Yuk Belajar Organisasi dari Sel!

cell

Seringkali hal – hal besar tersimpan dalam hal yang kita anggap remeh. Ya, kalimat tersebut seakan menjadi sangat relevan jika dihayati dengan mendalam. Bagaimana proses berjalannya kehidupan kita sebagai seorang manusia begitu cepatnya berlalu hingga suatu saat kita teringat dan mengenang momen yang bisa jadi kita remehkan dahulu kala. Well, memang manusiawi jika seseorang sering menyesali hal yang remeh dan ternyata a contrario.

Termasuk dalam memaknai kepemimpinan khususnya berorganisasi.

Saya mengaitkan antara kepemimpinan dengan organisasi karena hal ini ternyata berbanding lurus,

Artinya kapasitas kepemimpinan seseorang bisa dilihat dari kemampuan organisasi-nya baik dalam lingkup personal maupun komunal.

Tentu saya tidak menutup mata bahwa ada insan yang memiliki kapasitas tinggi dalam mengorganisir diri dengan sangat luar biasa namun a contrario ketika dia diserahi kepercayaan mengelola orang banyak.

Pun saya juga memiliki contoh konkrit turunan nabi Adam yang memiliki kapasitas mengorganisir massa yang masif namun secara personal tidak se-magnificent kemampuan publiknya.

Atau ada juga handai tolan yang memiliki kapasitas bagus dikeduanya maupun vice versa yang acakadut baik secara personal atau komunal.

Saya pribadi juga dalam taraf masih belajar mengembangkan kapasitas baik mengorganisir personal dan komunal dari waktu ke waktu.

Hal inilah yang menjadikan saya sangat bersemangat untuk belajar dan mempraktikkan baik ilmu yang pernah dipelajari dahulu kala di bangku pendidikan formal maupun ilmu baru yang saya temui dari warkop ke warkop. Termasuk celetukan pikiran saya setelah ngohwah (baca : ngopi) malam ini.

Saya ingin belajar organisasi dari salah satu organisme hidup terkecil.

Cell.

Ya, sel, bukan sel dalam arti jeruji besi atau cell yang jadi villain-nya Goku di Dragon Ball.

Sel yang menyusun satu demi satu organ tubuh kita hingga voila jadilah seorang manusia;

Sel yang membangun satu demi satu bagian dari tanaman hingga voila jadilah padi yang kita makan saban hari;

Sel yang merangkai satu demi satu partisi dari daging ayam yang mungkin kau jadikan lunch kemarin.

Sel, yang bisa jadi kau garuk dari kulitmu,

Kita akan mengambil pelajaran dari bagian terkecil dari diri kita.

Pertanyaan pertama adalah,

Apa itu Sel?

Dari pelbagai sumber dan referensi, saya mencoba mengambil dari yang bisa diterima secara umum (karena definisi pakar hukum dengan pakar fisika bisa jadi berbeda).

Sel (Cell) menurut kamus Oxford :

The smallest structural and functional unit of an organism, which is typically microscopic and consists of cytoplasm and a nucleus enclosed in a membrane.

Yang saya terjemahkan bebas berarti,

Unit struktural dan fungsional terkecil dari sebuah organisme, memiliki ke-khas-an sangat kecil dan terdiri dari sitoplasma dan nukleus yang terbalut di dalam membran. (bisa berbeda dengan definisi lain tentu saja seperti adanya unsur mitokondria)

Berdasarkan definisi oxford tersebut, setidaknya terdapat dua pelajaran penting tentang organisasi, apa saja?

basiccell

Pertama,

Sekecil – kecilnya unit organisme tetap memerlukan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang jelas. Hal ini bisa kita lihat dari struktur sel yang setidaknya ada tiga yakni sitoplasma, nukleus dan membran. Setiap struktur memiliki fungsi masing – masing dan bekerja sesuai apa yang menjadi “jati diri”. Alangkah anomali jika sitoplasma tiba – tiba mengambil alih kerja nukleus atau ujug – ujug membran kabur dan membentuk diri menjadi nukleus.

Sel memiliki kerja internal yang harmonis, terstruktur dan fungsional sesuai dengan prinsip – prinsip biologis alias sunnatullah.

Hal inilah yang sangat aneh jika ada organisasi yang tidak memiliki struktur dan fungsi yang jelas, siapa “nukleus”-nya, siapa “sitoplasma”-nya maupun yang berperan sebagai “membran” yang berurusan dengan pihak eksternal.

