Pesan Singkat buat Maba

Masa – masa di kampus merupakan fase yang kerap dinanti oleh para pemuda. Termasuk saya. Buku, cinta dan kebebasan adalah kosa kata yang menggambarkan sekelumit dunia civitas academica, entah di kampus kerjanya hanya kuliah saja atau titip absen semata. Euforia mahasiswa memang hak semua orang yang mengenyam jenjang pendidikan tinggi ini. Tak mengherankan jika Presiden Pertama Republik ini, Bung Karno berpesan kepada civitas academica;

“Universitas adalah tempat untuk memahirkan diri kita,

bukan saja di lapangan technical and managerial know how,

tetapi juga di lapangan mental, di lapangan cita-cita,

di lapangan ideologi, di lapangan pikiran.

Jangan sekali-kali universitas menjadi tempat perpecahan.

Maka, jika men-syarah apa yang diwasiatkan dari pesan beliau dalam Kuliah Umum di Unpad 1958 ini bisa kita temukan beberapa hal yang insyaaAllaah bermanfaat bagi seluruh civitas academica baik mahasiswa, alumni, tenaga pendidik hingga seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan kawah candra dimuka ini, apa saja?

  1. Pentingnya menetapkan tujuan sebagai orientasi aktifitas;
  2. Mengetahui perbekalan yang akan diperkaya selama di kampus;
  3. Mewaspadai potensi yang bisa menghambat akselerasi diri dalam dunia kampus.

Itu tadi pesan dari Bung Karno, mantan mahasiswa zaman old.

cropped-467050_10200388946824873_1504725500_o-2.jpg

Saya pun sebagai alumni kampus, yang pernah berstatus jadi mahasiswa bertahun-tahun juga punya pesan kepada adik-adik saya yang saya sarikan dari pengalaman experential pribadi dan kolega saya di zaman now.

Kenapa? Bukan (dan semoga tidak) bermaksud sok bijak dan menggurui, hanya saja saya berkeinginan keras agar Anda bisa jauh lebih baik dari saya, yang sebenarnya saya juga biasa aja sih, hehe.

First thing first, perkara tujuan.

Ya, bayangkan saja Anda ingin melakukan sebuah perjalanan, let say pendakian gunung, tetapi tidak tahu gunung apa yang mau didaki.

Anda ingin traveling tapi tak punya destinasi,

Anda ikut marathon tapi tak tahu dimana garis finish-nya,

Yang ada jika perjalanan tanpa tujuan ialah gelandangan nomaden yang hidupnya, langkahnya dan pengorbanannya terbuang sia-sia.

Maka hal ini yang harus ditemukan dan ditentukan pertama kali baik dalam kehidupan secara umum maupun secara khusus ketika beraktifitas di dunia kampus.

Start from the end.

Hal ini akan mempengaruhi banyak hal yang diantaranya adalah prioritas kegiatan Anda selama di kampus.

Sebagai contohnya saya memiliki tujuan untuk menjadi Cendekiawan Muslim di bidang Politik Islam, M Natsir salah satu role model – nya.

Maka kegiatan yang saya ikuti harus berputar pada dunia akademisi seperti perlombaan debat dan karya tulis dan dunia organisasi sebagai praktik “politik”-nya. Aktifitas seperti Lomba Debat Nasional, Lomba Karya Tulis Hukum, Artikel Islam, Badan Eksekutif Mahasiswa dan Sentra Kerohanian Islam Fakultas menjadi pilihan utama dan selebihnya bukan prioritas.

Hasilnya? Silahkan lihat di akun Linkedin saya.

Kelak pengetahuan soal tujuan juga akan mengarahkan Anda untuk memprioritaskan kegiatan mana yang harus di tahun pertama dan mana yang bisa menunggu di semester/tahun yang lain.

Know why you do that before you do it. Is it on your track?

Jadi pesan pertama saya kepada para Maba adalah ketahui dahulu Anda ingin jadi seperti apa dan siapa.

Poin kedua yang tak kalah penting setelah mengetahui tujuan adalah benar-benar memaksimalkan waktu dan potensi selama berstatus mahasiswa.

Memang perlu diakui ada perbedaan dari waktu ke waktu terlebih soal batas waktu berkuliah yang semakin sempit dan biaya yang semakin mencekik.

Akan tetapi prinsip dan nilai dari mahasiswa tetaplah sama, termasuk bekal apa saja yang bisa dieksploitasi dengan status tersebut.

Maka, setelah tahu tujuan akhir pasca-kampus (at least gambaran besarnya saja) bekal apa saja yang bisa anda eksploitasi selama jadi mahasiswa?

