Garang di Kampus, Matang di Kampung

Tak bisa dipungkiri bahwa dunia kampus memang menyenangkan dan penuh dengan cerita seru. Bagaimana tidak, jika di dimensi itu seorang mahasiswa anak orang biasa bisa bertemu dengan pejabat negara bahkan Presiden kalau sedang beruntung. Entah dengan cara konferensi, prestasi hingga aksi demonstrasi, mahasiswa tak peduli semester tua atau muda, kaya atau miskin, jurusan sains atau sosial, semua punya potensi dan peluang yang sama.

Maka hadirlah masa dimana keren itu ketika di kampus jadi aktifis yang juga aman di bangku kuliahnya. Sudah hal yang mainstream hari ini mahasiswa multitalenta yang mampu memaksimalkan IPK-nya dengan tingginya aktifismenya. Lembaga dan gerakan pun bermunculan bak jamur di musim hujan, aktifitas sosial menjadi primadona bagi mahasiswa. Terlebih jika aktifitas tersebut berpotensi untuk memuluskan jalan mereka guna mendapat beasiswa baik ketika kuliah atau lanjut S2. Jangankan yang ekstrovert, para introvert pun juga masih bisa melejit dengan prestasi riset maupun proyekan bareng dosen. Dunia kampus hari ini, begitu gemerlap, dan alangkah sayangnya jika hanya habis di bangku saja.

Pertanyaannya adalah, bagaimana dengan status mereka di kampung?

Ya, kita sadari bahwa waktu para mahasiswa ini juga terbatas di masyarakat perkampungannya baik yang domisili asli atau kosan karena banyak tersita di dunia kampus. Akan tetapi hal ini seharusnya tidak menjadi excuse bagi mahasiswa aktif untuk “nyel” meninggalkan kampung yang menjadi tempat legitimasi kewarganegaraan mereka. Celaka sekali jika kampung hanya sekedar tempat numpang tidur bahkan sekedar catat nama saja.

Maka dari itu, bagi mahasiswa yang masih aktif tercatat sebagai civitas alias belum lulus, sudah selayaknya memulai untuk membuka komunikasi positif pada masyarakat sekitarnya. Budaya sowan ke tokoh kampung seperti pengurus RT RW maupun figur kultural macam ustadz, mbah dan semacamnya bisa menjadi agenda rutinan bulanan agar tidak terkesan eksklusif. Menghadiri undangan warga baik yang bersifat religius seperti pengajian maupun sosial layaknya kerja bakti juga bisa menjadi opsi bagus untuk membaur bersama warga. Ya, untuk aktif menjadi karang taruna mungkin agak memberatkan dan lebih menantang bagi mahasiswa aktif, namun setidaknya terlibat bantu-bantu bisa menghilangkan kesan eksklusif mahasiswa.

Manunggal bersama rakyat.

Apalagi jika seseorang sudah menjadi alumni terlebih jika di kampus sangat garang di organisasi. Justru aktif di kampung bagi eks-aktifis kampus menjadi ajang pembuktian kualitas berorganisasinya di kampus dulu. Manajemen sdm, pendanaan, komunikasi politik dan hal lain menjadi hal yang sangat bisa diuji ketika berhadapan dengan masyarakat yang jauh lebih majemuk, heterogen dan multi-kepentingan.

Inilah yang seharusnya menjadi catatan bagi mahasiswa dan alumninya, untuk kembali sadar bahwa puncak Tri Dharma kampusnya, Pengabdian Masyarakat, jangan sampai muluk-muluk namun lupa pada yang terdekat, keluarga dan warga sekitar kita.

Saya yakin, mereka yang garang di kampus, bisa menjadi matang ketika berproses di kampung.

Tidak mudah untuk berorasi di hadapan 10.000 mahasiswa, namun lebih menantang lagi berpendapat di hadapan 100 warga kampung Anda.

Namun justru karena menantang itulah, sebagai bagian dari civitas academica, kita dituntut mampu beradaptasi serta “berpolitik” guna mengajak masyarakat untuk lebih baik.

Ya, motor-motor perubahan bangsa besar memang lahir di dunia intelektual, namun roda-roda yang menjalankannya ada di masyarakat kampung.

Soekarno melahirkan Marhaenisme kala di kampung, Rennaisance menggerakkan revolusi dari kelas para kampungan, Gojek menggoyang ekonomi dari profesi “kampungan”, Soeharto langgeng tiga dasawarsa dengan menghegemoni kampung, pun Rasulullaah berdakwah dari kampung ke kampung. Dari kampung lah, pondasi setiap pergerakan ditancap.

Keberanian untuk berinteraksi dan mempengaruhi rakyat di tataran elit sekalipun, tetap memerlukan akar “politik”-nya di kampung. Tanpa akar legitimatif kampung, elitis pasti capai dengan kudeta demi kudeta yang menghabiskan sumber daya mereka.

Serius, se-tinggi-tingginya elitisitas kalian entah sebagai penguasa militer, profesor, pejabat apapun, toh kalian tetap butuh dukungan masyarakat kampung tak peduli sistem negara apa yang dipakai.

Cerminan kualitas pemimpin benar-benar sesuai dengan bagaimana ia bersikap ke masyarakat.

Maka, benarlah apa yang disampaikan Maxwell,

”People may hear your words, but they feel your attitude.”

Semua orang berani bicara dan berkelakar di dunia maya, tapi apakah mereka cukup cakap mengurus bahkan sekedar terjun di dunia nyata?!

Sekali lagi, rakyat tidak butuh ijazah, sertifikat dan piala Anda, cukup senyuman, salam dan kehadiran Anda bersama mereka di Agustusan.

Konflik pandangan dan kepentingan pasti ada namun karena hal itulah kita belajar secara nyata, langsung dan berpengalaman. No pain no gain.

Sudah saatnya singa kampus bertransformasi menjadi singa kampung, tentu secara bertahap pula memulai dari bawah.

Kampung akan mematangkan ke-garang-an Anda di kampus.

Sekali lagi, tak masalah Anda hanya nampang di kerja bakti, salaman ketika syukuran agustusan, sekedar menjadi sie dokumentasi saat perlombaan, yang penting Anda ada kontribusi di lapangan. Semua berawal dari yang termudah.

Jika kemampuan komunikasi bisa dibuktikan dengan jawara LKTI, kepemimpinan terbukti dari jabatan tinggi dan kecerdasan adaptasi melalui IPK selangit,

Apa yang membuat kita tidak berani untuk membersamai perjuangan ditengah rakyat?

C741F988-0A7D-47E2-B88B-6DB1DC89EFAB.jpeg

Komentar Anda