Review : The One Thing dan Seni Prioritas

WhatsApp Image 2017-09-17 at 17.23.27

“Jika Anda berburu dua kelinci sekaligus, niscaya Anda tidak mendapat apapun”

Kalimat yang juga tertera di awal buku yang bahasa Inggrisnya berjudul The One Thing dan di alih bahasakan menjadi “The One Thing : Kekuatan Fokus untuk Mendorong Produktivitas” ini memberikan tamparan bagi mereka yang serius dalam mencapai sesuatu dalam hidupnya. Bahwa untuk mendapat hasil secara efektif dan efisien diperlukan komitmen untuk berfokus.

Ditengah era tsunami informasi dari akselerasi teknologi, seringkali kita terjebak dengan distraksi – distraksi dalam menjalankan aktifitas keseharian kita. Hal ini lama kelamaan menjadi kebiasaan yang menjangkiti sehingga mengakibatkan tugas utama entah sekolah, kuliah maupun bekerja menjadi tidak maksimal hasilnya serta sering membuat kita lelah. Begitu banyak waktu namun begitu sedikit hasil yang dicapai mungkin seringkali kita keluhkan.

Kemudian bagaimana cara agar kita bisa mencapai hasil yang kita inginkan bahkan impi yang kita idamkan tanpa harus merasa lelah tanpa guna?

Mitos Multitasking

Buku yang dilahirkan dari ribuan riset akademik yang kemudian dielaborasi oleh Gary Keller dan Jay Papasan ini memberikan banyak pelajaran tidak hanya tentang know how namun juga why  seseorang harus serius dalam menetapkan prioritasnya untuk mencapai The One Thing bagi hidup mereka.

Penulis buku ini mencoba membantah madzhab multitasking yang menyatakan bahwa manusia bisa melakukan segala sesuatunya sekaligus disaat bersamaan. Jika yang dijadikan target dari aktifitas adalah hasil yang maksimal, maka sebagaimana komputer yang semakin banyak dibukanya program akan mempengaruhi kecepatan yang makin lambat alias lelet, pun juga manusia. Hal ini yang secara faktual melahirkan regulasi pelarangan berkendara sambil menggunakan telpon karena akan menurunkan fokus pengendara yang akan meningkatkan probabilitas kecelakaan.

Adapun jika ada multitasker yang berdalih pemain sirkus yang melempar banyak bola diudara, penulis buku yang juga entrepreneur real estate ini menjawab singkat bahwa pemain tersebut melemparnya secara bergantian. Tangkap, lempar, tangkap, lempar da seterusnya yang artinya pemain sirkus memberikan fokus sekaligus jeda pada setiap bolanya.

Hal inilah yang ternyata sudah jauh diajarkan dalam Islam melalui surat Ad Dhuha yang banyak dihapal oleh kaum muslimin di ayat ke-7.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,”

Satu demi satu, menghadirkan fokus alias khusyu’ dalam setiap aktifitas sebagai bentuk kesempurnaan beramal.

Efek Domino : Mulai dari yang kecil

Penulis buku terbitan Gramedia ini memaparkan bagaimana efek domino bisa sangat berpengaruh pada masa depan seseorang. Di akhir bukunya pun mereka juga menegaskan bahwa jangan sampai hidup yang kita lalui sebelum mati ditutup dengan penyesalan karena tidak melakukan apa yang seharusnya diprioritaskan puluhan tahun yang lalu. Hal ini ternyata juga sudah diajarkan dalam Islam khususnya ketika Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam berpesan yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullaah.

“Bersemangatlah atas segala yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allaah (agar diberi keteguhan dan sebagainya dalam menjalaninya) dan jangan melemah!

Jika sesuatu menimpamu, jangan berkata ‘seandainya saya melakukan sebaliknya’, tapi katakanlah ‘Kehendak Allaah dan Allaah berkehendak sesuai dengan kehendaknya’ karena kata ‘seandainya’ membuka pintu setan”.

