Paradox Perdamaian : Refleksi Keputusan Trump atas Yerusalem

Dunia Internasional bergejolak. Perdamaian Timur Tengah yang pasang surut seakan kembali bergemuruh pasca Presiden AS Donald Trump menegaskan akan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem sebagaimana dilansir dalam akun sosmed resmi-nya. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan berpindahnya bangunan bernama kedutaan melainkan ada aspek lain yang terdampak, keberpihakan AS.

AS selama ini mulai dari era Bush yang getol menggempur Iraq hingga Obama dengan gaya diplomatisnya belum berani memindahkan kedutaannya ke Yerusalem meski secara yuridis sudah ada aturan yang memerintahkan. Hal ini disebabkan geopolitik yang ada di Timur Tengah begitu pelik dan rentan dengan sentimen sekecil apapun. Hal ini juga wajar mengingat slogan AS sebagai “polisi dunia” maupun “mediator konflik” yang menuntut mereka untuk berhati – hati dalam bersikap.

Akan tetapi semua berubah ketika Trump dengan janji kampanyenya yang akan menjadikan Yerusalem kota-nya Israel terpilih menjadi Presiden AS. AS yang dibawah nahkoda Trump dipandang memegang kebijakan proteksionisme ketat ini ternyata cukup berani bermain api dengan keputusan pemindahan kedutaan tersebut. Hal ini bisa jadi dia gunakan sebagai bentuk menguji kedigdayaan negaranya sebagaimana slogan kampanyenya, “Make America Great Again” (?). Trump serius menantang dunia dengan tindakan ini.

Alasan terbesar mengapa Trump melakukan ini besar probabilitasnya karena dukungan yahudi pada kompetisi kepresidenan. Hal ini yang tentu menghasilkan politik balas budi nan transaksional dari Trump setelah terpilih dan ini juga konsekuensi logis dari politik a’la demokrasi, suara rakyat (baca : pendukung terutamanya investor) adalah segalanya.

Selain itu, dalam rilisnya Trump menyatakan bahwa apa yang dilakukannya tidak mempengaruhi netralitas dalam upaya moderasi konflik Israel – Palestina. Pun dia menyatakan bahwa hal ini, yakni pemindahan kedutaan adalah cara baru pendekatan perdamaian. Logika seorang pengusaha yang nampaknya belum hilang darinya, berani ambil risiko dengan cara baru.

Maka dari itu, perdamaian perspektif Trump yang berlatar belakang pengusaha kelas dunia ini layak untuk dijadikan pertimbangan bagi kalangan yang akan melawan keputusan ini. Perdamaian menurut seorang idealis tentu berbeda dengan pragmatis. Pertanyaannya adalah, apakah perdamaian bisa dicapai jika perspektifnya tentang “damai” saja berbeda?

Atau yang dimaksud Trump sebagai perdamaian adalah “Rest in Peace” yang bisa jadi dimaknai sebagai kode untuk menyulut kembali kobaran pertempuran dunia yang ketiga dan AS (dan sekutunya) akan “mengistirahatkan” lawan-lawannya?

Semoga tidak.

trump-just-made-a-historic-visit-to-a-holy-site-in-jerusalem

Sumber Gambar : businessinsider.com

Komentar Anda