Ayo Sembelih dengan Ihsan!

Sebagai seorang muslim, saya terpanggil untuk ngaji, bukan sebagai bentuk mengikuti tren atau sekedar berkumpul tetapi memang kebutuhan saya untuk terus leveling up soal pemahaman beragama. Ya, sudah sejak kecil saya suka ikut pengajian minimal pas di TPQ.

Termasuk follow up yang menjadi indikator keberhasilan majelis-majelis yang saya duduki (bukan kuasai lho) adalah menambah penasaran di benak saya hingga merambah pada amalan yang salah satunya adalah membaca buku.

Ya, diantara jutaan lembar (termasuk artikel online, hihi) yang saya lewatkan pikiran untuk menikmatinya, ada satu hadits yang menarik untuk saya “tadabur”-i.
Tadabur, mengingat ini yang masih mampu dan layak saya lakukan dalam konteks agama,
Karena saya juga belum punya legitimasi untuk melakukan hal seperti menafsirkan, mensyarah atau mengambil kesimpulan hukum dari nash.

Saya bertanya kepada dua sahabat karib saya yang kebetulan menimba langsung ilmu agama di negeri para Ulama, kapasitas saya sebagai awam perkara agama memang masih dalam tataran mengambil hikmah dari peristiwa yang ada pada Al Qur-an dan As Sunnah. Maka, saya mencukupkan diri saya melalui tulisan ini sebagai bentuk memetik hikmah dalam tadabur a quo.

Tadabur saya ada pada salah satu hadits yang ditulis dalam Arba’in an Nawawi, kitab mini nan legendaris karya ‘alim madzhab Syafi’i yang masyhur melampaui zaman. Hadits yang menarik akal dan hati itu ada pada urutan ke-17 diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang berbunyi :

“إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ”

“Sesungguhnya Allaah mewajibkan ihsan (kesempurnaan, yang terbaik) pada segala sesuatu, maka jika engkau membunuh maka sempurnakanlah pembunuhannya, dan jika engkau menyembelih maka sempurnakanlah penyembelihannya, dan hendaknya diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.”

Menarik bagiku, terlebih melihat fenomena hari ini di dunia sosial baik nyata terlebih maya.

Saya membayangkan betapa mulia dan terhormatnya agama Islam-ku, hewan yang bagi kita hanya figuran dalam kehidupan kita saja begitu diperhatikan tidak hanya pas hidup namun juga pas dibunuh alias dipenggal (digorok lebih tepatnya).

Ini masih satu hadits, belum hadits lain yang mungkin pembaca yang budiman lebih hapal dari saya.

Sebagai penjagal dadakan bertahun-tahun (mungkin sudah 10 tahun), hadits ini menginspirasi saya untuk memberikan penghormatan terakhir sebaik-baiknya kepada setiap kambing dan domba diujung belatiku. Kematianmu, mbek, terhormat dan kuhormati sebagaimana Islam mengajarkanku melalui hadits ini.

Tentu ada hikmah lain yang menarik untuk saya bagi kepada pembaca,

Bukan persoalan habis ini kita akan menjumpai bulan Dzulhijjah alias bulan kurbanan, but this hadits means more in this case.
Hari – hari ini, terjadi yang namanya penyembelihan besar-besaran. Ya, kalau bahasa kerennya Genosida kalau yang dihabisi satu suku. Tidak sama tapi identik sebagaimana meja punya kaki, Anda punya kaki juga.

Uniknya, genosida ini dilakukan bukan oleh penguasa atau mereka yang memiliki legitimasi formil. Kenapa? karena yang dibantai bukan nyawa,

Tapi Kehormatan.

Penyembelihan Kehormatan Manusia

Saya tidak ambil pusing di dunia nyata meski pembantaian kehormatan ini tentu banyak terjadi disana, dan saya terlalu menyibukkan diri dengan aktifitas konkret yang padat merayap.
Saya mencukupkan mengamati fenomena penyembelihan kehormatan ini di dunia maya, baik di Facebook atau Instagram, sepengetahuan saya.

Penyembelihan kehormatan ini dilakukan dengan cara yang menurut saya sebagai penjagal hewan (dadakan) adalah dengan cara yang tidak ihsan.

