Somasi Para Pengangguran!

pirates-of-the-caribbean-dead-men-tell-no-tales-trailer-0Pada era yang serba kompetitif hari ini, siapa yang tidak mendamba pekerjaan yang nyaman dan aman sebut saja pegawai. Hal ini yang menjadi salah satu alasan besar mengapa sektor publik khususnya Aparat Pegawai Negara alias Pegawai Negeri Sipil menjadi primadona di kalangan generasi muda. Selain desakan orang tua mereka yang tumbuh hidup berkembang di era Orde Baru yang gegap gempita dengan ideologi pembangunan, alasannya juga adalah adanya “jaminan” hari tua.

Status. Ya, itu juga menjadi hal yang menggoda agar ketika ditanya oleh sahabatnya atau kerabat apa kerjanya, dengan busung dada bisa menjawab.

Pada dasarnya sah – sah saja dan wajar jika seseorang mendamba pekerjaan layak, nyaman dan aman. Akan tetapi hal ini menjadi berbahaya jika perspektif ini dipakai untuk menjustifikasi sektor pekerjaan lain lebih rendah.

Pengangguran, ya, ini juga menjadi momok “menakutkan” bagi anak muda itu sembari memandang rendah mereka yang “kerja”nya tidak jelas.

Dan bagi sebagian kalangan, selain PNS itu tidak jelas dan tidak jelas identik dengan “pengangguran” alias menganggur.

Tepatkah?

Apa itu Pengangguran dan Menganggur?

Sebagai sarjana hukum, saya mencoba menelisik definisi dari aturan mengingat definisi tersebut mengikat secara nasional. Akan tetapi sejauh saya mencari di Google dengan kata kunci ” definisi hukum pengangguran” atau sejenisnya, saya tidak menemukannya tertulis dalam peraturan perundang – undangan apapun. (dan jika pembaca menemukannya, alangkah sangat membantu saya). Artinya hukum Indonesia tidak peduli dengan urusan pengangguran karena yang penting bagi negara adalah mengatur tenaga kerja.

Adapun secara bahasa saya menggunakan standar Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mendefinisikan “pengangguran” yang berakar dari kata “anggur” adalah tidak melakukan apa-apa; tidak bekerja.

Bahasa Indonesia secara halus menegaskan bahwa pengangguran adalah mereka yang tidak melakukan apa – apa atau tidak bekerja.

Dan definisi “bekerja” yang berakar dari “kerja” adalah melakukan suatu pekerjaan (perbuatan); berbuat sesuatu.

Jadi, in my opinion dari definisi bahasa selama seseorang melakukan sesuatu atau bekerja maka dia tidak termasuk pengangguran. Sekali lagi ini adalah definisi simplifikasi secara bahasa Indonesia dari KBBI dan saya tidak menggunakan definisi ekonomi mengingat hal ini sangat bergantung perspektif pendekatan ekonomi masing – masing yang bisa mengakibatkan perbedaan definisi atas sesuatu.

Maka bagi saya berdasar ulasan diatas, Ustadz meski dibayar se-ikhlas-nya hasil mengajar TPQ, bukan pengangguran karena dia do something. Advokat yang kadang dapat klien dan seringnya tidak juga bukan pengangguran karena dia do something.

Youtuber dan Selebgram, meski di NPWP mencatatkan diri sebagai “mahasiswa” juga bukan pengangguran karena mereka juga bekerja, they do something.

Dan ya, seringkali kata “menganggur” juga menjadi momok, bahan bullying dan senjata untuk menyematkan bahwa seseorang itu hidupnya tidak jelas (kamu jahat!)

Kemudian, bagaimana kata menganggur atau pengangguran ini sendiri lahir?

Mari kita melihat perspektif bahasa lain, bahasa Inggris.

 

Genealogi Pengangguran

Pengangguran yang berasal dari aktifitas menganggur yang kemudian dialihbahasakan menjadi unemployed menurut kamus Mirriam-Webster, salah satu rujukan terpercaya dalam bahasa Inggris mendefinisikannya not being used, not engaged in a gainful occupation, not invested

Yang secara makna poin-nya ada pada “pemberdayaan”

Hal yang unik adalah menurut kamus tersebut, kata unemployed ini lahir pada abad ke-15. Apa yang terjadi di masa itu, di masa abad ke-15?