Setidaknya ada tiga hal yang bisa didapatkan di kampus baik secara teoretis maupun praktik dengan cost yang lebih rendah dibanding diluar kampus;

  1. Kemampuan : Pengetahuan yang “agak” mahal dan berdarah-darah bertahun-tahun apalagi kala skripsi jangan sampai nol puthul tidak berbekas, jadikan background akademik sebagai salah satu legitimasi kemampuan yang “tersertifikasi” meski di dunia nyata pasca-kampus juga tidak menjadi harga mati serta bergantng dari abgaimana Anda mengamalkan pengetahuan. inilah kenapa kemampuan Anda soal pengetahuan akademik lebih penting dari pengetahuan itu sendiri. Bagi orang hukum, IPK 3,7 tapi tidak bisa bikin Surat Kuasa Khusus adalah kehinaan dan tanda rendahnya kemampuan. Harga Anda dinilai sesuai dengan Skill.
  2. Jaringan : Kemampuan Anda jelas memerlukan ruang untuk aktualisasi dan lingkungan yang memberi rekognisi atau pengakuan bahwa Anda memang mampu. Maka diperlukanlah yang namanya jaringan agar kemampuan senantiasa terasah dan teruji secara faktual. Jaringan ini bbisa dikatakan mayoritas didapatkan dari lingkar organisasi baik formal maupun kultural. Ya, dengan masing-masing plus minusnya, lingkar organisasi baik formal dan kultural harus tetap Anda ikuti tentu dengan prioritas dan porsi yang berbeda sesuai kebutuhan (dan tujuan). Seorang mahasiswa hukum tidak akan pernah tahu bagaimana rumitnya menyusun peraturan perundang-undangan di dunia nyata kecuali dia terlibat dalam pembuatan produk hukum di organisasi kampusnya seperti AD/ART atau yang sejenis. Pun jaringan juga berkaitan langsung dengan aktualisasi kemampuan baik pasca-kampus bahkan ketika semester akhir sekalipun. Potensi keprofesian, pekerjaan bahkan asmara semakin mudah dengan memperluas jaringan sedini mungkin.
  3. Kepercayaan : Reputasi menjadi salah satu hal yang cukup vital untuk dipupuk selama di kampus. Aktifitas dari semester demi semester secara langsung menjadi rekam jejak yang kelak akan memproduksi branding seseorang yang kemudian lahirlah pandangan orang lain. Akademisi kah, politikus, aktifis, pengusaha, pemimpin menjadi reputasi yang akan ditangkap orang lain dari torehan jejak Anda di kampus. Atau sekedar menjadi mahasiswa biasa sebagaimana jutaan mahasiswa lain di Indonesia? Kepercayaan ditanam dengan kemampuan dan dipupuk dengan jaringan yang ketiganya berkaitan secara langsung satu sama lain.

Semakin tinggi kemampuan Anda ditambah semakin luas jaringan Anda maka insyaaAllaah semakin baik pula kepercayaan orang terhadap Anda.

Tentu membahas soal mahligai kampus yang bertahun-tahun menjadi sekelumit artikel jelas tidak proporsional.

Terlampau banyak hal yang bisakita diskusikan bersama sebagai bentuk transfer of knowledge yang tidak bersifat doktrinasi. Refleksi kehidupan saya (dan pengalaman kolega) selama bertahun-tahun tentu bisa menjadi gambaran secara umum bagi Maba agar bisa lebih cepat dalam berakselerasi menguatkan jati diri dan karakter positif yang harapannya juga akan memperkaya SDM terbaik bangsa ini ditengah riuh gaduh bacot netizen.

Perlu diingat, Perguruan Tinggi dengan Tri Dharma-nya sebagai jati diri civitas academica termasuk Mahasiswa (dan Alumni) yakni Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sudah selayaknya tidak menjadi pepesan kosong yang tidak diamalkan di dunia nyata dan dunia maya. Alangkah celaka jika mahasiswa apalagi sudah sarjana (lebih parah kalau sudah doktor) masih berkutat dan terjebak pada isu kerdil, termakan hoax apalagi turut serta dalam mesin produksi kebodohan massal. Masyarakat jauh lebih membutuhkan genggaman tangan hangatmu dibanding segudang sertifikat yang termaktub di CV tapi hanya digunakan untuk kegagahan pribadi semata.

Cukuplah nasihat Baginda Rasul ini cukup menjadi pengingat agar niat belajar senantiasa terjaga;

Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama  atau untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar menarik perhatian yang lainnya , maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (H.R. Tirmidzi)

Semoga catatan ini bisa menjadi sedikit pemantik bagi kita semua termasuk penulis pribadi agar terus mensyukuri amanah Allaah dengan meng-eksploitasi waktu entah di fase apapun dengan sebaik-baiknya guna kepentingan yang jauh lebih besar urusannya, memperbanyak bekal akhirat. Bukankah sebaik-baik bekal adalah ketakwaan dan diantara bentuk ketakwaan yang langgeng adalah ilmu yang bermanfaat?

Anyway, Selamat menempuh hidup baru,

Selamat berakal kritis, bertindak taktis dan bersiasat strategis!

Hidup Mahasiswa!

*NB : Pesan ini juga berlaku bagi Calon Maba, Mahasiswa tingkat apapun termasuk akhir, juga buat Alumni dan DO-an, hehe.

Komentar Anda