Resensi : Salimisten

whatsapp-image-2016-12-31-at-12-23-44

Politikus Muslim Indonesia di masa lampau mengundang banyak decak kagum. Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh bersama keterbatasan dan penindasan, mereka memberikan alternatif mata air inspirasi tauladan di kala rakuat krisis panutan. Salah satu panutan itu tersemat pada pria kecil berjenggot namun mampu menggetarkan lawan bicara. 

The Grand Old Man, itulah julukan Haji Agus Salim, hasil akumulasi pergulatannya selama tiga zaman Indonesia berdiri. Dan karya ini menitik beratkan pergolakan ide Pak Haji dalam aspek politik luar negeri-nya kala menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia muda.

Bustomi sang penulis yang juga lulusan studi hubungan internasional Unair ini mencoba mengulas secara fokus bagaimana Pak Haji bergumul dengan dinamika Islam dan nasionalisme di masanya. Pergolakan timur tengah dan pan-Islamisme yang berkembang pasca PD II yang menjadi primadona pembahasan global direspon dengan bijak oleh Pak Haji. Moderatisme dalam menyikapi isu global tersebut menunjukkan bahwa Pak Haji bukan tipikal orang yang berhasrat dengan nalar personalnya dan mengorbankan kepentingan nasional. Karya Gus Bus ini menjelaskan runutan historis dan analisa politis dari keberpihakan Pak Haji.

“Hal yang tak kalah penting dari pemikiran Haji Agus Salim terkait Islam dan politik luar negeri adalah rasionalitas, ketegasan dan kejelasan arah yang hendak dicapai.”

Pak Haji, yang dulu pernah disindir oleh massa sosialis karena jenggot mencungul-nya yang kemudian dibalas dengan cerdas ini, dideskripsikan oleh Gus Bus sebagai muslim yang mampu menjadi tauladan bagi para aktifis muda Indonesia kontemporer. Gagasannya sejalan dengan tindakannya, bahkan Bung Hatta menyayangkan Pak Haji tidak memiliki sekpri (baca : sekretaris pribadi) yang dapat mengabadikan pemikiran dan orasinya. Maklum, Pak Haji selama hidup juga dikenal sangat (maaf) kere dan melarat walau statusnya sebagai salah satu the founding grandfather Indonesia sangat memungkinkan baginya untuk mendapat hidup yang layak ala pejabat. (perihal gaya hidup politikus muslim khususnya Masjumi bisa dirujuk pada buku berjudul “Belajar dari Masjumi” terbitan Pustaka Kautsar)

Buku ini sebagaimana diawal disampaikan, hanya menilik pada ide international relationship dari Pak Haji. Tentu sisi lain dari Pak Haji tidak disajikan dalam karya yang baru saja dilaunching akhir 2016 ini. Ulasannya memang singkat namun sudah cukup merepresentasikan gagasan prinsip dari The Grand Old Man.

Sebagai penutup ulasan singkat karya ideologis dari Gus Bus ini, torehan buku semacam ini memang perlu dilengkapi dengan fokus – fokus lain yang sesuai dengan kebutuhan rakyat muda Indonesia yang sedang terombang – ambing ditengah banjir bandang informasi.

Minimnya tauladan hari ini jelas menuntut sosialisasi karya bernafaskan tauladan yang telah konkret menorehkan catatan emas lebih digencarkan. Bangsa ini butuh lebih banyak membaca sejarah hidup pendahulunya yang sukses (maupun yang gagal agar tak lagi mengulang kesalahan yang sama, berkali-kali).

Jangan bosan baca buku sejarah!

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” ~ Yusuf 111

Deskripsi Buku

Judul : Salimisten – Pemikiran Politik (Luar Negeri) Haji Agus Salim

Penulis : Bustomi (Menggugat)

Penerbit : Pustaka Saga

Jumlah Halaman : 144 Halaman

Terbit : Desember 2016

Komentar Anda