Resensi : “Melawan Arus” dan Transisi sebuah Subkultur

MA

Manusia adalah makhluk yang dinamis. Berbekal akal yang membedakannya dengan makhluk lain, kelahiran manusia dibarengi dengan lahirnya hal – hal yang baru. Hal baru ini memang tidak orisinil dan berasal dari refleksi pengalaman masa lalu manusia atau kita mengenal konsep Tesis – Antitesis – Sintesis yang dipopulerkan Hegel. Setiap aksi menghasilkan reaksi, dan setiap aksi manusia pasti akan melahirkan reaksi dari manusia lainnya.

Aditya Rahman Yani (Aik) merupakan salah satu diantara aktifis yang melahirkan sintesis dari tesis – antitesis berdasarkan pengalaman empirisnya. Punk Muslim lahir menjawab aksi – aksi Punk sebagai subkultur yang menjadi reaksi dari kapitalisme dan tesis sejenisnya. Punk Muslim yang secara pemikiran bisa dirujuk pada karya berjudul “Melawan Arus” ini secara mendalam dan lintas dimensi membedah posisi antara subkultur Punk, ideologi barat dan tradisi pemikiran Islam. Di dalam buku ini anda akan menemukan irisan dari ketiganya.

Berbekal pengalaman empiris yang dibungkus dengan pengetahuannya tentang pergolakan pemikiran worldview Barat vs Islam, Bung Aik membedah satu persatu pembahasan tentang Punk secara historis, filosofis dan empiris diramu dengan bahasa intelektual Islam. Kritik Рkritik yang dilayangkan Bung Aik dalam ulasannya mencoba memberikan pemaparan dimana seharusnya seseorang meletakkan subkultur Punk baik sebagai idea maupun norm.

Berangkat dari pembahasan definisi – definisi, Bung Aik mengakhirkan bukunya dengan memberikan kritik tajam kepada gerakan yang sejenis dengan Punk Muslim, Taqwacore yang berkembang lebih dulu di barat dengan nilai yang sangat liberal. Karya ini direkomendasikan sebagai salah satu cara menilai bagaimana dinamisnya pemikiran manusia yang akan ditransfer menjadi tindakannya.

Karya yang menandakan adanya transisi pemikiran ini bisa memberikan khazanah yang lebih berisi tanpa mengurangi esensi dari pembahasan dari fenomena yang diulas, Punk sebagai subkultur transitif. Memandang Punk maupun subkultur lain dengan sepatu dan kacamata mereka atau yang secara sosial pernah memiliki ikatan tersendiri, menjadi salah satu sumber perspektif yang dapat melahirkan bagaimana cara yang efektif untuk berinteraksi “kita” dengan “mereka”.

“Jika ingin berkomunikasi dengan seseorang,

Berbahasalah kepadanya sesuai dengan bahasanya.”

 

Judul : Melawan Arus “Membedah Pemikiran Subkultur Punk Islam di Indonesia”

Penulis : Aditya Rahman Yani (Aik)

Penerbit : Kanzun Books

Terbit : Juni 2016

Tebal : 124 Halaman

Rekomendasi : Cadas!

Komentar Anda