SHOLAT DAN KEPEMIMPINAN UMAT (1)

ql

Islam adalah ajaran yang sempurna. Aspek kehidupan diatur baik secara detail maupun prinsipil. Hal inilah yang melahirkan asas – asas perihal ibadah dan muamalah yang dipisahkan berdasarkan konsepsi habluminallaah dan habluminannaas. Islam mengajarkan bagaimana mebangun relasi secara vertikal – transendental kepada Allaah maupun horisontal – komunal bersama sesama makhluk.

Esensi dari kedua ide tersebut melahirkan pelajaran yang dapat digali dari pelbagai ibadah – ibadah  penting seperti sholat salah satunya. Sebagai ibadah yang masuk dalam kategori rukun Islam, dengan konsekuensi hilangnya keislaman jika ditinggalkan secara sengaja dan tanpa taubat berdasarkan hadits yang berbunyi :

“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan syirik dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”[1]

Para ulama bersepakat perihal besarnya perkara sholat. Dalam keadaan apapun baik sehat maupun sakit, mukim atau safar hingga damai maupun perang, sholat tetap diwajibkan (kecuali bagi wanita muslimah yang berhalangan). Artinya terdapat hal – hal yang tidak bisa digantikan dalam urusan ibadah amaliyah satu ini. Mengapa sholat begitu penting?

Dibalik pelbagai asbabun nuzul dan asbabul wurud secara historis dari ibadah sholat, secara langsung ibadah ini memberikan pendidikan karakter kepada setiap muslim. Benar, selalu dan pasti ada ibroh dari setiap ajaran Islam termasuk sholat.

Hal ini berkaitan erat dengan hakikat eksistensi manusia di dunia. Ibadah yang menjadi sipreme goal penciptaan manusia diaktualisasikan salah satunya melalui tugas khalifah, tugas pengelolaan makhluk di dunia. Tugas kepemimpinan menjadi salah satu basic skill bagi setiap insan jika didasarkan pada hadits berikut :

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (pemimpin negara) adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya. Seorang lelaki/suami adalah pemimpin bagi keluarga nya dan ia akan ditanya tentang mereka. Wanita/istri adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya.”[2]

Tauqid yang ditegaskan sebanyak dua kali di dalam hadits tersebut seakan mengingatkan urgensi menjadi pemimpin yang baik, efektif dan berdampak secara personal kepada setiap pengikut Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam. Hal ini disebabkan urusan menjadi pemimpin yang baik, efektif dan berdampak tidak hanya berkaitan dengan efek di dunia namun juga di akhirat.

Kembali kepada ibadah sholat sebagai sarana pendidikan kepemimpinan umat. Terdapat banyak sekali pelajaran – pelajaran kepemimpinan yang baik, efektif dan berdampak yang coba dilatih melalui ibadah yaumiah ini. Mulai dari persiapan sholat, urgensi sholat berjama’ah di masjid bagi pria – yang juga secara asasi adalah pemimpin, hingga adab baik sebagai imam maupun makmun. Sebut saja nilai urgensi persiapan dalam beramal, kedisiplinan, penguatan niat dalam beramal hingga prinsip siap memimpin – siap dipimpin merupakan sekelumit contoh nilai kepemimpinan yang terkandung dalam sholat. Begitu banyak pelajaran kepemimpinan yang dapat digali dan latih dalam setiap fase ibadah sholat. Apa saja?

Tentu tidak sedikit pelajaran yang dapat diambil dan sangat sayang sekali jika dihabiskan dalam satu ulasan disini. Tulisan ini setidaknya mencoba memberikan korelasi sederhana antara ibadah sholat yang merupakan rukun Islam dengan tugas khalifah sebagai salah satu bentuk ibadah hakikiyah seorang manusia. Semoga tulisan ini cukup menjadi pembuka dan pengantar sederhana sebelum ulasan – ulasan pada coretan berikutnya In syaa Allaah.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”[3]

Wallaahu a’lam.

 

[1] Terjemahan Hadits Riwayat Muslim

[2] Terjemahan Hadits Muttafaqun ‘alayhi

[3] Terjemahan Surat Yusuf ayat 111

Komentar Anda