Be The Muslim Fit!

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

~Terjemah Surat Al Anfaal ayat 60

Menjadi seorang muslim merupakan nikmat sekaligus amanah yang luar biasa bagi seorang manusia. Hal ini disebabkan besarnya tanggung jawab yang diemban oleh seorang muslim baik secara asasi sebagai manusia dan khususnya sebagai “duta” dari Islam.

Sebagai seorang “Khalifah” sebagaimana termaktub dalam Al Baqoroh ayat 30 serta sebagai pengemban ajaran yang “rahmatan lil ‘alamin” dalam al Anbiya ayat 107, tentu diperlukan daya tahan yang tangguh agar tugas – tugas tersebut bisa dipertahankan.

Hal inilah yang juga menjadi pelajaran dari para pendahulu yang salih seperti contohnya Nabi Musa dan Thalut sebagai seorang pemimpin yakni secara jiwa dan raganya yang tangguh.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”
~Terjemah Surat Al Baqoroh ayat 247

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita),
karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya’. “
~Terjemah Surat Al Qashash ayat 26

Dua ayat tersebut memberi sinyal bahwa menjadi seorang yang “kuat” merupakan suatu keniscayaan bagi tumbuh kembangnya seseorang, komunitas hingga peradaban.

Memaknai Kekuatan

Tentu sangat naif jika kekuatan hanya ditafsirkan secara fisik dan materialistik semata akan tetapi merupakan suatu kebodohan jika tidak memasukkan unsur lahiriah tersebut sebagai salah satu unsur yang berdampak bagi terbangunnya bangunan umat yang kokoh.

Sebagaimana diawal telah disinggung dalam Surat Al Anfaal ayat 60 bahwa Allaah memerintahkan muslim untuk mempersiapkan “kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”. Apa saja mulai dari jiwa dan raga, lahir dan batin, iman ilmu dan amal, harta bahkan nyawa. Apa saja selama itu merupakan sebuah bentuk konkret dari kekuatan.

Hal ini juga sebagaimana dipaparkan para ‘ulama tafsir perihal ayat ini salah satunya As Sa’di bahwa “Setiap hal yang merujuk pada kekuatan intelektual, fisik dan segala jenis persenjataan…”.

Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin seorang muslim mampu “berperang” tanpa melatih kekuatan – kekuatan itu?

Maka hal mendasar yang harus diselesaikan bagi setiap muslim adalah setidaknya memastikan diri mereka siap secara jiwa dan raga serta serius dalam melatih keduanya.

Hal inilah yang menjadikan hadits masyhur yang diriwayatkan Imam Muslim “Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai Allaah dari mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan” sebagai pemacu untuk meningkatkan kapasitas kemampuan fisik seorang muslim.

Iman adalah kekuatan,

Ilmu adalah kekuatan,

Amal adalah kekuatan,

Dan ketiganya memerlukan raga yang prima untuk menjaganya.

Stronger better.

Hikmah Olahraga “Sunnah”

Olahraga “sunnah” dalam hal ini bukan berarti menjadikan olahraga lain “tidak sunnah” namun saya pribadi lebih memilih diksi ini sebagai aktifitas yang secara nash disebut langsung oleh Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam karena memang aktifitas tersebut bisa dilakukan dizaman apapun. Olahraga apakah gerangan?

“Setiap hal yang tidak ada dzikir kepada Allah adalah lahwun (kesia-siaan) dan permainan belaka, kecuali empat: candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, latihan memanah, dan mengajarkan renang”.

~Riwayat Imam Nasa’i

Dari hadits ini saja kita bisa mencoba menarik mulai dari apa yang perlu dipersiapkan untuk berenang, memanah dan berkuda hingga apa benefit yang didapatkan dari aktifitas tersebut secara personal?

Berenang merupakan salah satu skill survival dasar bagi manusia dan hal yang terpenting dalam aktifitas ini adalah ketenangan. Jika seseorang berenang di kedalaman, tentu mental tenang benar – benar diuji karena jika terlalu panik dia tenggelam pun jika responnya lambat juga tenggelam. Melalui olahraga ini seakan – akan Islam mengajarkan pemeluknya terbiasa dengan ketenangan walau ditengah masalah yang siap menenggelamkan mereka. Tenang, atur gerakkan dan tetap bernapas. Let your head calm.