Abad ke-15 masih termasuk dalam the dark ages bagi eropa, dan yang menarik “adalah Kings were doing what kings had been doing for ages: pursuing wealth, territorial expansion and control over people. This year Christopher Columbus – an agent for Ferdinand and Isabella – begins using people of the Caribbean as slaves.”1

Hal ini bisa berarti adanya relasi lahirnya status menganggur erat kaitannya dengan upaya peningkatan kesejahteraan kerajaan dan mulai maraknya perbudakan sebagai salah satu alternatif pekerjaan di eropa.

Kemudian status “menganggur” dan “pengangguran” semakin kuat pasca industrialisasi dengan kebutuhannya akan buruh tenaga kerja yang mereka menukar waktunya kepada pemilik modal untuk menjalankan roda industri.

Hal inilah yang kemudian semakin lama dipahami bahwa mereka yang bekerja keluar dari jam sekian sampai sekian adalah pekerja, sementara yang jamnya tidak jelas tidak termasuk pekerja dan bisa jadi termasuk pengangguran. Inilah sejarah singkat istilah pengangguran yang memiliki genealogi barat di era kegelapannya dan diperkuat dengan perspektif kapitalis tentang pekerjaan.

 

Tentang Materialisme

Diperparah lagi dengan mindset materialistik yang memaknai dunia hanya sebagai tempat mencari makan dan menumpuk harta benda sehingga standar kesuksesan dan “kejelasan” hidup seseorang didapat dari berapa banyak harta yang ditumpuknya.

90614540-4812-4563-95A3-B00C5EB57F94

Inilah yang menjadi berbahaya dan harus diwaspadai agar tidak meresap kedalam sanubari seseorang apalagi mereka yang merasa beriman dengan Allaah dan rasul-Nya. Sudah terlampau banyak ayat dan hadits memperingatkan akan bahaya materialisme sebagai ideologi alias menganggap sukses hanya dari dzahir dan lahirnya saja.

“Sesungguhnya Allaah tidak melihat rupa – rupa kalian dan harta – harta kalian, tetapi Allaah melihat amal – amal kalian dan hati – hati kalian”

Sekiranya terjemahan dari hadits diatas sudah cukup menasihati bahwa esensi dari dunia tidak berhenti dari sejauh mana capaian lahiriah seseorang namun juga untuk apa capaian itu digunakan.

Alangkah sayangnya jika mendapat harta namun tidak digunakan untuk kebaikan termasuk mendapat jabatan namun tak amanah.

Mendaftar PNS hanya sebagai gagah – gagahan kemudian jika diterima lupa kalau dia hanya abdi yang wajib mencium sepatu mereka yang membiayai hidupnya, rakyat.

Belum termasuk yang korupsi waktu, korupsi aset negara yang seharusnya untuk dinas namun untuk plesiran, penyalahgunaan jabatan dan semacamnya.

Jika masuk PNS seperti itu, maka lebih baik jadi “pengangguran” saja daripada menjadi beban bangsa ini (termasuk rakyat yang merelakan hartanya dipajakin terus buat nggaji mereka).

IMO, Jadi PNS itu harus orang terbaik, idealis dan amanah jika ingin gerigi berjalannya negara ini bisa baik. Seharusnya.

 

Epilog

Sejauh pemahaman saya soal sektor pekerjaan yakni sektor publik, privat dan alternatif, maka tidaklah bijak jika SDM terbaik bangsa ini hanya dipusatkan pada satu sektor atau sebagiannya saja. Biasanya terfokus di sektor publik (PNS) dan privat (Perusahaan swasta).

Hal ini akan berakibat pada sektor lain yang terlupakan dan diisi pos tersebut dengan orang – orang buangan alias KW yang “terpaksa” berkecimpung disektor tersebut.

Maka, sudah tidak selayaknya lagi istilah “pengangguran” disematkan bagi mereka yang tidak berstatus PNS/APN karena jika hanya pekerjaan ini saja yang bukan termasuk menganggur, maka lebih dari 255 juta orang di Indonesia ini adalah pengangguran bung, dan dari mereka juga PNS bisa makan dan menabung untuk leha – leha kala pensiun!

Dan kalau pengangguran dituduh sebagai sampah masyarakat, tidak jelas hidupnya, beban bangsa, maka berhati -hatilah karena penuduh berhadapan dengan do’a dan munajat manusia sebanyak 255 juta (termasuk ustadz)!

Maka,

Berbanggalah wahai “penganggur”! karena kita adalah mayoritas dan penggerak bangsa ini!

Dan bagi yang kelak diterima (atau sudah) sebagai PNS/APN, camkan amanah (baik waktu maupun jabatan) yang kalian emban karena akan dimintai pertanggungjawaban.

Wallaahu a’lam.

Komentar Anda