Maka penulis buku menegaskan bahwa penting untuk sesegera mungkin menetapkan satu hal yang paling penting dan Anda inginkan untuk bisa kita capai di kemudian hari. Berangkat dari satu hal yang paling diidamkan di masa depan, diturunkan ke satu hal yang paling ingin dicapai di sepuluh tahun, satu hal di lima tahun, setahun, sebulan, seminggu dan satu hal yang bisa dilakukan di hari ini sekarang juga yang bisa berujung pada capaian akhir.

Dan hal ini berawal dari menemukan tujuan dari hidup kita, satu hal paling penting yang ingin kita tuju atau capai selama di dunia. Setelah mendapat satu hal yang menjadi tujuan yang ingin dicapai, barulah kita bisa dengan lebih mudah menetapkan prioritas aktifitas mana yang akan didahulukan untuk diselesaikan dan dicapai setiap harinya. Hal ini yang kemudian akan berdampak pada produktifitas yang lebih nyata dan konret serta berdampak pada satu hal yang ingin kita capai.

Tidak ada produktifitas tanpa prioritas dan tidak ada prioritas tanpa tahu tujuan.

Inilah yang beliau sering sebut dalam buku ini, efek domino, selain kata “satu hal” yang juga secara hegemonik diulang – ulang agar pembaca bisa benar – benar terbawa secara pemikiran. Pada prinsipnya penulis buku ini mencoba mengajak pembaca tidak hanya terjebak pada bias motivasi yang kadang bersifat temporal namun juga menantang pembacanya mulai dari menyentuh why, what now dan how menetapkan prioritas melalui menetapkan tujuan agar mendapat produktifitas yang maksimal melalui metode the one thing.

Epilog

Pada akhirnya, Saya merekomendasikan pembaca untuk setidaknya pernah membaca buku ini sekali seumur hidupnya terlebih sebelum memulai mengambil keputusan once a lifetime seperti memilih kampus atau karir termasuk, ehm, asmara. Satu keputusan kita hari ini sangat menentukan apa yang akan kita capai di masa mendatang dan dalam konsepsi pemikiran seorang muslim tentu hal yang paling diprioritaskan menjadi the one thing adalah The One, Allaah Yang Maha Esa khususnya ridho-Nya sebagai bentuk syukur kita.

Buku yang awalnya direkomendasikan oleh sahabat saya, (calon) Ustadz Affan Basyaib al hafidz dengan judul bahasa arab “asy syai’ul wahid” ini saya akui mudah dibaca oleh anak muda dengan bahasa storytelling yang ringan. Data – data riset baik akademik maupun buku dikolaborasikan dengan ulasan sastra dan diperkaya dengan quotes sebagai milestone dalam setiap pembahasan bukunya memang memerlukan pembacaan yang serius. Artinya pembaca harus siap mengamalkan “fokus” sejak dari awal membaca agar dagingnya bisa disantap dengan lahap. Ilustrasi grafis yang cukup serta resume disetiap bab menjadi poin plus bagi buku setebal 300-an halaman ini agar memudahkan pembacanya menangkap pelajaran. Pun tidak jarang saya teringat dengan ajaran – ajaran Islam ketika berselancar menikmati gelombang ombak yang dibawakan oleh buku ini. Akhirnya semoga kita semua khususnya saya bisa mengambil pelajaran untuk diamalkan dari buku ini dalam mencapai the one thing dalam hidup kita. (dan semoga menjadi amal jariyah bagi sahabat saya yang telah merekomendasikan)

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. “

~Terjemah Surat Ar Rad ayat 11

Judul : The One Thing, Kekuatan Fokus untuk Mendorong Produktifitas

Penulis : Gery Keller dan Jay Papasan

Penerbit : Gramedia Media

Tahun Cetakan : 2017

Tebal : 306 Halaman

Nilai : Rugi ga baca!

Komentar Anda