Robohnya Masjid Salafi: Sebuah Refleksi dan Kritik

masjid

Akhir-akhir ini jagat dunia maya dan nyata di Indonesia cukup ramai perihal adanya aksi massa menentang pembangunan Masjid Imam Ahmad bin Hambal (selanjutnya disingkat MIAH) di daerah Bogor. Masjid yang dipimpin dan diasuh oleh salah satu tokoh pembesar dakwah Islam Salafi, yakni Ustaz Yazid Jawaz, ini sudah berdiri sejak awal 2000-an.

Ini merupakan salah satu sentra dakwah Salafi di wilayah barat Jawa. Ustad Yazid sendiri merupakan salah satu tokoh yang didengar pendapatnya oleh para ustaz Salafi lain di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. MIAH merupakan salah satu simbol eksistensi dakwah Salafi.

Hal ini kemudian menjadi polemik ketika MIAH hendak mengadakan renovasi guna menampung jamaah yang lebih banyak. Rencana ini kemudian disusul dengan aksi protes dari umat Islam dengan dibuktikan melalui penggunaan identitas muslim, seperti peci dan sarung. Pun juga terdapat himbauan-himbauan yang viral dari ormas Islam tertentu untuk “berjihad” mencegah renovasi MIAH dengan membawa embel-embel institusi nasional, mulai dari tentara, polisi, hingga MUI. Semakin panaslah sengketa ini, hingga Bima Arya, sang wali kota dari Partai Amanat Nasional, memutuskan untuk membekuan MIAH.

Salafi: Paradoks Dakwah dan Akhlak Penganutnya

Dakwah Salafi adalah ajakan yang merujuk pada pemahaman pendahulu yang salih, yakni para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in melalui pemurnian ajaran Islam dari infiltrasi pemikiran maupun ritual yang tidak berdasarkan dari Alquran dan sunah. Jika mau lebih spesifik lagi, dakwah Islam ala Salafi ini mulai tinggi animonya setelah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan karya-karyanya melalui support Imam Su’ud pascaberdirinya Arab Saudi.

Dakwah Salafi juga sedikit banyak mempengaruhi pemikiran tokoh-tokoh pergerakan Islam, baik nasional maupun mancanegara, termasuk di-mention dengan pujian oleh Soekarno dalam salah satu esainya di “Dibawah Bendera Revolusi”. Dakwah Salafi turut membangun bangunan pergerakan Islam hari ini.

Secara de jure, dakwah Salafi seharusnya tidak memiliki masalah, baik dengan sesama pendakwah Islam lain maupun penganut agama lain, jika dan hanya jika secara konsekuen merujuk pada Alquran dan sunah yang secara praktik sudah terbukti di zaman awal kelahiran Islam sebagai agama sui generis di masanya.

Akan tetapi, secara de facto, tidak sedikit dakwah Salafi yang harus berbenturan dengan dakwah Islam lain, terutama dari kalangan yang secara ajaran dianggap tidak berdasarkan Alquran dan sunah. Hal inilah yang di kemudian hari menggulirkan perseteruan antarpengusung dakwah Islam.

Hal ini sebenarnya tidak terlalu berisiko tinggi jika hanya dicukupkan di balik pagar intelektual atau pembahasan akademik. Ilmu lain, seperti ilmu hukum, juga memiliki perbedaan mazhab dan pendekatan filsafat yang berbeda 180 derajat antarkampus. Namun, tidak sampai dibawa ke ranah yang sensitif. Lain halnya jika perbedaan pandangan tersebut sudah turun menjadi kebijakan personal dan komunal, menjadi pernyataan sikap antara “Us and Them” hingga turun ke urusan fisik.

Polemik Salafi vs non-Salafi sendiri hampir-hampir tidak kentara di dunia minoritas muslim, mulai dari timur seperti Jepang hingga barat seperti USA. Hal ini bisa jadi disebabkan masih adanya e’sprit de corps di bawah naungan besar bernama Islam. Perbedaan tak terlalu dirisaukan karena ada common enemy yang lebih besar.

Lain halnya ketika di dunia mayoritas muslim; Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar. Salafi sebagai dakwah yang sui generis dari dakwah lain, yang memiliki struktur formal pengurus pusat hingga lokal, merupakan gerakan dakwah yang fleksibel dan sangat ditentukan oleh masing-masing dainya.

Hal inilah yang menjadi salah satu strengh dari dakwah Islam ini hingga mampu merambah ke pelbagai kelas dan strata, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat negara. Akan tetapi, hal yang juga menjadi threat adalah lahirnya stigma negatif dari “ulah” penganut bahkan dainya yang seakan-akan menjadi generalisasi dakwah Islam Salafi di seantero dunia.

Tak ayal hal ini juga merepotkan dai Salafi lain yang secara rekam jejak tidak memiliki masalah dengan masyarakatnya. Perkara semakin runyam dengan adanya upaya pemecah belah, seperti menyandingkan dua pendapat antara dai Salafi dengan non-Salafi yang secara konten berbeda 180 derajat di sosial media maupun Youtube tanpa menyertakan video seutuhnya alias hanya sepenggal saja.