Sepengetahuan saya yang dangkal, organisasi baik yang sifatnya komersil, sosial hingga politis pasti memiliki struktur dan fungsi yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini selain memberikan kepastian tanggung jawab juga menawarkan perlindungan kepada personal organisasi jika ada konflik di suatu saat entah ketika ada tumpang tindih atau malah kekosongan fungsi.

Tidak ada organisasi yang sukses dan memiliki implikasi positif tanpa didasari pembagian struktur dan fungsi yang clear, walau sekedar menentukan koordinator-kah, CEO-kah, atau penanggungjawab. Sejauh pembacaan saya tentang organisasi yang berdampak di dunia, selalu ada Pemimpin dan yang dipimpin dengan struktur dan fungsi yang jelas.

Atau Anda bisa membuktikan sebaliknya? bahwa ada organisasi sukses tanpa ada struktur dan organisasi yang jelas?

Hal inilah yang ternyata juga diajarkan di dalam Islam sebut saja ibadah komunal seperti sholat. Tidak disebut sholat berjama’ah alias sholat bersama – sama alias sholat terorganisir tanpa adanya Imam beserta hak dan kewajibannya maupun makmum beserta hak dan kewajiban yang melekat. Karena kalau tidak ada struktur dan fungsi Imam dalam sholat, saya membahasakannya bukan sebagai jama’ah orang yang sholat, tetapi gerombolan orang yang sedang sholat.

Karena jama’ah itu rapih, jelas hak dan kewajibannya, dimana posisinya dan apa tanggung jawabnya, sebagaimana termaktub dalam awal surat ash shoff, bahwa Allaah mencintai orang yang berjuang secara rapih, profesional.

Bahkan, ketika Imam sholat jama’ah kentut atau hal lain yang membuat batal sholatnya, maka tidak boleh terjadi adanya kekosongan kepemimpinan! Makmum yang ada dibelakang Imam yang telah batal tersebut harus segera maju untuk menggantikan alias menjadi khalifah. Luar biasa bukan, ajaran kepemimpinan dan organisasi dalam ajaran sholat saja.

Sejelek – jeleknya, setiap organisasi pasti memerlukan pemimpin yang secara struktural dan fungsional mampu menunjukkan tujuan hingga membagi tugas dengan adil agar organisme-nya bisa berjalan dengan baik. Sebagaimana sel memiliki inti sel (nukleus) sebagai pusat komando. [1]

Jadi, kalau organisasi yang sedang Anda geluti tidak memiliki struktur dan fungsi yang clear, lebih baik segera anda clear-kan agar lebih produktif dan berdampak, mudah komunikasinya, jelas tupoksinya, lebih terpantau capaiannya menuju visi.

Atau kalau memang masih mau dengan status quo alias PHP, atau nge-tes seberapa panjang napas juang-nya OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) itu, ya biarkan saja dan pantau saja dulu, nanti saja sleding-nya kalau udah parah gak move on-nya (apa sih).

Pelajaran yang Kedua,

Organisme besar berasal dan berawal dari organisme kecil. Paus biru (blue whale) yang konon merupakan makhluk hidup terbesar zaman now terdiri dari sel – sel yang menyokong keberlangsungan kehidupannya. Jika sel – sel paus biru itu secara masing – masing tidak berfungsi dengan baik, pasti akan mempengaruhi kualitas kehidupan hewan raksasa tersebut.

Artinya, dalam konteks hal – hal besar fenomenal yang sering menjadi impian dan harapan sekelompok orang yang “mengorganisir” diri baik secara sadar atau tidak, harus dilandasi dengan bangunan “sel” yang kuat terlebih dahulu.

Ya, aktifitas sel yang baik berbanding lurus dengan baiknya performa tubuh suatu organisme.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh praktisi kepemimpinan yang juga lulusan teknik kimia di salah satu kampus terbaik Indonesia, Bachtiar Firdaus. Beliau menuturkan tentang sel didalam bukunya, prophetic leadership, bahwa aktifitas terpenting dari sel adalah aktifitas metabolisme yang merupakan proses kimiawi dalam organisme tersebut. Aktifitas tersebut menurutnya, berasal dari kebutuhan sel akan materi dan energi yang akan digunakan untuk tetap hidup. Pun aktifitas metabolisme sel juga terpengaruh dari rangsangan atau stimulus yang akan berdampak pada kinerja internal sel tersebut. [3]

Sederhananya, baik buruknya kehidupan organisme besar benar – benar berawal dari baik buruknya aktifitas metabolisme dari organisme terkecil, yakni sel. Terpenuhinya kebutuhan dasar sel akan memperkuat aktifitas metabolisme-nya yang juga akan menjadikannya lebih “kebal” dari stimulus luar.

