Hacksaw Ridge : A New Rambo-ing Way

Ridge

Bagi generasi 90-an yang memiliki televisi di rumahnya, siapa yang tak kenal Rambo? Dengan latar perang dunia hingga perang Vietnam dan Afganistan, Amerika Serikat mencoba memperkenalkan Rambo sebagai the Ace man dan menyajikan one man show. Hal ini kemudian diadaptasi dalam pelbagai genre lain seperti James Bond hingga Bourne. Hal yang menyamakannya adalah semua itu fiktif.

Salah satu tayangan yang mencoba menawarkan ide yang sama adalah Hacksaw Ridge. Bedanya film ini diambil dari kisah nyata veteran perang dunia kedua.

Layar lebar yang didireksi oleh Mel Gibson, salah satu legenda perfilman barat ini menceritakan kisah dari Desmond Doss yang diperankan oleh Spiderman, eh, Andrew Garfield. Dibuka dengan flashback masa kecil dan muda Desmond, film ini mencoba memberikan insight bahwa selalu ada titik temu antara idealisme dan realita, selama seseorang cukup berprinsip untuk memegang keduanya.

Bagi seorang tentara, sangat mustahil untuk tidak angkat senjata. Namun tidak bagi Desmond. Bullying yang diterimanya ketika masa pendidikan hingga berujung pada tuduhan desersi/melawan perintah atasan tidak menyurutkan mimpinya untuk berperang tanpa membunuh.

Film ini juga memperlihatkan bahwa selalu ada intervensi baik dari pemikiran maupun perasaan yang akan menguji daya tahan sebuah idealisme. Namun bagi Desmond, dia memilih untuk bertahan dengan prinsipnya, berkontribusi menjadi tenaga medis dalam perang.

“Idealisme seseorang tidak diuji di saat tenang sebagaimana sebuah kapal tidak diuji di galangan.”

Ketika di lapangan, tentu Desmond mengalami tekanan nyata dari realita. Godaan untuk angkat senjata juga tak jarang menghampiri namun dia tak bergeming. Hingga pada akhirnya, salah satu rivalnya dalam pendidikan tak berhasil dia selamatkan. Desmond semakin terpompa determinasinya untuk menyelamatkan sisa pasukan.

Ketika seluruh pasukan mundur, Desmond bertahan dan secara senyap menyelamatkan satu persatu hingga terhitung lebih dari 70 prajurit yang dia bopong sendiri. Sendirian seperti Rambo. Hanya berbekal idealisme, ilmu keprajuritan dan kesehatan dan mindset afirmatif “Please God, give me one more”. Pada akhirnya Desmond harus dipulangkan ke negaranya dengan terhormat ketika pasukan kembali menyerang dan dia terluka cukup parah. End of the story, Desmond tetap hidup hingga tahun 2000-an.

Melalui film yang dibesut dari kisah nyata ini, saya percaya bahwa selalu ada orang – orang idealis yang mampu bertahan melawan realita yang kejam. Pilihan bagi mereka adalah mati dengan prinsipnya secara terhormat atau tetap hidup dan menjadi tauladan untuk yang lain. Hal inilah yang sebenarnya diajarkan dalam Islam bahwa nilai – nilai ideal harus tetap dipegang dalam kondisi apapun.

Bagaimana Abu Bakar bersikukuh dengan ke-iman-annya hingga Bilal tetap menjaga ke-Islam-annya di Mekkah. Mereka pun tetap bersifat realistis dengan melakukan kebijakan – kebijakan cerdas nan strategis guna menjaga keberlangsungan dakwah Islam. Namun sikap mereka tetap berada dibawah payung idealisme yang kuat. Para sahabat adalah orang – orang idealis. RidwanAllaah ajma’in.

Sebagai penutup, ada adagium menarik yang perlu saya sampaikan bahwa,

“Pahlawan membentuk peristiwa, dan peristiwa membentuk pahlawan”.

Manusia sebagai individu memang tidak bisa merubah dunia sendirian, namun dengan merubah (memperbaiki) kapasitas diri dan determinan untuk memperjuangkan idealismenya-lah seorang manusia mampu menunjukkan bahwa satu manusia cukup untuk membuat dunia lebih baik, sedikit atau banyak.

Selamat Rambo-ing idealismemu.

Komentar Anda