi bahkan oleh satu orang tetap memerlukan kekuatan komunal. Kolaborasi dalam berbagi harapan menjadi faktor yang sangat determinan bagi Gerakan Melukis Harapan untuk menjalankan program – program yang solutif, progresif dan inovatif bagi Gang Dolly. Perjuangan, pengorbanan dan kebersamaan, itulah harga sebuah harapan.

Optimisme merubah wajah Gang Dolly menjadi kampung harapan yang bangkit melalui ekonomi menuju masyarakat madani bersama GMH, layak menjadi salah satu aksi konkret dari pemuda daerah yang wajib digaungkan ke seantero nusantara agar semangat para pemuda secara kolaboratif dan konstruktif lebih terpacu mewujudkan mimpi untuk Indonesia sesuai dengan harapan para pendiri bangsa, kesejahteraan untuk semua.

Oleh karena itu, inilah salah satu gerakan kebanggaan generasi muda Indonesia ditengah keraguan para golongan tua dan pesimistis. Gerakan Melukis Harapan yang diwarnai semangat dan ide – ide segar pemuda Surabaya secara bersama – sama membuktikan doa dari Bung Karno tentang pemuda. Jika satu pemuda bersama – sama menginisasi gerakan perbaikan daerah, maka bukan tidak mungkin sepuluh pemuda bersama – sama mampu menggetarkan dunia menggerakkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Inovasi pemuda

untuk Indonesia 

“Satu perubahan hanya bisa dilakukan, jika kita melakukannya bersama – sama!”
Dalu Kirom – Founder Gerakan Melukis Harapan

SCTV Award
Gambar 07: Anugerah Liputan 6 Award SCTV 2016 kategori Pemberdayaan Masyarakat kepada GMH (Sumber Foto : Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

 

Dokumentasi

1. Pemberdayaan Ekonomi

Batik
Gambar 08 : Pemberdayaan masyarakat dan wanita harapan dalam industri kreatif batik (Sumber Foto : Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

 

2. Sektor Pendidikan

Gambar 09 : Pembinaan anak kampung harapan dan optimasi perpustakaan (Sumber Foto : Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

 

3. Bakti Kesehatan

Kesehatan
Gambar 10 : Bakti Kesehatan bekerjasama dengan tenaga kesehatan profesional (Sumber Foto : Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

4. Pemberdayaan Wanita Harapan

Mensos & Samijali
Gambar 11 : Kunjungan Mensos di dapur produksi Samijali yang digarap oleh warga dan wanita harapan (Sumber Foto : Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

 

5. Kolaborasi dan Partisipasi Nasional

Mahasiswa Se Indonesia
Gambar 12 Mahasiswa dari penjuru Indonesia berpartisipasi menjajakan Samijali (Sumber Foto : Akun Instagram resmi GMH @melukisharapan)

 

Cek informasi selengkapnya tentang Kampung Harapan oleh Gerakan Melukis Harapan melalui :

Website melukisharapan.org

Instagram @melukisharapan

Ayo! dukung Dolly berubah!

 

#KampungHarapan

#SaveSurabaya

#InovasiDaerahku

#GoodNewsFromIndonesia


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Komentar Anda