Apa itu Hukum?

Hukum merupakan salah satu kosakata yang tidak asing di telinga kita. Hal ini sangat wajar mengingat setiap fase kehidupan manusia diatur dan terikat dalam hukum. Sebut saja ketika terlahir dengan dicatat dalam Akta Kelahiran, kala dewasa mengurus KTP dan mati sekalipun ada surat keterangannya, bahkan berbentuk janin sekalipun terikat dengan hukum tertentu. Hukum ada dan mengikat bagi manusia.

Pertanyaannya adalah, apa hukum itu?

Well, untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya harus menghabiskan satu semester sendiri yang terus menerus tertancap hingga lulus namun izinkan saya mencoba menyederhanakannya agar kita semua bisa memahami hukum.

Asal Kata Hukum

Hukum sebagaimana kita ketahui merupakan kata serapan dari bahasa arab, diakui atau tidak. Hakama-yahkumu-hukman, merupakan asal muasal dalam bahasa arab yang kemudian diadopsi dalam bahasa Indonesia dan dapat dimaknai sebagai memutuskan. Teradopsinya bahasa arab pada kosa kata ini disinyalir kuat mengakar ketika Islam telah memasuki wilayah Indonesia terlebih ketika telah dilegitimasi oleh penguasa setempat entah pada abad ke-7 maupun abad ke-13. Ketetapan yang dibuat penguasa yang didasarkan oleh pemahaman hukum Islam yang kemudian mengakar dan diserap menjadi kata yang diterima secara umum. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh dan hegemoni Islam melalui kekuasaan hingga kata hukum menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam masyarakat.

Kembali pada kata hukum, yang dapat dimaknai sederhana memutuskan, tentu kata ini memiliki konsekuensi logis adanya subjek yang memutuskan, objek yang terkena atas keputusannya serta keputusan itu sendiri. Tiga unsur inilah yang setidaknya ada dalam sistem hukum dan dapat dikatakan sebagai hukum.

  1. Subjek pemutus;
  2. Keputusan; dan
  3. Objek keputusan.

Hukum secara sempit dimaknai sebagai suatu aturan atau keputusan dalam pelbagai bentuknya baik tertulis seperti Undang-Undang Dasar hingga Peraturan Daerah maupun Perjanjian Jual-Beli serta tidak tertulis seperti asas dan norma yang berlaku pada suatu wilayah. Adapun makna hukum secara luas adalah “seperangkat peraturan atau ketetapan yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang dan memiliki keberlakuan yang terikat pada pihak, waktu dan tempat tertentu.”

Hukum agar bisa diklasifikasikan sebagaimana mestinya harus memenuhi unsur tersebut yakni yang pertama adalah ditetapkan oleh suatu pihak yang berwenang untuk menetapkan aturan/ketetapan tersebut. Mengapa ini penting? karena hal ini berkaitan dengan legitimasi alias wewenang untuk menetapkan suatu aturan. Kenapa? agar tidak lahir hukum yang sewenang-wenang dan dapat dipertanggungjawabkan serta jelas pengawasannya. Bayangkan saja jika semua orang punya kewenangan membuat hukum, tentu akan terjadi konflik dan kekacauan.

Dasar legitimasi pembentukan hukum inilah yang dilandasi oleh kontrak sosial masyarakat hukum tersebut baik tertuang dalam kesepakatan/aturan tertulis seperti Undang-Undang Dasar maupun tidak tertulis laiknya keputusan monarki. Pada prinsipnya, subjek pembuat keputusan harus memiliki dasar legitimasi atas penyusunan suatu hukum. Inilah yang melahirkan definisi hukum positif atau sederhananya hukum yang ditetapkan oleh pihak yang legitimate.

Poin kedua yang harus terpenuhi dari suatu hukum adalah substansi hukum itu sendiri atau norma-norma apa yang terkandung didalamnya. Tentu pembahasan tentang substansi hukum ini memerlukan ruang tersendiri agar lebih fokus yang diulas dalam ilmu perundang-undangan.

Last but not least hukum harus diberlakukan dan mengikat pada suatu pihak, tempat dan waktu tertentu. Hal ini sebagai bentuk memberikan kepastian sekaligus perlindungan hukum bagi seluruh pihak termasuk subjek pembuat hukum. Setidaknya unsur 5W1H (What, Why, Who, When, Where, How) tertuang dalam hukum yang dibentuk dan tertuang dalam poin-poin seperti konsideran (mengingat, menimbang dan memutuskan). Hal inilah yang juga berkaitan dengan wilayah yuridiksi keberlakuan suatu hukum alias sejauh mana ia mengikat yang tentu berkaitan erat dengan sejauh mana legitimasi dari subjek pembentuk hukum tersebut.

Memang patut diakui pasti banyak definisi tentang hukum baik sebagai ilmu maupun sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat yang terus menerus berkembang,

Quot homines tot sententiae (seberapa banyak manusia sebanyak itu pula definisi) , namun semoga ulasan ini bisa sedikit mencerahkan pembaca tentang hukum.

At least memahami bahwa hukum memiliki unsur yang harus terpenuhi agar dapat dikatakan sebagai hukum dan adanya hukum positif bukan berarti ada pula hukum negatif.

Saya mereferensikan pembaca untuk mengulas buku berjudul “Pengantar Ilmu Hukum” karya Peter M. M. meski bahasanya harus diakui agak tinggi bagi orang awam namun cukup padat sebagai refleksi tentang hukum.

Bagaimana menurut Anda tentang hukum?

Apakah ada yang didiskusikan?

Feel free to comment and thank you for your attention.

Komentar Anda