Baper dan Unsur Kemanusiaan Kita

Manusia adalah ciptaan Allaah yang sempurna dan paripurna. Hal ini telah terang disampaikan oleh Sang Pencipta :

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
TQS At Tiin : 4

Kekurangan dan kelemahan pada perkembangannya merupakan dinamika ujian bagi setiap individu untuk dihadapi dengan bekal yang hampir sama.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
TQS Al Baqarah : 155

Termasuk dalam hal ini ujian “kekurangan” dari segi fisik seperti kebutaan. Kondisi seperti ini pada dasarnya tidak mengurangi kesempurnaan manusia karena masuk dalam ujian pada seseorang yang secara asalnya bisa dilalui oleh manusia dan direspon dengan sebaik-baiknya. Contoh perihal kebutaan, Islam mengajarkan bahwa hal itu hanya “ujian” dan memiliki ganjaran khusus :

Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya), kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.”
Terjemah H.R. Bukhari

Termasuk pula perbedaan gender, suku hingga kondisi lingkungan pasti Allaah sesuaikan dengan kemampuan dan potensi dasar dari manusia secara umum dan Muslim secara khusus.

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; Jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya
Terjemah H.R. Muslim

Teriring banyak kisah dalam Al Qur-an perihal ujian para Nabi dan Rasul. Mereka ada yang diuji dengan “kesenangan” seperti harta dan tahta seperti Daud dan Sulaiman, pun sebaliknya diuji dengan keterbatasan baik fisik hingga lingkungan seperti Ibrahim dan Ayyub, ‘alayhimus salam.

Unsur Manusia

Manusia sendiri pada dasarnya terdiri dari tiga unsur utama dan tidaklah disebut manusia tanpa ketiganya.

Jasad, akal dan rasa. Fisik, akal dan hati.

Sebagaimana saya sebut diawal bahwa jika ada kekurangan (bukan ketiadaan) pada salah satu dari ketiganya, bahkan semuanya maka hal itu adalah ujian dan tidak mengurangi hakikat kemanusiaannya.

Sebut saja orang dengan disabilitas (sebagaimana saya beri contoh kebutaan) hingga orang yang (maaf) diuji dengan kegilaan. Toh jika seseorang masuk kategori gila (kehilangan akal) dinilai sama dengan anak kecil belum baligh (kurang akal) dalam pembebanan syari’at-nya. Dan ini adalah ujian bagi mereka.

Pena diangkat dari tiga orang : orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia dewasa dan orang gila sampai ia sadar.
Terjemah H.R. Tirmidzi

See, selalu ada hikmah dibalik keadaan yang Allaah berikan kepada seorang manusia.

Baper, Bakir dan Basik

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
TQS. Al Insyirah : 5-6

Konsekuensi dari eksistensi ketiga unsur manusiawi adalah pasti dan pasti ada ujian untuk ketiganya. Jika seseorang diberikan kelebihan dalam hal fisik/jasad maka dia akan diuji dengan hal itu dan tentu akan melahirkan kondisi “Terbawa Fisik” atau bahasa saya, Basik.

Basik ini akan merambah pada bagaimana seseorang merespon permasalahan yang harus dia hadapi secara lahiriah. Jika dia “basik” dalam bentuk sakit, maka solusi yang visible adalah dengan menjaga nutrisi, olahraga hingga rehat. Pun dalam permasalahan Bakir atau terbawa pikiran. Seseorang tentu akan menghadapi permasalahan yang sedikit banyak menghajar akal pikirnya sebagai manusia. Akal merupakan salah satu karunia Allaah untuk manusia dan dengannya termuliakan manusia, terbedakan al haq-al bathil, terambil keputusan dan pertanggungjawaban.

Hal yang harus dipahami adalah setiap masalah baik secara fisik maupun akal selalu ada solusinya, cepat atau lambat hasil yang ditunjukkan.

Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut.
Terjemahan H.R. Bukhari

Pun pada unsur lainnya, termasuk yang cukup viral hari – hari ini. Baper atau terbawa perasaan.  Baper merupakan hal yang lumrah dan logis serta tanda bahwa seseorang itu manusia. Posisi hati dan perasaan manusia sangat esensial sebagaimana disampaikan oleh para ‘Alim ‘Ulama pada pelbagai kitab-kitab gubahan mereka yang disandarkan pada Kitabullaah dan Hadits. Ya, perasaan adalah hal yang agung diberikan oleh Allaah untuk manusia.

Mintalah fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati.
Terjemahan H.R. Ad Darimi dan Ahmad, Dhaif menurut Albani.

Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dijelaskan bahwa posisi ketakwaan yang berada dalam dada manusia, tempat hati dan perasaan bersemayam, menciut ketika takut, bergetar kala bermasalah dan lapang jika senang.

Melalui hal ini pula, saya berpendapat bahwa Baper merupakan tanda eksistensi manusia. Barangsiapa yang tidak Baper, patut dipertanyakan kemanusiaannya. Mau diuji?

Ketika anda melihat ada orang terkena musibah katakanlah tsunami Aceh 2004, pembunuhan dan mutilasi secara kejam, tindakan terorisme di pelbagai dunia, diantara ketiga unsur manusiawi, mana yang paling banyak terpengaruh? fisik? akal? atau perasaan yang lebih dahulu menyerta?

Ya, galau terbawa perasaan mendahului proses akal dan fisik.

Jika anda memang merasa galau dan “Baper” dengan kondisi yang menimpa diri anda, menimpa keluarga anda maupun menimpa umat ini, berbahagialah dan bersyukurlah karena anda masih punya perasaan. Hati anda masih eksis.

Baper : Bijak dan Dewasalah

Menutup ulasan ini, tentu segala yang berlebihan tidak baik bahkan dalam urusan ibadah sebagaimana dilarangnya berpuasa tanpa berbuka, tahajud tanpa tidur dan “menjomblo” tanpa udzur syar’i. Islam mengajarkan bijak dan dewasa dalam menyikapi segala sesuatu.

Manusia sangat wajar dan logis “menderita” baik baper, basik maupun bakir. Sebagaimana disebut diawal bahwa selalu ada kekurangan dan ujian bagi manusia baik secara jasad, akal maupun perasaan. Jika kita mengasikan baper, bakir dan basik maka sejatinya kita juga menegasikan eksistensi kemanusiaan kita sendiri. Terbawa suasana secara fisik, pikir dan perasaan adalah kewajaran. Hal yang menjadi masalah adalah ketika keterbawaan tersebut tidak direspon dengan bijak dan dewasa sebagaimana Islam mengajarkan melalui sunnah Rasul dan Sahabatnya.

Maka jawaban ketika seseorang dalam kondisi tertentu sudah merasakan baper, basik dan bakir-nya sudah mencapai batas kewajarannya, telah membuatnya lalai akan akhirat, bahkan membuatnya tidak dapat mengendalikan dirinya, sudah selayaknya dia mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yang menjadikannya manusia yang berperasaan, berakal dan berjasad. Beribadah kepada Allaah dan merefleksikan kembali sirah nabawiyah.

Wallaahu a’lam.

“Ingatlah, setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.”
Terjemahan H.R. Thabrani

Sebelum-Menonton-Gerhana-Matahari-Total-Pelajari-Dulu-Tata-Cara-Sholat-Gerhana-Berikut-Ini-730x400

 

Komentar Anda