Hal ini juga bisa dikaitkan dalam perspektif jama’ah Islam. Kembali ke bab sholat, bahwa seringkali kita mendengarkan Imam, sebagai leader dari organisasi bernama sholat berjama’ah, mengingatkan kepada makmum-nya untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Kenapa? karena semakin lurus dan rapat (dalam kadar yang wajar, tidak sampai dempet hingga susah untuk tahiyat akhir) semakin sempurnalah ganjaran sholat berjama’ahnya. Bahkan dalam banyak riwayat hadits menerangkan seringnya Rasulullaah ‘alayhi sholatu wa salam dalam mengingatkan bahkan menindak shaf shalat berjama’ah.

Lurus dan rapatkan shafmu, wahai punggawa organisasi.

Konteks organisasi-nya adalah bagaimana organisasi tersebut baik pemimpin maupun yang dipimpin mampu menghadirkan aktifitas yang baik. Mulai dari pemimpin yang peka, tegas dan tahu aturan main sebagai leader hingga yang dipimpin memiliki kesigapan, kesiapan dan pengetahuan baik cara maupun materi untuk “mengingatkan” ketika pemimpin salah. Sebagaimana contoh-nya lagi dalam organisasi sholat, ketika Imam salah bacaan atau gerakan, maka makmum pria melakukan apa sedangkan makmum wanita ngapain. Termasuk kalau imam-nya beda madzhab atau sebaliknya menjadi imam yang makmumnya beda madzhab harus ngapain.

Berorganisasi itu perlu pengetahuan dan kebijaksanaan agar aktifitas yang dijalani bisa lebih baik dan memberikan dampak, sebagaimana telah dicontohkan para pendiri bangsa Indonesia melalui aktifitas yang terus “menghidupkan” semangat memerdekakan, hingga tauladan dari boss organisasi korporasi agar perusahaannya tetap survive di era disrupsi.

Menjaga aktifitas metabolisme organisasi merupakan hal yang tak kalah penting setelah struktur dan fungsi organisme telah lahir. Jangan sampai sel-nya sudah lahir kemudian mati dengan cepat karena tidak mampu beraktifitas yang menghidupkan. Lebih baik mati saja daripada menghabiskan jatah energi. Mubadzir bung, kan sayang…

Penutup

Manusia dikaruniai oleh Allah untuk berpikir dan membaca peristiwa (ayat kauniyah) yang ada tidak hanya diluar dirinya bahkan didalam tubuh masing – masing. Diantara hal yang bisa diambil pelajaran secara kepemimpinan khususnya berorganisasi adalah bagaimana organisme terkecil yang berperan besar dan fundamental dalam eksistensi manusia, sel, mampu memberikan tadzkirah yang prinsipil.

Mulai dari pentingnya menyusun struktur dan fungsi yang jelas dalam organisasi, ibarat sel yang memiliki unit khusus mulai dari nukleus hingga membran yang tidak tertukar perannya, tidak seperti judul sinetron anak yang tertukar (garing gan!). Pun secara konsisten serta komitmen menghidupi organisasi dengan aktifitas yang “metabolistik” agar terus hidup melampaui zaman dan berdampak progresif bagi “organisasi” yang lebih luas let say masyarakat, sebagaimana sel melalui unit internalnya terus menerus beraktifitas metabolisme selain memperkuat dari stimulus eksternal juga mempengaruhi kehidupan organisme yang lebih luas diatasnya.

So, mari terus belajar dan membaca baik ayat qauliyah maupun auat kauniyah agar potensi kemanusiaan kita benar – benar bisa optimal dengan waktu yang tak tentu kapan akan dijemput oleh maut.

Karena selama kita belajar dan beraktifitas atas pelajaran tersebut, maka kita akan terus hidup.

Wallahu a’lam.

 

Referensi

[1] https://en.oxforddictionaries.com/definition/cell

[2] https://training.seer.cancer.gov/anatomy/cells_tissues_membranes/cells/structure.html

[3] Bachtiar Firdaus, Prophetic Leadership, Pustaka Saga, Surabaya, 2016.

 

Sumber Gambar : 

Cell, Dragon Ball : https://www.eventhubs.com/moves/dragon-ball-fighterz/cell/

Ilustrasi Sel : http://www.stephsnature.com/lifescience/cytoplasm.html

Komentar Anda