Sarung dan Communal Identity

Sarung adalah salah satu fashion a’la Indonesia. Selembar kain yang digunakan sebagai bawahan pengganti celana ini dikenal luas di pelbagai kalangan rakyat seantero nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, siapa yang tidak mengenal sarung? Iklan – iklannya mengangkasa di udara tayang, membumi diatas baliho. Tua muda mengenakannya saat hari besar agamanya seperti hari raya Islam maupun Hindu, dua agama yang cukup senior di negeri ini. Mulai dari rakyat jelata seperti tukang becak berselimut sarung ditengah gigitan malam hingga citra Presiden bertahun baru dengannya. Sarung menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.

Namun apa yang terbersit di pikiran anda ketika mendengar kata “sarung”?

Islam, Muslim, Santri, Alim dan pelbagai kata mungkin bermunculan di benak kita.

Adapun dibenak saya, entah karena korban hegemoni yang bertubi – tubi,

Sarung adalah identitas Muslim Tradisional di Indonesia.

Namun sebelum mengulas hipotesis saya diatas, mari sejenak kita berkenalan dengan sarung.

Tak kenal, maka ta’aruf (berkenalan – bahasa arab).

Apa itu Sarung?

Salah satu ensiklopedi kelas dunia, ensyclopedia Britannica memaknai Sarung (Sarong) sebagai kain yang berasal dari bahan seperti sutra, kapas maupun sintetis yang dipakai di wilayah kepulauan melayu maupun pasifik. Merriam Webster mensinyalir penggunaan sarung berkisar pada abad ke-18. Adapun KBBI sendiri pada urutan pertama mendefinisikan sarung sebagai wadah dari benda tajam seperti pedang maupun keris. Agak tidak menyambung namun cukup make sense jika digunakan pada teks lain dari “sarung”. Makna yang lebih dekat ada pada urutan ketiganya namun tidak dapat mendefinisikan secara deskriptif, sarung adalah kain sarung.

Ada pendapat bahwa sarung diperkenalkan melalui pedagang timur tengah pada abad ke-14 dan sebagaimana disebut sebelumnya, mulai digunakan secara publik pada abad 18 di wilayah nusantara. Pun sarung sebagai identitas menurut salah satu catatan sejarah digunakan oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullaah sebagai bentuk rebel atas budaya barat. Beliau rahimahullaah sebagai salah satu pembesar Nahdatul ‘Ulama menggunakan sarung sebagai salah satu pakaian juga menunjukkan identitas lokal-tradisional dan communal identity mewakili kaum santri vis a vis dengan kaum abangan maupun gerakan pembaharu Islam kala itu, Muhammadiyah (yang mulai memperkenalkan dakwah inklusif salah satunya melalui cara berpakaian). Sarung sebagai identitas Muslim Tradisional sudah mulai mendapatkan political stance.

Sarung : Sebuah Identitas

Tentu di abad ke-21 sarung sebagai salah satu old style fashion tetap menjadi pilihan bagi masyarakat di setiap struktur dan kelas. Dilihat dari kacamata industri, untuk komoditas sarung tenun saja Kementerian Perindustrian mencatat ada 75 perusahaan yang bergerak untuk memproduksinya di seantero Indonesia, belum produksi sarung jenis lain. Kebutuhan sarung dalam negeri tentu terus bergulir sesuai dengan daya beli dan mindset konsumerisme rakyat yang cukup tinggi. Hal ini tentu juga tidak bisa dipandang semata – mata secara ekonomis saja. Sebagaimana saya sebut diawal, sarung adalah identitas.

Pernah ada salah seorang senior saya di kampus negeri mengenakan sarung ketika kuliah maupun di mall. Sontak hal ini mengundang pelbagai reaksi publik, termasuk sinis negatif. Namun beliau dengan enteng menyatakan bahwa sarung adalah identitas kebangsaan yang sudah selayaknya dihargai sebagaimana mestinya. Jika bangsa ini mampu menghargai segala impor budaya baik dari timur maupun barat, mengapa tidak untuk kain yang secara historis pernah menjadi simbol perlawanan atas penindasan kolonialisme?

Tidak ada yang salah jika seseorang bersarung atau jika suatu kelompok di identikkan dengannya.

Sarung adalah simbol kesederhanaan, penghargaan atas budaya lokal namun tetap elegan dan sopan. Egaliterianisme antar kelas bisa cair melalui cara berpakaian dan sarung adalah salah satunya. Sarung menandakan sebuah kehormatan pada budaya santri dan komunitas Islami yang sangat terlihat ketika momen hari rayanya. Sarung adalah identitas komunal yang mau tak mau identik dengan Muslim, entah tradisional maupun modern-roman sebagaimana telah dicontohkan oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah rahimahullah. Bersarung itu simbol perjuangan.

Dan semoga saja sarungan-nya Presiden Jokowi selama dua tahun terakhir di setiap tahun baru menjadi simbol political stance beliau sebagai representasi negeri ini untuk melawan kolonialisme dalam bentuk apapun. Khususnya kolonialisme ekonomi timur atau barat dengan segala buaian dan jeratan (utang) yang memikat. Semoga.


Referensi :

Ensiklopedi Britannica

Merriam Webster Dictionary

KBBI

apakabardunia.com

muarawangi.com

 

Sumber Gambar :

Presiden Jokowi di Raja Ampat kala Tahun Baru 2016 oleh Tribun News

Dokumentasi K.H. Abdul Wahab Chasbullah dari website NU Garis Lurus

Komentar Anda