Jika berenang fokus pada mengontrol diri, lain halnya dengan memanah. Memanah atau kemampuan setara lain seperti menembak senapan sudah berkaitan dengan unsur eksternal yang tidak bisa kita kontrol mulai dari busur panah atau senapan, anak panah atau peluru tajamnya hingga kekuatan dan arah angin yang mempengaruhi setiap tembakannya. Hal ini secara tidak langsung melatih seorang muslim tidak hanya harus mampu memanggul benda lain yang beratnya juga tidak ringan namun juga memiliki insting tajam tentang situasi dan kondisi. Maka ada sebuah pesan bahwa usaha manusia dalam menembak hanya sebatas dia menarik busurnya atau menargetkan senapannya dan ketika anak panah atau peluru telah lepas maka hasilnya terserah Allaah. Tentu agar mampu menarik busur dengan kuat dan presisi maupun mengangkat senapan dan membidik tepat memerlukan latihan yang tidak bisa semalam. Insting lahir dari peluh dan darah berlatih.

Dan yang terakhir adalah berkuda dimana aktifitas ini berbeda dengan sebelumnya yang berurusan dengan “benda mati”. Olahraga ini berkaitan dengan makhluk hidup yang juga memiliki “perasaan” dan butuh “disayang”. Maka perlu seni dan mental kepemimpinan tinggi untuk bisa “berdamai” dengan makhluk lain mengingat kuda juga memiliki keinginan seperti makan atau berlari bebas. Berkuda setidaknya bisa melatih seseorang untuk belajar menguasai diri dan “makhluk lain” untuk bisa sejalan searah bersama – sama.

Dari ketiga olah raga itu saja sudah bisa disimpulkan bahwa seorang muslim merupakan pribadi yang dituntut memiliki ketangguhan secara mental dan fisiknya karena untuk berenang, memanah dan berkuda Anda memerlukan otot yang kuat minimal menopang tubuh Anda.

Oleh sebab itu, menjadi muslim yang fit secara jiwa raga merupakan suatu keniscayaan bagi mereka yang mengidam – idamkan kejayaan umat. Jangan bermimpi Islam bisa jaya dengan sumber daya manusia yang mengontrol dirinya ditengah air yang diam saja tidak bisa (apalagi ditengah kepungan musuh?!)

Epilog

Sebagai penutup, saya akan memberikan beberapa hal penting dalam menjaga raga agar bisa tetap atau bertambah fit. Setidaknya ada tiga aspek yang harus diperhatikan dan semuanya secara langsung telah diatur dalam Islam melalui jalan hidup Rasulullaah ‘alayhi sholatu wasalam.

  1. Nutrisi
  2. Olahraga
  3. Istirahat

Nutrisi sebagai sumber energi yang akan digunakan beraktifitas tentu mempengaruhi jalan hidup seseorang. Hal ini secara faktual diulas dalam bab bagaimana Islam mengajar soal makan dan minum termasuk pengobatan Islami. Poin pentingnya adalah you are what you eat.

Olahraga sebagai fase proses dari input yakni nutrisi juga memegang peran penting dalam mengupayakan diri menjadi fit. Otot manusia merupakan salah satu organ tubuh yang sangat mudah untuk berkembang (dan mudah menyusut juga). Hal ini sedikit banyak diajarkan baik secara langsung dalam Islam seperti menganjurkan olahraga maupun melalui perawakan para pendahulu yang “kekar” (dan hal ini tentu tidak mungkin dicapai hanya dengan tidur – tiduran) maupun tidak langsung seperti anjuran berjalan kaki untuk sholat berjama’ah di masjid dan sebagainya.

Dan terakhir adalah proses restcructure tubuh dan nutrisi dari aktifitas olahraga yakni istirahat. Hal ini juga diatur dalam Islam melalui dianjurkannya tidur sedini mungkin setelah sholat isya’ maupun menyempatkan tidur siang. You need to take a break to be jump further.

Maka dari itu, sudah selayaknya seorang muslim yang kaffah tidak mencukupkan dirinya dengan segala excuses menjaga tubuh “lemahnya” karena umat yang kuat dihasilkan dari pribadi yang kuat dan kekuatan adalah semuanya baik iman, ilmu dan amal tanpa terkecuali.

Wallaahul musta’an

“Kelak negeri-negeri akan ditaklukkan untuk kalian, dan Allah mencukupkan itu semua atas kalian, maka janganlah salah seorang diantara kalian merasa malas untuk memainkan panahnya”
~Hadits Riwayat Muslim

*Ulasan Materi Diskusi Rutin UKMKI di Masjid Nuruzzaman pada 13 September 2017

WhatsApp Image 2017-09-14 at 14.27.44

Komentar Anda