Entah berlatarbelakang politis, ekonomi, agama atau apapun yang tentunya pasti ada irisan dengan kepentingan pribadinya, penyembelihan kehormatan ini dilakukan beramai-ramai tidak terkontrol tanpa memperhatikan step by step kesempurnaan menyembelih.

Seingat saya, yang saya yakin pembaca yang budiman lebih paham dan hapal dari saya, kehormatan seorang muslim itu haram bagi muslim lain.

Tapi entah kenapa, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri benar-benar kehormatan sudah menjadi objek sembelihan yang paling mudah dilakukan oleh netizen yang saya yakin mayoritas beragama Islam di KTP-nya.

Ramai-ramai akun atas nama fikrah Islam merundung (bully) seorang ustadz entah karena ketergelincirannya atau yang lain hingga keluar kata yang memang dirasa tidak pas. Postingan tersebut kemudian juga ramai-ramai di like dan share oleh pendukungnya tanpa harus memperhatikan duduk perkara atau kalau menggunakan prinsip jurnalistik cover both side.

Bagaimana mau cover both side kalau duduk dihadapan objek sembelihan ini saja sudah tidak berani. (biasanya pakai pembenaran khawatir terkena “sihir” atau buaian kata)

Kita sebagai khalayak netizen belum tahu, apakah si penjagal ini sudah “tabayun” secara baik-baik empat mata atau dua telinga (via telepon) sebelum memutuskan menggorok kehormatan sesembelihannya? Atau hanya sekedar mendengar sepenggal yang kemudian tanpa upaya mengklarifikasi dengan baik-baik seraya memberikan pembenaran atas eksekusi-nya secara publik di dunia maya?

Hal inilah, yakni penjagalan tanpa ihsan, yang tidak hanya dilakukan oleh satu dua orang atau kelompok muslim di Indonesia tapi merambat ke pelbagai khalayak bahkan yang konon sudah mencapai maqam intelektual baik dalam konteks akademisi sekuler maupun berlatar belakang Syariah.

Tidak ada cover both side, tidak ada laporan berita acara Tabayun, tidak ada ruang diskusi yang mencerdaskan suporter. Ibarat main bola, tim penjagal ini memilih main bola lebih dulu pas lapangan masih sepi dan mencetak sebanyak-banyak-nya gol ke gawang lawan seraya membawa dokumentasi “Nih gua udah ngegolin sekian, gua menang!”

Dalam konteks akademisi sekuler saja, saya sebagai alumni universitas (sementara masih strata satu, maklum masih idealis pengen nguji kemampuan di luar Indonesia), dituntut untuk benar-benar memahami duduk perkara, teliti dan tepat sasaran dalam mengulik pembahasan. Belum lagi kolega saya di fakultas joss lain seperti Kedokteran dkk yang skripsinya gila-gilaan.

Akan tetapi pola pikir akademik seperti itu seakan hilang atau mungkin memang yang melakukan penyembelihan kehormatan itu memang tidak pernah mengerjakan skripsi?
Entahlah dan bukan urusan saya apakah mereka pernah sekolah atau tidak karena orang cerdas sebenarnya juga tidak hanya dibentuk melalui skripsi.

Kembali pada penyembelihan kehormatan, hal ini tentu juga dirasakan oleh banyak kalangan entah objeknya pemegang kuasa maupun mereka yang memiliki pengaruh. Ya, pengaruh juga harus dilihat sebagai potensi datangnya kuasa politik termasuk ekonomi. Well yeah, ujung-ujungnya duit juga.

Yakinlah, semua pernah merasakan bahwa ketika kehormatannya disembelih dengan cara yang tidak baik itu tidak enak, baik ketika dirasakan atau dipikirkan. Saya sudah sering dirasan-rasan aib saya dibelakang tetapi ketika si perasan didepan saya dia tidak mengajukan klarifikasi apapun, padahal saya yang lebih tahu soal aib tersebut. Gelo sekaligus kasihan padahal dia sangat bisa melakukan prinsip jurnalistik cover both side secara langsung tanpa perantara (dan bumbunya). Kalian pasti juga pernah merasakan dirasan-rasan bukan?