Hal inilah yang seharusnya menjadi refleksi dari para penyeru dakwah Islam, khususnya Salafi, dalam berproses bersama masyarakat sekitarnya. Alienasi dan tindakan eksklusif berhadapan dengan stigma negatif yang menyebar antara sesama umat muslim Indonesia harus disiasati dengan cerdas dan bijak oleh penikmat kajian Salafi.

Aplikasi adab dan akhlak yang telah diajarkan Islam, seperti senyum, menebar salam, memberi hadiah kepada tetangga, hingga hal sederhana nan mudah lain menjadi harga mati dan konsekuensi logis bagi mereka yang menikmati dakwah Salafi dan menisbatkan diri pada Alquran dan sunah.

Eksklusifitas Masjid: Sebuah Realita

Pada poin kedua ini, ada salah satu hal menarik yang dijadikan alasan penolak renovasi MIAH adalah masjid yang dituduh eksklusif. Mereka mendalilkan bahwa MIAH adalah masjid dhiror alias didirikan orang munafik untuk memecah belah serta hanya menerima jamaahnya saja. Hal ini kemudian dipertanyakan oleh pengurus MIAH, mengingat MIAH terbuka untuk muslim yang ingin salat berjamaah di dalamnya tanpa tedeng aling-aling, seperti dipel setelah salat. Mengapa eksklusifitas digunakan sebagai dalil penolakan?

Saya menyinyalir bahwa yang dimaksud dengan “eksklusif” ini adalah terbatasnya aktivitas masjid yang harus disetujui oleh pengurus masjidnya alias takmir. Hal ini tentu logis mengingat dakwah yang digaungkan MIAH jelas berbeda prioritas dengan yang digaungkan oleh gerakan Islam lain. Ustaz Yazid di dalam buku-bukunya sangat lugas mendahulukan urusan akidah dan ibadah dibandingkan hal lain yang bersifat kontemporer.

Konsekuensi dari pembahasan dengan sifat purifikatif tersebut tentu melahirkan resistensi dari ajaran yang dianggap tidak sesuai Alquran dan sunah. Tentu pengajian atau aktivitas yang bertentangan dengan pemahaman Alquran dan sunah yang dipahami oleh dai Salafi tidak dapat dan dibenarkan untuk diselenggarakan di MIAH, termasuk tahlilan maupun ritual ibadah yang tidak diterima oleh takmir MIAH. Kebijakan inilah yang akhirnya bisa disimpulkan sebagai tindakan “eksklusif” oleh pendemo.

Pertanyaannya adalah apakah hanya MIAH yang menetapkan kebijakan yang “eksklusif” ini?

Kuasi-kuasa takmir masjid menjadi sorotan tentang betapa eksklusifnya masjid di pelbagai tempat di Indonesia. Bahkan, tidak sedikit fakta bahwa ada dua (bahkan tiga) masjid yang berdiri di satu kawasan hanya karena berbeda organisasi yang menaungi maupun yang satu kunut yang satu tidak kunut.

Eksklusifitas seperti inilah yang tidak boleh dilupakan oleh umat Islam Indonesia sebelum menjustifikasi eksklusifnya masjid yang dikelola oleh takmir Salafi. Sudah ada yang jauh lebih eksklusif, bahkan terang-terangan mencantumkan nama dan plang organisasinya di depan masjid, termasuk tanda tangan pejabat sebagai upaya legitimasi bahwa masjid ini dilindungi penguasa (sikap menjilat ala Orde Baru).

Lantas, jika masih ada masjid-masjid eksklusif seperti itu di tengah kita, adilkah jika hanya MIAH yang dituduh?

Jika MIAH harus dirobohkan dengan alasan eksklusif, maka masjid lain yang sama eksklusifnya juga harus dirobohkan dan secara konsekuen tanpa melihat organisasi apa yang menaungi, menjadi gerakan nasional dari Pulau Rote sampai Pulau We, hingga masjid yang tersisa di Indonesia hanyalah masjid yang benar-benar terbuka untuk umat Islam an sich.

Lebih baik hanya ada sepuluh masjid berdiri merata di setiap kabupaten kota, namun itu adalah masjid yang benar-benar dimiliki semua umat Islam tanpa terkecuali, daripada ada sejuta masjid di wilayah itu namun berdiri sendiri-sendiri, eksklusif bagi organisasi dan gerakan tertentu.

Hanya kepada Allah Yang Mahakuasa tempat kita memohon perlindungan.

Beberapa Sumber Berita Rujukan
https://www.jawapos.com/read/2017/08/26/153350/ada-agenda-terselubung-di-balik-penolakan-masjid-ahmad-bin-hambal
https://tirto.id/mereka-kompak-menolak-aliran-wahabi-cker
http://regional.kompas.com/read/2017/08/29/17190831/bima-arya-bekukan-imb-sebuah-masjid-di-bogor

Sumber Gambar : http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2014/01/16/73382/masjid-roboh

(Tulisan ini juga diposting di Jurnal selasar.com)

Komentar Anda