Belajar dari Kedengkian dan Pembubaran Pengajian

Umat Islam hari ini dirundung peroblematika toleransi internal. Pengajian yang akan diselenggarakan jama’ah salafi dibubarkan secara paksa oleh “oknum” yang melabeli dirinya sebagai ormas “terbanyak” di Nusantara. Setidaknya jagat sosial media khususnya “Bukumuka” saya diramaikan dengan isu ini baik yang pro maupun kontra pembubaran. Ada apa dan pelajaran apa saja yang bisa kita ambil?

HASAD : PENYAKIT PRIMITIF DAN SOLUSI PRAKTIS

Masih ingat ditengah kita akan kisah Habil dan Qabil. Ya, kedua putra dari nabiyullaah Adam ‘alayhi salam dikisahkan dengan gamblang dalam kitabullah perihal kisah “pengorbanan” mereka berdua. Dosa amali-insani primitif berupa tindak penghilangan nyawa seseorang, Habil, dipicu oleh dosa bathini-insasi yang merasuk di sanubari Qabil.

Hasad.

Dan ya, masihkah kita ingat dosa amali pertama pasca penciptaan kakek moyang kita oleh Iblis?

Ketidakpatuhan Iblis untuk bersujud kepada Adam bukan didasari karena “Hanya kepadamu hamba bersujud Ya Allaah” sebagaimana dalih orang autis.

Tidak! karena secara terang dan nyata Allaah menyampaikan alasan Iblis enggan dan durhaka atas perintahNya.

Iblis tercipta dari Api sedangkan Adam dari tanah liat. Iblis merasa jumawa dengan dzatnya dan merasa tidak perlu sujud merendah dihadapan etnis tanah liat, walau itu perintah Sang Pencipta.

Congkak, sombong dan hasad.

Well, in my opinion dan tentu didahului oleh pendapat para alim salah satunya Imam Al Qurthubi rahimahullah perihal kedua kisah diatas tadi adalah,

“Hasad (dengki) adalah dosa yang pertama kali dilakukan di langit dan di bumi, di langit adalah dengkinya iblis kepada Nabi Adam ‘alaihissalam dan di bumi adalah dengkinya Qabil kepada Habil.”

Dan ini yang cukup mengerikan.

Pun kisah sejenis seperti “pembunuhan” Nabiyullah Yusuf ‘alayhi salam oleh sedulurnya sendiri. Hasad.

Penyakit ini, Hasad dan turunannya sudah diwanti-wanti oleh Al Mushthofa Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam.

“Akan menjalar dengan samar kepada kamu penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu hasad dan kebencian (permusuhan). Kebencian itu pencukur, aku tidak mengatakan: itu mencukur/memotong rambut, tetapi mencukur agama.”

Apa yang beliau sampaikan bukan sekedar “menakut-nakuti” tanpa solusi. Beliau Shalallaahu ‘alayhi wa salam melanjutkan :

“Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, kamu tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman sehingga kamu saling mencintai. Tidakkah aku beritakan kepada kamu dengan perkara yang menguatkan kecintaan bagi kamu? Sebarkan salam di antara kamu!”
~ Terjemah Hadits Riwayat Tirmidzi dan dihasankan Syaikh Albani.

Dan ya, hal sederhana dan mudah diajarkan oleh beliau untuk menekan hasad dalam diri sekaligus menumbuhkan kebiasaan mencinta bahkan pada sesama rival.

Sebarkan salam.

Udah sementara itu saja coba kita amalkan bersama-sama. Minimal kalo papasan orang muslim di Masjid (kalo anda ragu akan ke-Islam-an seseorang di luar Masjid).

Mengapa hal sesederhana salam ini sangat berdampak?

Dengan mengucapkan salam, selain ada doa kebaikan juga terkandung pengakuan eksistensial dari subjek salam ke objek salam. Secara nyata subjek salam mengakui bahwa objek salam adalah seorang muslim dan konsekuensinya berlakulah haqqul muslim ‘alal muslim. Apa saja hak-hak itu?

“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: Jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika dia mengundangmu maka datanglah, jika dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat, jika dia bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah maka doakanlah, jika dia sakit maka jenguklah, dan jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya.”
~Terjemah Hadits Riwayat Muslim.

Dan Hadits yang tak kalah “ngeri” membahas muamalah antar-muslim.

Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini”.

Beliau mengulang kalimatnya ini berulang-ulang lalu setelah itu Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini.

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh wasiat tersebut adalah wasiat untuk ummat beliau”.

Nabi bersabda: “Maka hendaknya yang hari ini menyaksikan dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, sehingga kalian satu sama lain saling membunuh”.
~Terjemah Hadits Riwayat Bukhari

 

Berdasarkan hadits diatas, menjaga kehormatan seorang muslim (apalagi jika dia seorang pemimpin) tentu lebih berhak untuk dijaga sebagaimana Islam mengajarkan cara menasehati yang terbaik bagi saudaranya.

Maka langkah mudah pertama untuk menjaga dan mengakui kehormatan seorang muslim adalah dengan mengucapkan salam kepadanya. Wallaahu a’lam.

PEMBUBARAN PENGAJIAN

Kembali pada urusan pembubaran pengajian secara anarkhi tanpa aturan yang kuat secara positif apalagi konstitusional.

Konstitusi negara ini, yang konon dijaga oleh pemboikot, secara jelas dan nyata memberikan ruang bagi para da’i termasuk yang diboikot untuk menyampaikan ajaran agamanya. Pasal 28 tertulis :

“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”

Hal ini juga ditegaskan dengan hak untuk dicerdaskan sebagaimana Pasal 28C ayat (1) :

“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”

Kajian yang disampaikan oleh pihak terboikot berbicara tentang tema pernikahan khususnya manajemen rumah tangga. Bukankah ditengah tingginya angka perceraian di Indonesia kajian seperti ini diperlukan sebagai bentuk pencerdasan dan peningkatan kualitas hidup sekeluarga?

Hal -hal diatas diperkuat lagi dalam Pasal 28E di tiga ayatnya :

“1. Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

2. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

3. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

Pun jika dirasa ada permasalahan, reaksinya pun harus menghormati proses yang disediakan secara baik-baik dan terhormat sebagaimana penetapan Pasal 28J ayat (1) :

“1. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”

Mengapa hal ini, termasuk pengajian dilindungi dan harus “dibalas” dengan reaksi yang baik (bukan asal boikot, nyanyi ricuh bahkan merangsek masuk mengambil alih majelis)?

Jawabannya ada dalam Pasal 29 ayat (2) :

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Dan ya, inilah fakta normatif yang disediakan oleh ruang konstitusi untuk pengajian. Terlepas siapapun entah golongan kanan notok atau kiri belok, pada dasarnya berhak untuk “ngaji”. Kalaupun merasa keberatan, tentu aksi anarkis hingga violence tidak pernah dibenarkan.

WHAT NEXT?

Pada akhirnya, bubur sudah menjadi karak dan tukang buburnya sudah naik haji (ga sambung), pengajian sudah bubar, permasalahan sudah viral.

Saya teringat dengan peristiwa 911 yang sontak meramai riuhkan jagad pergulatan dunia dengan istilah “Islamophobia”. Melalui phobia itu sebenarnya ada pihak yang berharap Islam semakin ciut mengecil dan terkucil. Namun qodarullaah justru Islam semakin dikenal dan tidak sedikit hidayah masuk diawali dari “KEPO” orang-orang tentang seperti apa ajaran Islam.

Semoga peristiwa pembubaran pengajian ini menjadi titik  balik sekaligus titik pemisah mana yang memang memiliki tingkat toleransi tinggi dengan sesama muslim dan mana yang ruhama ‘alal kuffar,

Setahu saya, sebenci-bencinya pihak terboikot dengan pihak pemboikot, belum pernah saya temui di bumi Nusantara mereka (terboikot) berbondong-bondong nge-demo teriak-teriak sambil yel-yel a’la “Pseudo-militer” di depan pengajian pemboikot bahkan masuk dan ngerusuh. Belum pernah dan semoga tidak pernah. Karena saya percaya mereka (terboikot) cukup konsekuen dengan urusan demo sebagai pantangan dalam nasihat.

Tetaplah berkasih sayang walau kamu diusir oleh saudaramu sendiri wahai terboikot. Doakan mereka dalam waktu mustajab dan balaslah dengan mengucapkan salam.

Mereka butuh kasih sayang.

Wallaahul musta’an.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”.
~Terjemah QS Al Fath 29

debate

Source : themuslimshow

Komentar Anda