Ah ya, sepengetahuan saya, membicarakan keburukan saudaranya (muslim adalah saudara bukan?) ibarat memakan bangkainya. Dimana dalilnya? Anda sudah hapal.

Maka dalam mengamati fenomena penyembelihan kehormatan ini kita harus tetap kritis mulai dari melihat apakah objek sembelihan memang layak disembelih? apakah si jagal sudah melakukan step by step rukun penyembelihan yang ihsan? kira-kira latar belakang multi dimensional apa yang menggerakkan penjagal?

Epilog

Saya melalui tadabur ini tidak berpendapat bahwa menyembelih kehormatan itu boleh atau tidak. Sekali lagi, hal ini bukan ranah saya untuk memberikan istinbath atau penarikan kesimpulan dari nash (Kecuali dalam ranah hukum sekuler, saya sudah tersertifikasi sebagai Advokat lho dan punya legitimasi memberikan istinbath ahkam sekuler, hehe).

Hal yang seharusnya kita pikirkan dan renungkan, Islam sendiri bukan agama yang melarang untuk membunuh hewan dengan dibuktikan melalui syariat Idul Kurban. Islam bersifat pertengahan alias tidak meremehkan dengan cara membantai domba dengan mendomba buta, maupun tidak berlebihan dengan melarang sama sekali konsumsi protein hewani alias menjadi vegetarian. Silahkan makan daging, tapi ada aturannya baik hewan apa saja yang halal sampai kaifiyah yang ihsan untuk mengeksekusinya.
Ini urusan dengan kambing, domba, sapi dan unta. Hewan.

Pun dalam konteks menyembelih kehormatan, bagi pihak yang berpendapat memperbolehkan menyembelih sesembelihan ini,
Saya mengajak kepada pihak semacam ini (bila mereka membaca tulisan ini tentu saja), untuk menyembelih kehormatan manusia entah karena jabatannya kah atau kekeliruannya sebagai da’i kah atau tindak tanduknya kah,
Sembelihlah secara ihsan.
Masak menyembelih hewan saja bisa ihsan, menyembelih sesuatu yang lebih tinggi derajatnya dari kambing saja tidak bisa ihsan?

Dan bagaimana cara menyembelih kehormatan manusia secara ihsan?
Saya yakin kita semua bisa mengakses rujukan baik secara verbal maupun visual dengan tema “Adab menasehati muslim”, “Adab merespon kesalahan saudaranya”, dan semacamnya yang keywords-nya : Adab, nasihat/memperbaiki kesalahan, muslim.

Sembelihlah dengan ihsan dan senangkanlah sembelihanmu.

Anda boleh sepakat untuk tidak sepakat dengan tadabur saya, itu hak kita semua sebagai insan yang merdeka.

Kalau Anda mau menyembelih saya sekalipun, tolong, sembelihlah saya dengan ihsan.
(Meski saya lebih suka menjamu kalian kalau ada waktu)

Pun kalau kalian memang tidak eneg dengan daging saya, saya memohon kepada Allaah semoga Allaah berikan makanan yang lebih baik dari bangkai daging saya.

Kambing guling masih enak, apalagi kalau dimakan bareng keluarga dan saudara.
Sepakat kan kalau yang ini?

Akhirul kalam,
Tajamkan belati Anda,
Siapkan sekat antara domba hidup dan ruang penjagalan,
Senangkanlah domba-domba calon sate dan kebuli itu,
Sudah senang, gemuk ginuk-ginuk, tidur dan hadapkan kiblat, segera eksekusi bi ihsan wa bismillaahi.
Berikan hewan itu khusnul khatimah.
Mari kita siapkan diri menyambut ‘Idul Adha, momen penyembelihan yang sesungguhnya dan menikmatinya.

Nastaghfirullaah lii wa lakum.
Wallahu ta’ala a’lam.

 

domba

Sumber :

Hadits : Kitab Arbain An Nawawi karya Imam An Nawawi

Gambar : https://janetteheffernan.blogspot.com/2010/09/is-new-zealand-lamb-kosher-or-halal.html

 

Komentar Anda